Menuju konten utama

Kenapa Musim Hujan Datang Terlambat? El Nino Penyebabnya

Kemarau panjang dan musim hujan yang datang terlambat disebabkan fenomena El Nino. Bagaimana El Nino bekerja dan apa saja efek dominonya?

Kenapa Musim Hujan Datang Terlambat? El Nino Penyebabnya
ilustrasi kemarau. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/bar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sejumlah wilayah tak juga turun hujan selama memasuki bulan Oktober 2026. Padahal, jika mengacu siklus tahunan, musim hujan di Indonesia seharusnya terjadi selama periode Oktober hingga Maret.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di Indonesia cenderung lebih lama dan lebih kering. Hal ini terjadi karena adanya fenomena iklim bernama El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD).

“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” ujar Teuku Faisal Fathani, dikutip dari laman BMKG, Selasa (22/9).

Pemanfaatan Waduk Bili-Bili jadi lahan pertanian

Petani menanam padi di area genangan Waduk Bili-Bili yang mengering di Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Jumat (4/9/2026). ANTARA FOTO/Arnas Padda/sgd

El Nino merupakan anomali suhu permukaan laut di Samudera Pasifik di pantai barat Ekuador dan Peru yang lebih panas daripada rata-rata normalnya.

Di saat yang sama, seperti melansir laman resmi Deputi Bidang Klimatlogi BMKG, wilayah Pasifik bagian barat dan perairan Indonesia yang biasanya hangat (warm pool), kini Suhu Permukaan Laut (SPL) menjadi lebih dingin dari normalnya.

Situasi ini menjadi penyebab pertumbuhan awan menjauhi wilayah Indonesia dan bergeser ke wilayah Samudra Pasifik bagian tengah.

Musim hujan yang datang terlambat memicu sejumlah permasalahan. Area persawahan yang masih mengandalkan air hujan tak kunjung memasuki masa tanam. Tak hanya itu, kemarau panjang juga menyebabkan krisis air bersih di banyak tempat.

Mengapa El Nino Bisa Tunda Musim Hujan?

El Nino adalah fenomena iklim global periodik yang dapat memperkuat kondisi kering jika datang bersamaan dengan musim kemarau. Secara terminologi, El Nino berasal dari bahasa Spanyol, artinya “anak laki-laki”.

Nelayan Peru menggunakan istilah tersebut untuk menandai kondisi arus laut hangat di sepanjang pesisir Peru dan Ekuador yang terjadi menjelang perayaan natal. Fenomena ini disebut dengan El Nino de Navidad, yang disamakan dengan nama Kristus yang baru lahir.

Keberadaan El Nino tak lepas dari fase musim yang terjadi di Samudera Pasifik yang mencakup fase netral, fase El Nino, dan Fase La Nina. Ketiga fase berimplikasi pada sistem musim di Indonesia.

ilustrasi hujan

ilustrasi hujan. FOTO/iStockphoto

Saat Samudera Pasifik mengalami fase normal, angin berhembus ke arah barat melintasi Samudra Pasifik yang menghasilkan arus laut mengarah ke barat. Dalam istilah klimatologi, proses ini disebut sebagai Sirkulasi Walker. Salah satu tanda terjadinya fase netral adalah suhu muka laut di barat Pasifik lebih hangat dari bagian timur Pasifik.

Berikutnya adalah fase La Nina. Ketika suhu muka laut di Pasifik timur bagian tengah dan timur menjadi lebih dingin dibandingkan suhu normalnya. La Nina terjadi karena angin pasat mendorong massa air laut ke arah barat atau merubah pola Sirkulasi Walker.

Dalam siklusnya, La Nina dapat berulang dalam beberapa tahun sekali, dengan umur mencapai beberapa bulan hingga maksimal dua tahun. Fase La Nina mempengaruhi pola iklim dan cuaca global.

Sebagaimana dikutip dari Climate Early Warning System,La Nina dapat meningkatkan curah hujan berkisar 20-40% lebih di sebagian besar wilayah Indonesia.

ilustrasi hujan

ilustrasi hujan. FOTO/iStockphoto

Apabila angin pasat yang biasa berhembus dari timur ke barat melemah atau bahkan berbalik arah, maka terjadi El Nino. Pelemahan disebabka meluasnya suhu muka laut yang hangat di timur dan tengah Pasifik.

Air hangat yang bergeser ke timur menyebabkan penguapan, awan, dan awan hujan pun ikut bergeser menjauh dari Indonesia. Akibatnya, fase El Nino Indonesia mengalami penurunan curah hujan lebih dari 40%. Keberadaan El Nino memengaruhi pola hujan, suhu udara, hingga potensi cuaca ekstrem di Indonesia.

Berdasarkan pemutakhiran di Dasarian III di unggahan @infobmkg per Minggu (4/10), nilai anomali suhu permukaan laut (SPL) atau sea surface temperature (SST) di region Nino 3.4 pada periode Juli–Agustus–September (JAS) 2026 sebesar +2.70. Angka tersebut menunjukkan bahwa El Nino mengalami intensitas sangat kuat. BMKG memprediksi El Nino 2026 akan bertahan hingga awal 2027.

Efek Domino yang Disebabkan El Nino

Keberadaan El Nino yang bertemu dengan musim kemarau berdampak signifikan terhadap cuaca di Indonesia. Fenomena ini berpotensi memicu musim kemarau yang lebih kering dan panjang, sehingga diperlukan langkah antisipasi. Tak hanya itu, musim hujan datang terlambat dan cenderung lebih singkat.

Secara umum, Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kurang lebih 699 Zona Musim (ZOM) dan tersebar di seluruh wilayah. Berdasarkan data BMKG per 22 September 2026, 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08% wilayah Indonesia akan mengalami kemunduran dari rerata klimatologisnya.

Sementara itu, 11 ZOM (1,12% luas daratan) mengalami musim hujan lebih cepat dan 26 ZOM (2,15% luas daratan) memasuki musim hujan sama dengan normalnya.

Ilustrasi hujan

Biker berlari melewati hujan lebat di Jakarta, Indonesia. FOTO/iStockphoto

Mengacu hasil Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) Balai Besar MKG Wilayah II yang diperbarui pada 30 September 2026, sejumlah daerah mengalami hari tanpa hujan dengan klasifikasi kekeringan estrem, yaitu lebih dari 60 hari.

Daftar daerah mencakup Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kep. Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Kalimantan Barat. Adapun jumlah HTH terpanjang terjadi di Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, yang mencapai 151 hari.

Akibat kemarau panjang, sejumlah daerah telah menetapkan siaga kekeringan. 11 Agustus 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menetapkan Kepulauan Babel siaga kekeringan. Terutama di Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Selatan dan Belitung

"Penetapan status siaga ini untuk meningkatkan kewaspadaan pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengantisipasi kekeringan dampak musim kemarau kering tahun ini," ujar Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Kepulauan Babel, Slamet Supriyadi di Pangkalpinang, dikutip dari Antaranews Selasa, 11 Agustus 2026.

Ilustrasi hujan

Ilustrasi hujan. FOTO/iStockphoto

Selain itu, foto udara Antaranews pada Minggu (27/9/2026) menampilkan Waduk Cipancuh di Haurgeulis, Indramayu, Jawa Barat, tampak mengering. Selama ini, waduk seluas 700 hektare itu berfungsi sebagai sumber irigasi utama bagi lahan pertanian. Akibat kekeringan, kebutuhan air persawahan di lima kecamatan sekitar waduk menjadi terganggu dan menyebabkan hasil panen menurun.

Selain di Jawa Barat, debit air di Waduk Sumberkepuh, Lengkong, Nganjuk, Jawa Timur, dilihat Minggu (6/9/2026) juga turun drastis. Waduk ini menjadi nadi perairan lahan pertanian seluas 400 hektare di sekitar lokasi. Hal ini berdampak pada langsung pada gangguan fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas, hingga peningkatan potensi gagal panen akibat defisit air.

Kemarau panjang juga berdampak pada volume sumur timba mulai mengering, mata air pegunungan mengecil, sementara kebutuhan air untuk rumah tangga, pertanian, peternakan, industri, hingga pemadaman kebakaran terus meningkat.

El Nino turut memengaruhi penumpukan polusi udara di berbagai wilayah yang dapat menjadi masalah yang mengkhawatirkan. Saat kemarau, konsentrasi partikel dan polutan di udara tidak dapat diserap oleh kelembapan atmosfer. Angin dapat meniup zat berbahaya seperti sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksida (NOx) dalam jarak jauh dan melintasi perbatasan.

Sebab, berkurangnya curah hujan berarti berkurangnya proses alami yang membantu membersihkan atmosfer dari debu dan berbagai polutan lainnya. Akibatnya, polusi udara akan mengelilingi aktivitas manusia. Beberapa gangguan kesehatan yang muncul di antaranya pernapasan, influenza, DBD, hingga malaria.

Upaya penanganan kebakaran TPA Takome Ternate

Petugas Dinas Pemadam Kebakaran Kota Ternate memadamkan titik api di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kelurahan Takome, Ternate, Maluku Utara, Minggu (4/10/2026). ANTARA FOTO/Andri Saputra/wsj.

Kemarau berkepanjangan juga dapat memicu terjadi kebakaran hutan dan lahan. Saat kemarau tiba, vegetasi yang ada di sekitar hutan dan lahan kehilangan kadar air dalam jumlah masif yang menyebabkan kekeringan. Daun, rumput, dan ranting lebih mudah terbakar.

Lalu berpotensi membuat api lebih cepat merambat. Kondisi alam seperti kemarau panjang dan El Nino memang jadi faktor yang memperbesar kerentanan wilayah mengalami karhutla.

Menghadapi situasi dan kondisi demikian, koordinasi lintas sektor dan penanganan otoritas terkait perlu ditingkatkan guna memberikan jaring pengaman kepada masyarakat. Baik dari segi kesehatan, pertanian, hingga ekonomi akibat kemarau yang semakin panjang.

Baca juga artikel terkait MUSIM HUJAN atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo