Menuju konten utama

Kapan Musim Kemarau Berakhir di Tahun 2026?

BMKG memprediksi musim kemarau lebih panjang dan awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia akan datang lebih lambat.

Kapan Musim Kemarau Berakhir di Tahun 2026?
ilustrasi kemarau. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di Indonesia cenderung lebih lama dan lebih kering. Lantas, kapan musim kemarau 2026 berakhir? Simak ulasan lengkapnya.

Secara umum, Indonesia memiliki dua musim, yaitu kemarau dan penghujan. Musim hujan biasanya terjadi pada periode Oktober hingga Maret, sementara kemarau umumnya berlangsung sekitar April hingga September. Namun, tak ada waktu pasti terkait awal dan akhir musim di Indonesia.

Terbaru, BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia akan datang lebih lambat atau mundur dibandingkan kondisi rata-rata klimatologisnya. Dengan demikian, musim kemarau berumur lebih panjang.

Info Musim Kemarau Berakhir Tahun 2026

Berdasarkan hasil pengamatan BMKG dalam Pemutakhiran Juni 2026, musim kemarau di Indonesia pada tahun 2026 ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-rata normalnya. Sebab itu, masyarakat perlu mempersipakannya dengan baik termasuk dengan memastikan ketersediaan air, kondisi kesehatan, serta kebutuhan multisektor yang terdampak.

“BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode Musim Kemarau hingga pertengahan bulan Oktober,” ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dikutip dari siaran pers BMKG.

Panjangnya musim kemarau ini salah satunya dipengaruhi oleh El Nino. Secara umum, El Nino adalah fenomena iklim global pada suhu permukaan laut di Samudera Pasifik di pantai barat Ekuador dan Peru yang lebih panas daripada rata-rata normalnya.

Saat terjadi El Nino, pertumbuhan awan yang ada di wilayah Indonesia bergeser ke wilayah Samudra Pasifik bagian tengah. Akibatnya, curah hujan di Indonesia menjadi berkurang. Dalam pengamatan BMKG, puncak musim kemarau di Indonesia diprediksi terjadi pada Juli–September 2026

Puncak kemarau Juli mencakup 83 Zona Musim (ZOM) atau 12,26 persen luas daratan Indonesia. 83 ZOM ini mencakup sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian Tengah, dan Papua bagian timur

Berikutnya, puncak kemarau bulan Agustus terjadi di 369 ZOM (48,84 persen luas daratan yang mencakup Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur. Lalu sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta sebagian besar Pulau Papua.

Selanjutnya, 169 ZOM (25,41 persen luas daratan) mengalami puncak kemarau pada September 2026. Beberapa wilayah ZOM meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Pegunungan bagian tengah.

Per Selasa (22/10), BMKG menyatakan bahwa awal musim hujan periode 2026-2027 di 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08% wilayah Indonesia akan mengalami kemunduran dari rerata klimatologisnya. Hal ini disebabkan oleh fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) di samudra sekitar Indonesia berdampak pada berkurangnya curah hujan.

Berdasarkan data pemanatauan BMKG, anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 Samudra Pasifik pada akhir bulan Agustus 2026 sebesar +2,83 dengan nilai indeks ENSO periode Juli-Agustus-September (JAS) sebesar +2,63. Data ini menunjukkan bahwa El Nino terjadi sangat kuat. Sementara di Samudra Hindia, tercatat indeks IOD bulan Agustus +0,376 dan berpeluang menuju fase positif hingga akhir tahun.

“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” tegas Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dikutip dari laman BMKG, Selasa (22/9).

Dalam analisis tersebut, awal musim hujan di Indonesia terjadi tidak bersamaan. Sebagian besar wilayah baru akan mengawali musim hujan pada bulan November 2026 yang mencakup 185 ZOMatau 24,66% wilayah. Sementara, 266 ZOM atau 17,31% wilayah lainnya mengawali musim hujan pada Desember 2026. Dengan demikian, musim kemarau diperkirakan berakhir hingga Oktober 2026.

Baca juga artikel terkait MUSIM KEMARAU atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora