tirto.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat serta pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dua fase risiko bencana sekaligus, yakni potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih mengintai pada September-Oktober 2026, serta potensi bencana hidrometeorologi basah begitu musim hujan mulai tiba pada November-Desember 2026.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, memaparkan sejumlah rekomendasi kesiapsiagaan menghadapi transisi musim ini dalam sektor kebencanaan, di tengah prediksi mundurnya awal musim hujan 2026/2027 akibat pengaruh El Nino kategori sangat kuat.
"Tetap waspada dengan kekeringan dan karhutla terutama pada September-Oktober akibat mundurnya awal musim hujan serta mengoptimalkan sistem drainase dan kesiapan evakuasi mengantisipasi bencana banjir dan longsor pada awal dan puncak musim hujan," kata Ardhasena dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, sebelumnya menjelaskan, sebagian besar wilayah Indonesia baru akan memasuki musim hujan pada November 2026, yakni di 185 zona musim atau 24,66 persen luas daratan, dan berlanjut ke Desember 2026 di 266 zona musim atau 17,31 persen luas daratan. Dengan kata lain, sebagian besar daerah masih akan menghadapi masa kering lebih panjang sebelum akhirnya memasuki masa transisi menuju musim hujan yang justru membawa risiko bencana jenis lain.
"Namun demikian, bersama datangnya musim hujan, risiko bencana hidrometeorologi basah juga meningkat. Karena itu kami berharap informasi ini dapat diterjemahkan menjadi strategi adaptasi dan langkah antisipasi yang konkret," ujar Faisal.
Selain sektor kebencanaan, Ardhasena turut memaparkan rekomendasi di sektor lingkungan dan kesehatan yang relevan dengan masa peralihan musim ini. Di sektor lingkungan, ia mendorong penyiapan mekanisme respons atas kondisi kualitas udara buruk yang berkepanjangan akibat mundurnya awal musim hujan, serta optimalisasi sirkulasi udara ruangan untuk menurunkan kelembapan saat musim hujan tiba.
"Menyiapkan mekanisme respons atas kondisi kualitas udara buruk yang berkepanjangan akibat mundurnya awal musim hujan serta mengoptimalkan sirkulasi udara ruangan untuk menurunkan kelembapan saat musim hujan," katanya.
Di sektor kesehatan, Ardhasena merekomendasikan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan larvasidasi, serta penyiapan fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi lonjakan kasus demam berdarah dan penyakit lain akibat genangan pascahujan atau banjir begitu musim hujan mulai berlangsung.
"Melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk dan larvasidasi serta menyiapkan fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi lonjakan kasus demam berdarah serta penyakit akibat genangan pasca hujan/banjir," ujarnya.
BMKG memproyeksikan puncak musim hujan 2026/2027 akan terjadi secara bergelombang mulai Desember 2026 di 155 zona musim atau 36,94 persen luas daratan, yang mencakup sebagian besar Sumatra, Kalimantan, hingga sebagian wilayah Sulawesi dan Papua. Dengan rentang waktu yang berdekatan antara masa kering panjang dan awal musim hujan, BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor agar dampak dari kedua fase risiko bencana tersebut dapat diminimalkan.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


































