Menuju konten utama

Berapa Penguatan Nilai Rupiah terhadap Dolar AS & IHSG Hari Ini?

Kurs rupiah terhadap dolar AS mengalami penguatan hari ini. Begitu pula, nilai IHSG hari ini menguat dan dibuka pada level 6.210,42.

Berapa Penguatan Nilai Rupiah terhadap Dolar AS & IHSG Hari Ini?
Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (24/4/2026). IHSG pada Jumat (24/4) ditutup melemah 249,12 poin atau 3,38 persen ke posisi 7.129,49, sementara indeks LQ45 turun 25,12 poin atau 3,51 persen ke posisi 690,76. ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada pembukaan perdagangan Rabu (7/10/2026). Rupiah dibuka di level Rp17.866 per dolar AS. IHSG juga masih mempertahankan tren penguatan hari ini.

Rupiah pagi ini menguat 33 poin atau 0,18 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level Rp17.899 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai penguatan rupiah tidak terlepas dari semakin kecilnya potensi kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Fed.

Menurut dia, sejumlah data ekonomi AS yang menunjukkan pelemahan, terutama dari sisi ketenagakerjaan dan inflasi, telah mengurangi kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober 2026.

Kondisi tersebut menjadi sentimen positif bagi mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah, karena ekspektasi suku bunga AS yang lebih rendah dapat mengurangi daya tarik dolar AS.

“Data ketenagakerjaan dan inflasi yang lebih lemah ini telah mengurangi kemungkinan adanya kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan tanggal 27-28 Oktober mendatang,” ucapnya dikutip Antara (6/10/2026).

Salah satu indikator yang menjadi perhatian pasar adalah data Personal Consumption Expenditures (PCE), yang merupakan salah satu ukuran inflasi yang diperhatikan oleh The Fed dalam menentukan kebijakan moneternya.

PCE Price Index tercatat berada di level 3,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Agustus 2026, lebih rendah dibandingkan konsensus atau perkiraan pasar sebesar 3,7 persen yoy.

Kondisi ekonomi AS juga menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Data nonfarm payrolls (NFP) menunjukkan penambahan hanya 29 ribu lapangan kerja pada September 2026, jauh lebih rendah dibandingkan ekspektasi ekonom.

Selain pertumbuhan lapangan kerja yang lemah, tingkat pengangguran AS juga meningkat. Tingkat pengangguran pada September 2026 mencapai 4,2 persen, naik dari 4,1 persen pada Agustus.

Kenaikan tingkat pengangguran bersamaan dengan rendahnya pertambahan lapangan kerja memberikan sinyal bahwa kondisi pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan momentum. Bagi pasar keuangan, pelemahan tersebut dapat menjadi alasan tambahan bagi The Fed untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga.

Rupiah juga mendapatkan sentimen positif dari laporan Bank Dunia mengenai prospek perekonomian Indonesia. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mencapai 5,2 persen, atau naik 0,5 poin persentase dari proyeksi sebelumnya.

Peningkatan proyeksi tersebut memberikan gambaran bahwa aktivitas ekonomi Indonesia dinilai masih memiliki fondasi yang cukup kuat meskipun menghadapi sejumlah tantangan.

“Lonjakan pertumbuhan ini mencerminkan menguatnya konsumsi swasta dan peningkatan pengeluaran publik pada pergantian tahun. Momen Ramadhan dan Idul Fitri yang datang lebih awal, pencairan THR (Tunjangan Hari Raya) dan gaji ke-13, serta percepatan peluncuran program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut berhasil menggeser pengeluaran pemerintah menjadi lebih awal dalam siklus fiskal,” papar Ibrahim.

IHSG Hari Ini Dibuka di Level 6.210,42

IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada perdagangan Rabu (7/10). Pada awal perdagangan, IHSG naik 17,49 poin atau 0,28 persen ke level 6.210,42.

Penguatan juga terjadi pada kelompok 45 saham unggulan yang tercermin melalui Indeks LQ45, yang naik 1,97 poin atau 0,32 persen ke posisi 610,13.

Pada penutupan perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026, IHSG naik 74,07 poin atau 1,21 persen menjadi 6.192,93. Indeks LQ45 menguat 4,93 poin atau 0,82 persen ke level 608,16. Penguatan IHSG tersebut sejalan dengan perkembangan positif di bursa saham kawasan Asia dan pasar global.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan bursa Asia bergerak menguat mengikuti kinerja positif Wall Street.

"Bursa Asia menguat mengikuti kinerja positif Wall Street, sementara investor mengabaikan kekhawatiran terkait tingginya imbal hasil obligasi,” jelasnya.

Salah satu sentimen yang turut menopang pergerakan saham adalah penurunan harga minyak mentah dunia. Harga minyak mengalami tekanan seiring meningkatnya pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Bertambahnya pasokan dapat meredakan kekhawatiran terhadap tekanan biaya energi dan inflasi global, sehingga turut memberikan ruang bagi pasar saham untuk bergerak lebih positif. Sentimen dari pasar global tersebut kemudian ikut memengaruhi optimisme investor di bursa saham Indonesia.

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari langkah pemerintah meningkatkan penyaluran bantuan sosial untuk menopang daya beli rumah tangga menjelang akhir 2026. Kebijakan tersebut diharapkan dapat menjaga konsumsi masyarakat dan memberikan dukungan terhadap aktivitas perekonomian pada periode akhir tahun.

Meski demikian, penguatan IHSG dinilai masih terbatas karena investor cenderung berhati-hati menjelang keluarnya sejumlah indikator ekonomi domestik penting pada pekan tersebut.

Beberapa data yang menjadi perhatian pasar antara lain cadangan devisa Indonesia September 2026 serta Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). Data-data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kondisi eksternal dan tingkat optimisme masyarakat terhadap perekonomian, sehingga berpotensi memengaruhi keputusan investasi di pasar saham.

Selain itu, kondisi inflasi pangan juga menjadi perhatian. Nico mengatakan harga pangan masih menghadapi tekanan akibat gangguan panen yang dipengaruhi cuaca ekstrem, fenomena El Nino, dan sejumlah bencana lokal.

Gangguan pada produksi dan distribusi pangan berpotensi menjaga harga sejumlah komoditas tetap tinggi. Kondisi tersebut perlu dicermati investor karena inflasi pangan dapat memengaruhi daya beli masyarakat sekaligus menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam kebijakan ekonomi dan moneter.

Baca juga artikel terkait KURS RUPIAH HARI INI atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Ilham Choirul Anwar