Menuju konten utama
Tirtoeco

Menghitung Mundur Lenyapnya Salju Abadi di Papua

Hampir lenyapnya es di Nemangkawi Ninggok tak cuma indikasi krisis iklim. Itu juga tanda kita telah membiarkan ikatan spiritual masyarakat setempat lesap.

Menghitung Mundur Lenyapnya Salju Abadi di Papua
Puncak Cartenz atau Cartenz Pyramide adalah salah satu puncak yang dianggap tertinggi yang ada di pegunungan Jaya Wijaya dan merupakan puncak tertinggi di Indonesia. (FOTO/papuapegunungan.kpu.go.id)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nusantara menyimpan satu anomali geografis yang menawan: hamparan es abadi di sabuk khatulistiwa. Bersemayam di Nemangkawi Ninggok (dari bahasa suku Amungme yang berarti Puncak Panah Putih)—disebut pula Puncak Jaya, Puncak Jaya Kesuma, dan Puncak Carstensz)—gletser tersebut menduduki 4.884 meter di atas permukaan laut.

Namun, eksistensi "keajaiban" geografis itu tinggal menghitung hari. Hasil pengukuran ilmiah termutakhir memproyeksikan, gletser Nemangkawi Ninggok diperkirakan lenyap tanpa sisa sekitar tahun 2030.

Ancaman lenyapnya salju abadi tersebut merupakan alarm bahwa krisis iklim global telah menjebol pertahanan alam di atap rumah kita sendiri.

Mengapa Es Tropis Nemangkawi Ninggok Begitu Sensitif

Kerentanan itu bermuara pada karakter ekosistemnya: gletser tropis memiliki tingkat kerapuhan ekstrem. Berada di lingkungan khatulistiwa yang nyaris tanpa fluktuasi suhu musiman, massa es di Nemangkawi Ninggok tidak memiliki mekanisme perlindungan alami dan terpaksa merespons setiap gejolak iklim mikro secara langsung.

Kerentanan itu kian berlipat ganda karena pemanasan di dataran tinggi mengalami amplifikasi vertikal, yang dalam istilah ilmiah disebut Elevation-Dependent Warming (EDW). Pakar iklim Lonnie G. Thompson dan kolega mengupas mekanisme itu dalam riset bertajuk "Tropical glaciers, recorders and indicators of climate change, are disappearing globally" (2011: 23).

Mereka memaparkan, model iklim global memprediksi kenaikan suhu di elevasi tinggi kawasan tropis berlangsung dua kali lebih cepat dibandingkan pemanasan di dataran rendah.

Karakteristik itulah yang menempatkan gletser tropis layaknya peringatan dini, yang bereaksi paling awal terhadap laju pemanasan global. Indikasi kepunahan itu pun sudah terekam sejak puluhan tahun silam.

Rekonstruksi data historis oleh David Ibel dkk., dalam publikasi jurnal The Cryosphere Volume 19, issue 12 (2025), menunjukkan bahwa pada era pra-industri sekitar 1850-an, luasan gletser di Nemangkawi Ninggok masih membentang seluas 19,3 kilometer persegi.

Laju kemunduran terjadi terus-menerus setelahnya dan terekam jelas dalam kompilasi riset Andrew G. Klein dan Joni L. Kincaid, "Retreat of glaciers on Puncak Jaya, Irian Jaya, determined from 2000 and 2002 IKONOS satellite images" (2006: 72).

Ekspedisi yang dilakukan pada 1936 mendokumentasikan luasan es telah menyusut menjadi 13 kilometer persegi. Memasuki awal 1970-an, dua peneliti tersebut mencatat dari hasil pemetaan terestris bahwa area gletser kembali tergerus hingga tersisa 7,3 kilometer persegi pada 1972. Dua tahun berselang, 1974, hamparan itu menyusut lagi menjadi 6,4 kilometer persegi.

Titik nadir penyusutan itu tampak dalam dua dekade terakhir. Melalui analisis citra satelit PlanetScope dan Pléiades, ditemukan bahwa luasan gletser Nemangkawi Ninggok pada 2018 hanya tersisa 0,468 kilometer persegi. Angka tersebut terus merosot tajam menjadi 0,214 kilometer persegi pada 2023, dan memijakkan sisa seluas 0,165 kilometer persegi pada 2024.

Secara matematis, Ibel dkk. (2025: 6633–6634) menegaskan bahwa gletser Nemangkawi Ninggok telah kehilangan lebih dari 99 persen luasannya sejak 1850. Sisa es hari ini hanyalah fragmen-fragmen rapuh di titik elevasi puncak.

Puncak Cartenz

Puncak Cartenz atau Cartenz Pyramide adalah salah satu puncak yang dianggap tertinggi yang ada di pegunungan Jaya Wijaya dan merupakan puncak tertinggi di Indonesia. FOTO/iStockphoto

Tiga Pelatuk Akhir Pencairan Es Tropis

Angka-angka penyusutan drastis tersebut bermuara pada sebuah pertanyaan: mekanisme apa yang menggerus es abadi tersebut secara masif di era modern?

Secara saintifik, kematian salju di Nemangkawi Ninggok dipercepat oleh tiga faktor penekan yang saling mengamplifikasi.

Faktor pertama adalah pergeseran batas beku atmosfer ke elevasi yang lebih tinggi. Berdasarkan temuan riset yang dirujuk oleh Ibel dkk. (2025: 6634), antara 1972 dan 2000, suhu udara di ketinggian posisi gletser—sekitar 5.000 meter di atas permukaan laut, atau setara 500 hektopaskal—mengalami kenaikan sekitar 1 derajat celsius.

Perubahan itu menciptakan transisi fatal, yakni presipitasi, proses jatuhnya air dari atmosfer, yang sebelumnya berwujud salju beku pelindung, kini lebih sering turun dalam bentuk curahan hujan air hangat. Hal itu secara perlahan mengikis massa es secara konstan—bagai menyiram air ke balok es (Thompson dkk., 2011: 31).

Tekanan tersebut diperparah oleh faktor kedua, yakni efek umpan balik albedo (albedo feedback effect). Thompson memaparkan, secara alamiah, hamparan salju dan es berfungsi sebagai pemantul panas dari atmosfer sehingga permukaan bumi di kawasan tersebut tetap dingin. Namun, ketika selimut es menipis, batuan berwarna hitam di dasar gletser perlahan tersingkap ke udara terbuka. Batuan tersebut tidak memantulkan panas, tapi justru menyerap panas radiasi matahari jauh lebih cepat karena tingkat albedo yang rendah. Batuan tersebut menjerat panas layaknya pakaian hitam pekat yang kita kenakan di bawah terik matahari, lalu memanggang sisa gletser bagian dasar dan samping secara masif.

Sebagai "pelengkap kehancuran", faktor ketiga datang dari hantaman variabilitas iklim regional, khususnya El Niño Southern Oscillation (ENSO) di kawasan Kolam Hangat Pasifik. Thompson mencatat, siklus El Niño selalu membawa dampak lonjakan suhu ekstrem sekaligus menekan angka curah hujan. Hantaman suhu ekstrem dari anomali iklim Pasifik secara masif mencairkan kubah es Nemangkawi.

Ketika Krisis Iklim Merenggut Identitas Lokal

Dampak dari runtuhnya pertahanan fisik gletser melampaui batas-batas ekologi. Hilangnya es Nemangkawi Ninggok turut merenggut ruang hidup masyarakat adat Papua di Nemangkawi, tempat gletser dan pegunungan tinggi dijaga sebagai panggung kosmologi yang sakral.

Dilansir oleh Scientific American, Lonnie Thompson mengisahkan bahwa masyarakat lokal memandang hamparan es dan puncak pegunungan sebagai bagian utuh dari wujud Sang Pencipta. Bagi mereka, es di Nemangkawi Ninggok diibaratkan sebagai tengkorak dewa, sementara jajaran pegunungan adalah lengan dan kaki yang menopangnya. Karena pandangan tersebut, aktivitas pengeboran inti es yang dilakukan para ilmuwan sempat dipersepsikan secara getir: ibarat mengebor tengkorak untuk merampas ingatan mereka.

Selain itu, Thompson mengungkapkan bahwa dalam keyakinan kolektif masyarakat adat, manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari es itu sendiri. Ketika es tersebut lenyap dari muka bumi, sebagian jiwa mereka turut mati bersama mencairnya es.

Pandangan kosmis tersebut sejalan dengan filosofi hidup masyarakat lokal. Arni Syawal dkk., dalam riset bertajuk "Ethno-conservation of New Guinea Singing Dog among Tribes in Pegunungan Tengah, Papua, Indonesia" (2023: 142–144), menjabarkan konsep Te Aro Neweak Lamo, yang memandang hutan, gunung, lembah, dan sungai sebagai satu kesatuan. Wilayah semesta tempat masyarakat hidup dan mengembara itu disebut Amungsa—sebuah ruang yang sangat dihormati.

Dalam konsep kosmologi tersebut, puncak salju abadi Jaya diposisikan sebagai Nemangkawi Ninggok atau kepala dari ibu bumi. Kawasan tersebut dijaga kesakralannya sebagai zona terlarang yang tidak dihuni sebab diyakini sebagai tempat bersemayam leluhur Jomun-Temun Nerek—roh leluhur purba masyarakat setempat.

Kelekatan emosional itu bersinggungan dengan catatan Nita Safitri melalui studi "Masalah Sosial dan Konflik Masyarakat Adat Papua dengan PT Freeport Indonesia" (2011: 30), yang menegaskan bahwa bagi masyarakat adat, tanah dan hutan merupakan entitas ibu pemberi kehidupan.

Puncak Cartenz

Puncak Cartenz atau Cartenz Pyramide adalah salah satu puncak yang dianggap tertinggi yang ada di pegunungan Jaya Wijaya dan merupakan puncak tertinggi di Indonesia. (FOTO/papuapegunungan.kpu.go.id)

Penghormatan terhadap alam tidak sebatas konsep di awang-awang. Ia mewujud dalam laku etno konservasi: pelestarian berbasis adat. Etika lingkungan masyarakat terlihat jelas dari cara empat suku di Pegunungan Tengah (Amungme, Damal, Moni, dan Dani/lani) memperlakukan satwa di dalam ekosistemnya. Mereka memegang pantangan ketat: mengharamkan siapa pun melukai, membunuh, apalagi memakan anjing bernyanyi Papua.

Tatkala batasan itu dilanggar atau terjadi gangguan fisik pada alam, para tetua adat langsung turun tangan memimpin ritual pemulihan. Mereka meletakkan persembahan berupa arang, garam, dan anggrek dataran tinggi di altar adat (para-para) sebagai wujud tanggung jawab moral meredakan ketegangan dan memulihkan keseimbangan kosmis. Demikian sebagaimana digambarkan oleh Syawal dkk., dalam studinya (2023: 140–144).

Secara ekologis, laku pelestarian alam tersebut—merawat ekosistem hutan dan melindungi rantai makanan satwa endemik—merupakan bentuk pertahanan terbaik menjaga keseimbangan iklim mikro di Pegunungan Tengah. Bagi masyarakat adat, menjaga agar bentang alam di tapak kaki mereka tetap utuh merupakan cara merawat Nemangkawi Ninggok dari kejauhan. Harmoni ekologi di daratan bawah dipercaya akan menyokong kelestarian es di puncak.

Kini hal itu berbenturan dengan kekuatan destruktif di luar jangkauan hukum adat mereka: pemanasan global akibat ulah manusia lainnya. Masyarakat Pegunungan Tengah telah menunaikan tugasnya merawat keseimbangan alam, tetapi gletser suci itu tetap meleleh akibat krisis iklim yang dipicu kerakusan emisi dunia luar.

Runtuhnya jangkar kultural beririsan langsung dengan hilangnya identitas geografis bangsa. Lenyapnya es Nemangkawi Ninggok mencabut predikat Indonesia sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang sanggup menopang gletser di garis khatulistiwa. Realitas tersebut menempatkan masyarakat hari ini pada posisi kian sempit: menjadi saksi terakhir yang berkesempatan melihat mahkota salju abadi Nusantara.

Musnahnya es di Nemangkawi Ninggok adalah bukti fisik bahwa krisis iklim perlahan menjebol pertahanan ekosistem alami. Sisa-sisa salju Papua yang kini tinggal serpihan kecil berdiri sebagai alarm peringatan. Ketika es Nemangkawi Ninggok benar-benar lenyap, kita layak berefleksi: sejauh mana kesiapan kita menahan gempuran krisis iklim supaya tidak menghancurkan sisa ruang hidup Nusantara lainnya?

Baca juga artikel terkait JAYAWIJAYA atau tulisan lainnya dari Rizqy M. Farhan

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Rizqy M. Farhan
Penulis: Rizqy M. Farhan
Editor: Fadli Nasrudin