tirto.id - “Wajar, sedang musim hujan,” pernyataan semacam ini sering kita dengar saat kawan terserang batuk atau pilek ketika musim penghujan tiba. Ujaran itu seolah jadi pembenaran sebab bagi banyak orang, batuk-pilek merupakan penyakit lumrah di musim tersebut.
Tak hanya di obrolan sehari-hari, nada serupa juga kerap muncul dalam berita atau peringatan resmi. Judul seperti “Waspada, Penyakit di Musim Hujan!” rutin dijumpai di berbagai kanal informasi, salah satu contohnya berasal dari Kementerian Kesehatan.
Bahkan di ruang puskesmas, peringatan semacam itu lebih eksplisit. Salah satunya lewat spanduk edukasi bertuliskan ajakan 3M (menguras, menutup, dan mendaur ulang) demi mencegah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit tersebut ditularkan lewat nyamuk Aedes aegypti yang kerap berkembang biak di musim penghujan.
Pola pikir itu tidak muncul tanpa alasan. Dalam benak banyak orang, setiap musim membawa penyakit khasnya sendiri. Musim hujan identik dengan diare, DBD, atau flu ringan. Sebaliknya, musim kemarau sering kali dikaitkan dengan gangguan pernapasan seperti ISPA. Penyakit-penyakit tersebut datang berulang dari tahun ke tahun, membentuk siklus teratur.
Data dari Kemenkes memperkuat hal tersebut, khususnya pada penyakit musiman yang menular seperti DBD. Secara kumulatif, selama 2023, tercatat 114.720 kasus dengan 894 kematian akibat DBD. Memasuki akhir 2024, jumlah kasus melonjak menjadi 210.644, dengan 1.239 kematian akibat DBD, tersebar di 259 kabupaten/kota di 32 provinsi di Indonesia.
Di sisi lain, wilayah penyebaran DBD juga mengalami perluasan signifikan, mencapai 482 kabupaten/kota. Hal ini menunjukkan bahwa risiko terkena DBD meluas jauh melampaui zona zonasi sebelumnya.
Eskalasi kasus DBD dalam dua tahun terakhir juga menandakan ada hal yang tidak beres. Pola penyakit musiman, yang selama ini diyakini oleh masyarakat, kini tidak lagi sama.
Batas antara musim hujan dan kemarau yang dulu jelas, kini makin kabur dan tidak menentu. Perubahan ini bukan lagi sekadar anomali cuaca sesaat, melainkan merupakan gejala dari perubahan iklim yang mengacaukan keseimbangan alam. Dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga pada penyebaran penyakit menular yang kini makin sulit diprediksi dan dikendalikan.
Penyebaran Acak Penyakit Menular
Perubahan iklim tak hanya merusak pola dinamika cuaca, tetapi juga secara perlahan mengubah pola kemunculan penyakit menular yang menjangkiti manusia. Salah satu contohnya ialah penyakit DBD yang biasanya merebak saat musim hujan. Fenomena tersebut dijelaskan dalam artikel studi berjudul “Climate Variability, Dengue Vector Abundance and Dengue Fever Cases in Dhaka, Bangladesh”.
Penelitian yang terbit di jurnal Atmosphere (2021) itu mengamati hubungan antara faktor cuaca dan peningkatan jumlah kasus DBD selama periode waktu tertentu di Bangladesh. Hasilnya menunjukkan bahwa curah hujan tinggi dan kelembapan yang meningkat secara signifikan berkontribusi pada pertumbuhan populasi nyamuk Aedes aegypti.
Namun perlu digarisbawahi, lonjakan kasus DBD tidak terjadi secara instan setelah hujan lebat. Penelitian yang digarap Sabrina Islam dan kolega mencatat adanya jeda waktu sekitar tiga hingga enam pekan antara puncak hujan dan puncak kasus DBD.
Artinya, musim hujan tidak serta-merta langsung memunculkan DBD. Ia "hanya" menciptakan kondisi lingkungan ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak secara masif.
Genangan air hujan menjadi tempat bertelur nyamuk, sementara kelembapan tinggi memperpanjang usia hidupnya. Faktor-faktor itulah yang kemudian meningkatkan kemungkinan penularan virus ke manusia.

Kini, kita berada dalam lanskap iklim yang tak lagi dapat dikenali sepenuhnya. Penyakit-penyakit yang sebelumnya identik dengan satu musim tertentu, kini muncul di luar pola yang selama ini kita kenal.
Bahkan, artikel penelitian yang terbit di jurnal Environmental Research Letters (2021) memperkirakan bahwa di masa depan, perubahan iklim berpotensi memperpanjang periode penularan demam berdarah hingga ke musim kemarau, khususnya di Bangladesh.
Para peneliti menggabungkan data iklim historis (1950–2005) dan proyeksi iklim masa depan hingga 2099. Hasilnya, pada periode 1986–2005, risiko penularan DBD tetap menunjukkan pola musiman (cyclical seasonality) yang relatif stabil. Namun, pada periode 2080–2099, risiko ini tidak hanya meningkat, tapi juga bergeser hingga ke musim kemarau.
Peningkatan risiko tersebut disebabkan oleh suhu dan kelembapan yang lebih tinggi di luar musim hujan. Artinya, penyakit DBD yang tadinya marak terjadi pada musim hujan diprediksi bisa meluas hingga sepanjang tahun.
Di sisi lain, laporan dari National Center for Emerging and Zoonotic Infectious Diseases (NCEZID) juga mengamini prediksi serupa. Dinyatakan bahwa perubahan iklim telah mengacaukan ritme musiman yang selama ini menjadi acuan dalam prediksi wabah penyakit.
Musim panas yang lebih panjang, musim dingin yang makin hangat, serta meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem, membuat pola kemunculan penyakit menjadi makin sulit dipetakan. Akibatnya, penyakit musiman seperti influenza, DBD, atau infeksi saluran pernapasan, kini tidak lagi muncul dalam pola konsisten dari tahun ke tahun.
Penyakit Menular Menjajaki Wilayah Baru
Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada waktu munculnya penyakit menular musiman. Lebih jauh, ia juga mengubah peta geografis penyebaran penyakit-penyakit tersebut. Sebuah studi dalam eBioMedicine mendukung pernyataan tersebut.
Penelitian yang digarap oleh Jing Liu-Helmersson dan kolega menjelaskan, suhu global yang terus meningkat berpotensi memperluas cakupan geografis penularan penyakit. Bahkan, risiko ini diproyeksikan menjangkau wilayah Eropa yang sebelumnya dianggap terlalu dingin untuk mendukung penularan secara berkelanjutan.
Penyebaran penyakit musiman bukan sekadar prediksi di atas kertas. Pada Oktober 2012, dunia dikejutkan oleh wabah dengue di Pulau Madeira, Portugal, wilayah yang selama ini dianggap terlalu sejuk untuk mendukung keberlangsungan hidup nyamuk Aedes aegypti. Bahkan, kejadian ini merupakan epidemi lokal pertama di Eropa sejak 1928.
Kasus di Portugal menjadi titik balik penting, menandai bahwa perubahan iklim telah membuka pintu bagi penyakit tropis untuk menembus wilayah yang sebelumnya dianggap bukan habitatnya. Perubahan iklim menciptakan kondisi baru yang memungkinkan penyakit menular dapat menjangkit di berbagai area hingga lintas benua.

Seolah mengamini studi kasus di Portugal, melalui artikel penelitian berjudul “Distribution Expansion of Dengue Vectors and Climate Change in India”, Syed Shah Areeb Hussain dan Ramesh C. Dhiman memprediksi, penyakit menular akan meluas ke wilayah yang selama ini belum pernah terjangkau sebelumnya.
Untuk kasus DBD, para peneliti di India itu memperkirakan bahwa nyamuk Aedes aegypti akan tersebar hingga ke daerah gurun Thar di Rajasthan. Bahkan, spesies lain seperti Aedes albopictus (penular penyakit demam kuning atau yellow fever) diprediksi akan menyebar hingga ke dataran tinggi Himalaya bagian utara.
Kini, makin jelas bahwa perubahan iklim bukan hanya sekadar isu lingkungan, melainkan juga masalah kesehatan, bahkan urusan nyawa. Mirisnya, kita bukan hanya korban atas perubahan iklim, tapi juga dalang yang mempercepat laju krisis ini.
Penulis: D'ajeng Rahma Kartika
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id
































