Menuju konten utama

Ricuh Hari Damai Aceh, Dudung: Ada Pihak Manfaatkan Situasi

Peringatan Hari Damai Aceh di Banda Aceh ricuh akibat pengibaran bendera Bulan Bintang. Kepala KSP Dudung sebut ada pihak menunggangi situasi.

Ricuh Hari Damai Aceh, Dudung: Ada Pihak Manfaatkan Situasi
Aparat keamanan berjaga didepan markas Kodim 0101/KBA, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026). tirto.id/Firhan
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Peringatan Hari Damai Aceh ke-21 di Kota Banda Aceh yang mulanya diisi dengan kegiatan keagamaan berujung ricuh. Pemicunya diduga akibat aksi pengibaran bendera Bulan Bintang yang berujung bentrokan massa dengan aparat penegak hukum.

Menanggapi insiden tersebut, Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman menilai ada kelompok yang sengaja menunggangi momentum tahunan tersebut untuk memicu kegaduhan, meski tak spesifik menyebut siapa yang dimaksud.

"Hari Perdamaian Aceh dilaksanakan setiap tanggal 15 Agustus. Menurut saya, ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan situasi,” ujarnya kepada Tirto, Minggu (16/8/2026).

Dudung pun mengklaim bahwa masyarakat Aceh pada umumnya tetap berkomitmen menjaga komitmen perdamaian yang telah terbangun demi mendukung keberlanjutan pembangunan di daerah.

“Rakyat Aceh secara keseluruhan menjunjung tinggi perdamaian untuk kelanjutan pembangunan bangsa Indonesia," ujar Dudung.

Adapun, kejadian berawal saat ribuan warga menghadiri agenda zikir dan doa bersama di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026) pagi. Di sela-sela kegiatan keagamaan tersebut, situasi mendadak memanas setelah sekelompok orang menurunkan bendera Indonesia dan mengibarkan bendera Bulan Bintang dalam berbagai ukuran di gapura serta tiang bendera kompleks masjid.

Bendera Bulan Bintang sendiri merupakan simbol atau lambang daerah Aceh yang ditetapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) melalui Qanun Nomor 3 Tahun 2013, meskipun belum disetujui pusat. Bendera ini secara historis dekat dengan simbol Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Salah seorang peserta doa dan zikir, M Jamil, mengaku datang dari Kabupaten Pidie Jaya untuk mengikuti kegiatan tersebut. Dirinya datang atas ajakan kalangan ulama untuk mendoakan masyarakat Aceh adil dan makmur.

"Kami mengikuti ajakan ulama untuk berdoa dan zikir bersama mendoakan perdamaian Aceh serta masyarakatnya adil dan makmur. Pengibaran bendera bulan bintang bentuk syukur kami," kata M Jamil dilansir dari Antara.

Namun, situasi di lapangan dengan cepat bereskalasi menjadi kerusuhan setelah terdengar beberapa letusan diduga senjata api usai sejumlah orang mengibarkan bendera Bulan Bintang.

Massa pun menghampiri sumber suara dan terjadi gesekan dengan aparat keamanan. Aksi saling lempar pun terjadi.

Baca juga artikel terkait DEMO ACEH atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Rina Nurjanah