Menuju konten utama

Jaga Kecukupan Likuiditas, BI Pangkas Yield SRBI Hampir 100 Bps

BI meyakini penyesuaian yield menjadi 6,76 persen tidak memadamkan minat investor global.

Jaga Kecukupan Likuiditas, BI Pangkas Yield SRBI Hampir 100 Bps
Gedung Bank Indonesia di Solo. Flickr/Aditya Darmasurya
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bank Indonesia (BI) secara bertahap memangkas imbal hasil (yield) Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga mendekati 100 basis poin (bps) menjadi 6,76 persen.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan langkah kalibrasi ini ditempuh bank sentral guna menjaga kecukupan likuiditas perbankan serta mendorong pendalaman pasar keuangan.

Sebelumnya, imbal hasil SRBI sempat menyentuh level tertingginya di angka 7,74 persen. Namun, pada lelang terakhir yang digelar Jumat lalu, BI menetapkan tingkat yield sebesar 6,76 persen.

"Kami akan terus kalibrasi sampai dengan akhir tahun sebagai bagian dari upaya kita menjaga kecukupan likuiditas. Kuncian likuiditas di tenor panjang, karena SRBI ini tenornya 6, 9, dan 12 bulan, secara gradual coba kami lepaskan," kata Erwin dalam taklimat media di Kompleks Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Sejalan dengan penyesuaian imbal hasil tersebut, volume penempatan dana pada SRBI juga mengalami penurunan secara bertahap. BI mencatat posisi outstanding SRBI berkurang dari posisi puncaknya sebesar Rp1.096,86 triliun per 15 Juli 2026 menjadi Rp1.028,15 triliun per 28 September 2026.

Meski imbal hasil mengalami penurunan, Erwin menyebut SRBI tetap memiliki tiga fungsi utama, yakni sebagai instrumen pengelolaan likuiditas, sarana penarik modal asing (inflow), dan pendorong pendalaman pasar.

Ia meyakini penyesuaian yield menjadi 6,76 persen tidak memadamkan minat investor global. Hal ini didukung oleh pemberian insentif lindung nilai (hedging) berupa skema swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

"Dengan hitung-hitungan insentif, meskipun rate-nya 6,76 persen, itu masih cukup menarik secara spread kalau dibandingkan dengan pilihan investasi mereka secara global," jelas Erwin.

Berdasarkan evaluasi BI, dampak kalibrasi ini terhadap aliran modal asing secara umum masih terjaga positif. Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), inflow sepanjang Kuartal III tercatat mencapai Rp20,51 triliun.

Sementara pada instrumen SRBI, keterlibatan investor asing juga masih menunjukkan tren positif pada lelang-lelang belakangan ini.

"SRBI secara kuartalan terkait kalibrasi memang agak sedikit menurun, tetapi di lelang terakhir kemarin asing yang masuk masih cukup banyak meski rate-nya di 6,76 persen," tuturnya.

Baca juga artikel terkait BANK INDONESIA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama