tirto.id - Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengatakan pihaknya mendorong penguatan likuiditas mata uang selain dolar Amerika Serikat (AS), khususnya yuan dan yen.
Langkah itu menjadi bagian dari upaya diversifikasi mata uang di tengah menguatnya nilai tukar dolar AS. Menurut dia, BI memfokuskan pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing pada diversifikasi mata uang. Hal ini dinilai diperlukan untuk mendukung kegiatan ekspor dan investasi.
"Kalau kami lihat dari sisi pendalaman pasar uang dan pasar valas, kami memang fokus kepada ini karena kita menghadapi tantangan global dengan dolar juga yang semakin meningkat," ucap Destry saat rapat kerja Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2026).
"Sehingga, ini tentunya kita perlu melakukan diversifikasi dari mata uang valas lainnya," lanjut dia.
Di sisi lain, Destry mengklaim transaksi menggunakan mata uang lokal disebut telah menguat. Namun, peningkatan transaksi tersebut dinilai masih menghadapi persoalan pada ketersediaan likuiditas mata uang lokal.
"Local currency transaction ini, volume kita sudah cukup menguat, tetapi yang menjadi permasalahan adalah likuiditas dari local currency ini sendiri," ujarnya.
Destry menambahkan, untuk mengatasi persoalan tersebut, BI mendorong peningkatan likuiditas yuan, termasuk RMB, CNH, dan CNY, serta yen.
Kata dia, BI juga mengembangkan produk lindung nilai atau hedging bagi investor asing dan pelaku pasar.
"Kita terus mendorong likuiditas RMB, CNH, CNY, dan juga yen dan kita juga terus mengembangkan produk-produk hedging untuk para foreign investor ataupun pelaku-pelaku pasar," urai Destry.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id







































