Menuju konten utama

BI Waspadai Risiko Inflasi akibat Meroketnya Harga Minyak Dunia

Kenaikan ini disebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya inflasi global yang mencapai 4,69 persen.

BI Waspadai Risiko Inflasi akibat Meroketnya Harga Minyak Dunia
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti. tirto.id/ Nanda Aria Putra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengatakan kenaikan harga minyak menjadi salah satu kondisi global yang perlu diwaspadai. Per 24 September 2026, harga minyak disebut mencapai US$125,53 per barel.

Menurutnya, angka tersebut meningkat dibandingkan rata-rata harga minyak pada Agustus 2026 yang berada di kisaran US$90,88 per barel. Kenaikan ini disebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya inflasi global yang mencapai 4,69 persen.

"Harga minyak yang terus mengalami peningkatan, di mana posisi di 24 September itu mencapai US$125,53 per barel dan ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata Agustus 2026 yang berada di kisaran US$90,88 per barel," kata Destry saat rapat kerja Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2026).

Destry mengatakan, dari sisi domestik, BI menilai risiko inflasi dan nilai tukar tetap perlu diwaspadai. Karena itu, tantangan tersebut menjadi salah satu dasar bagi arah kebijakan BI kelak.

Kata dia, kondisi global juga diwarnai kebijakan moneter yang ketat serta penguatan dolar AS terhadap mata uang lain. BI lantas melihat situasi tersebut berpotensi memengaruhi kinerja neraca pembayaran Indonesia serta stabilisasi nilai tukar.

“Dari sisi domestik, yang perlu juga kita waspadai dan menjadi dasar dari arah kebijakan kami ke depan adalah perlu didorong penguatan terhadap sumber-sumber ketumbuhan ekonomi baru. Di tengah risiko inflasi dan nilai tukar yang memang perlu kita waspadai," ujarnya.

"Terkait dengan konflik geopolitik di mana ini juga diimbangi dengan adanya kebijakan moneter global yang ketat. Kemudian, terjadinya flight to quality, sehingga ini akan mempengaruhi kinerja meraca pembayaran Indonesia dan termasuk juga stabilisasi dan nilai tukar kami," sambung Destry.

Sebagai informasi, harga minyak dunia kembali meningkat lebih dari 1 persen pada Senin (28/9/2026). Hal ini dipicu langsung oleh penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap proposal perdamaian yang diajukan Iran.

Langkah Trump ini menggagalkan potensi pembukaan kembali Selat Hormuz dan penyelesaian konflik kedua negara sehingga membuat tensi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas.

Efek dari keputusan tersebut langsung terasa di pasar energi global. Harga minyak mentah berjangka Brent menguat US$1,32 atau 1,27 persen ke posisi US$105,64 per barel pada pukul 00.36 GMT, sedangkan jenis West Texas Intermediate (WTI) asal AS naik 70 sen atau 0,76 persen menjadi US$93,11 per barel.

Proposal damai dari Iran sendiri sebenarnya telah disampaikan lewat mediator Qatar saat Majelis Umum PBB berlangsung di New York pekan lalu. Meski Trump secara tegas menampik rencana tersebut pada Sabtu, dia memberi sinyal masih membuka pintu diplomasi.

Dalam wawancara telepon dengan Axios pada Minggu, ia mengindikasikan bahwa tim negosiator AS diperkirakan tetap akan menggelar pembicaraan lanjutan pekan ini. Gagalnya kesepakatan damai ini kian mempertegas tingginya ancaman terhadap jalur pasokan energi global.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK DUNIA atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fadrik Aziz Firdausi