Menuju konten utama

Trump Tolak Proposal Iran, Harga Minyak Dunia Kembali Naik

Langkah Trump menggagalkan potensi pembukaan kembali Selat Hormuz dan penyelesaian konflik kedua negara, sehingga geopolitik Timur Tengah memanas.

Trump Tolak Proposal Iran, Harga Minyak Dunia Kembali Naik
Ilustrasi harga minyak. Seorang pejalan kaki memegang payung berjalan melewati pada papan elektronik yang menunjukkan indeks pasar saham dari berbagai negara di luar broker di Tokyo, Jepang, 18 Januari 2016. Indeks Nikkei Jepang menukik ke level terendah satu tahun pada Senin pagi setelah menjual besar -off di Wall Street pada hari Jumat setelah harga minyak anjlok dan ketakutan tumbuh sekitar masalah ekonomi di Cina, mengirimkan semua sektor ke merah. ANTARA FOTO/REUTERS/Yuya Shino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak dunia kembali meningkat lebih dari 1 persen pada Senin (28/9/2026). Hal ini dipicu langsung oleh penolakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, terhadap proposal perdamaian yang diajukan Iran.

Langkah Trump ini menggagalkan potensi pembukaan kembali Selat Hormuz dan penyelesaian konflik kedua negara, sehingga membuat tensi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas.

Efek dari keputusan tersebut langsung terasa di pasar energi global. Harga minyak mentah berjangka Brent menguat 1,32 dolar AS atau 1,27 persen ke posisi 105,64 dolar AS per barel pada pukul 00.36 GMT, sedangkan jenis West Texas Intermediate (WTI) asal AS naik 70 sen atau 0,76 persen menjadi 93,11 dolar AS per barel.

Proposal damai dari Iran sendiri sebenarnya telah disampaikan lewat mediator Qatar saat Majelis Umum PBB berlangsung di New York pekan lalu. Trump memberi sinyal masih membuka pintu diplomasi, meski secara tegas menampik rencana tersebut pada Sabtu (26/9/2026).

Dalam wawancara telepon dengan Axios pada Minggu (27/9/2026), ia mengindikasikan bahwa tim negosiator AS diperkirakan tetap akan menggelar pembicaraan lanjutan pekan ini. Gagalnya kesepakatan damai ini kian mempertegas tingginya ancaman terhadap jalur pasokan energi global.

Analis dari ANZ menggarisbawahi kondisi tersebut dalam catatannya. "Risiko geopolitik tetap tinggi, seiring kelompok Houthi dan Iran melanjutkan serangan mereka ke Arab Saudi, membuat aliran pasokan regional rentan,” katanya dikutip dari Reuters pada.

Ancaman itu terbukti dari pernyataan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman pada Sabtu pagi, yang melaporkan keberhasilan menembak jatuh dua rudal balistik serta dua drone milik kelompok Houthi sokongan Iran.

Di sisi lain, dinamika pasar juga diwarnai oleh gejolak harga produk olahan. Brent sempat menguat tipis 0,4 persen pekan lalu, namun WTI justru merosot 7,9 persen akibat kekhawatiran pasar terhadap wacana larangan ekspor diesel oleh pemerintah AS demi menekan rekor harga dalam negeri, sebuah kebijakan yang berisiko menahan laju produksi kilang AS.

"Produk minyak olahan tetap menjadi titik tekan, dengan rekor harga diesel AS yang meningkatkan risiko inflasi dan memicu kembali perdebatan mengenai potensi pembatasan ekspor,” ucapnya.

Meski diintai konflik, aliran minyak dari kawasan Teluk sebenarnya mulai menunjukkan perbaikan. Data awal dari Kpler per Senin mencatat volume ekspor minyak mentah produsen utama Timur Tengah melonjak menjadi 12,8 juta barel per hari (bpd) pada September, angka tertinggi sejak perang pecah Februari lalu, seiring dorongan ekspor dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Pemulihan volume ekspor ini ditopang oleh lancarnya kembali lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang diproyeksikan menembus 7,4 juta bpd bulan ini. Langkah taktis juga diambil Arab Saudi dengan mengalihkan rute pengiriman dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah menuju pelabuhan Ras Tanura di wilayah timur, pascaserangan yang mengganggu pipa pipa jaringan Timur-Barat mereka.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK DUNIA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Andrian Pratama Taher