tirto.id - Harapan akan terwujudnya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran mulai meredam lonjakan harga minyak global. Kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent terdorong turun hingga ditutup di bawah ambang batas US$100 per barel dipicu oleh optimisme pasar atas berlangsungnya negosiasi diplomatik kedua negara di markas PBB, New York.
Mengawali perdagangan Rabu (23/9/2026) pagi 01.19 GMT, Brent mencatatkan penurunan sebesar 7 sen atau 0,07 persen ke level US$99,18 per barel. Tren penurunan ini melanjutkan pelemahan sejak Selasa (22/9/2026), sekaligus menjadi momen pertama kalinya Brent parkir di bawah US$100 sejak 8 September lalu.
Pelemahan serupa terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang terkoreksi 35 sen atau 0,39 persen menjadi US$90,17 per barel.
Meskipun Presiden AS Donald Trump sempat mengancam akan "memusnahkan" Iran, dinamika diplomasi di balik layar justru menunjukkan sinyal positif.
Trump mengonfirmasi bahwa dua utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah menggelar diskusi yang konstruktif bersama para mediator Iran guna meredakan konflik yang telah berkecamuk selama hampir tujuh bulan.
"Saya pikir ada banyak momentum bagi mereka untuk mencapai kesepakatan," kata Trump dikutip dari Reuters.
Sikap pragmatis para pelaku pasar dalam menyikapi tensi geopolitik ini diamini oleh KCM Trade. Chief Analyst KCM Trade, Tim Waterer, menilai investor cenderung merespons peluang pembicaraan damai dibanding retorika panas di permukaan.
“Pertemuan delegasi AS dan Iran di New York memberikan secercah harapan bagi para pelaku pasar. Terlepas dari retorika keras yang terus berlanjut, termasuk ancaman 'pemusnahan’, pasar memilih untuk memperhitungkan kemungkinan terjadinya pembicaraan,” tutur Waterer.
Waterer menambahkan, “Pasar saat ini merasa lebih konstruktif terhadap gambaran pasokan minyak global dibandingkan beberapa minggu lalu.”
Selain faktor diplomasi, tekanan penurun harga minyak kian diperkuat oleh membaiknya alur distribusi dari kawasan Timur Tengah. Arab Saudi mengonfirmasi pengoperasian kembali Pipa Timur-Barat menuju Laut Merah sejak Selasa.
Jalur vital tersebut sebelumnya terpaksa dihentikan sejak 11 September akibat serangan drone milisi Irak di fasilitas pelabuhan Yanbu. Pipa ini memegang peranan penting untuk mengalihkan sekitar 4 juta barel per hari atau 4 persen dari total pasokan dunia di tengah gangguan navigasi di Selat Hormuz.
Langkah pemulihan pasokan juga datang dari Irak. Menteri Perminyakan Irak, Basim Mohammed, menyatakan ekspor harian negaranya telah menembus lebih dari 3 juta barel per hari dan menargetkan tambahan 600.000 barel per hari melalui jalur Turki.
Berdasarkan catatan data pelacakan kapal Vortexa dan Kpler, ekspor Irak Agustus lalu berada di kisaran 2,17 juta hingga 2,3 juta barel per hari—naik dibanding Juli, meski belum sepenuhnya pulih ke level praperang sebesar 3,3–3,7 juta barel per hari.
Selain itu, data industri menunjukkan persediaan minyak mentah Negeri Paman Sam juga melonjak 1,8 juta barel pada pekan yang berakhir 18 September, berlawanan dengan proyeksi konsensus analis Reuters yang memperkirakan adanya penurunan. Pasar kini menantikan konfirmasi data resmi dari Badan Informasi Energi AS (EIA) yang dijadwalkan rilis pukul 10.30 ET (14.30 GMT).
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id





































