Menuju konten utama

Dolar Balik ke Rp18.000, BI Kurangi Intervensi Berbiaya Mahal

BI mulai mengurangi porsi intervensi di pasar spot yang terbilang mahal dibandingkan langkah lainnya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Dolar Balik ke Rp18.000, BI Kurangi Intervensi Berbiaya Mahal
Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti berjalan untuk mengikuti rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (27/7/2026). Rapat tersebut membahas keterlibatan Danantara dalam KSSK untuk memperkuat koordinasi kebijakan dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian dan dunia usaha secara lebih menyeluruh. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bank Indonesia (BI) mulai mengurangi intervensi berbiaya mahal untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Gubenur BI Destry Damayanti mengatakan, hal tersebut terlihat dari porsi intervensi BI melalui spot yang kini hanya 30 persen dari total intervensi yang bank sentral.

Destry mengatakan, turun tangan BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar kini lebih difokuskan pada instrumen lain, seperti domestic non-deliverable forward (DNDF) dan non-deliverable forward (NDF).

"Dengan kita mulai mengembangkan pertama di DNDF dulu, kemudian NDF, nah ini ternyata bisa lebih efektif," kata Destry saat dapat kerja Komisi XI DPR RI pada Senin (28/9/2026).

Meski mengakui bahwa tekanan terhadap rupiah masih terjadi hingga sekarang, ia memastikan kondisi tersebut tak disebabkan oleh masalah fundamental maupun struktural, melainkan akibat faktor eksternal.

Karena itu, BI juga mendorong pembahasan mengenai program peningkatan ekspor dan investasi sebagai salah satu langkah mengurangi dampak gejolak global terhadap stabilitas nilai tukar.

"Karena kami bilang, kami enggak bisa, dengan intervensi sebesar-besarnya, tapi kalau sektor eksternal kita juga masih lemah, tentu itu akan berat," tutur Destry.

Ia menambahkan, upaya untuk menarik investasi juga dilakukan melalui kebijakan insentif biaya lindung nilai atau hedging cost. Kebijakan tersebut diberikan untuk investasi portofolio maupun investasi langsung, serta diperluas untuk underlying berupa pinjaman luar negeri yang dapat digunakan untuk kredit maupun investasi.

"Memang ini kebijakan yang temporary, kita akan data dependent, akan melihat seberapa besar ini masih diperlukan dan dampaknya juga keseluruhan," ujarnya.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah sempat kembali ke Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Mengutip Bloomberg, Mata Uang Garuda dibuka tepat di posisi Rp18.000 per dolar AS atau melemah dibandingkan perdagangan Senin (28/9/2026) di level Rp17.978 per dolar AS.

Meski demikian, pada penutupan perdagangan hari ini, rupiah kembali ke bawah Rp18.000 per dolar AS dan parkir di level Rp17.981 atau melemah 0,02 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana