tirto.id - Azaliya Raysa Harnum (21) menghabiskan Rp85 ribu untuk mengetahui masa depannya. Uang itu dikeluarkan dua minggu lalu untuk memesan jasa pembacaan tarot secara daring. Tiga pertanyaan, masing-masing dijawab lewat lima kartu. Pertanyaan yang disampaikan mahasiswi yang bergelut dengan tugas akhir itu sederhana, namun mendesak, yakni kariernya ke depan.
“Sebenarnya aku itu prospeknya sudah kebuka, tapi aku masih belum yakin tentang diri aku, jangan terlalu keras sama diri sendiri,” kata Azaliya menirukan jawaban yang ia terima kepada saya dari pembaca tarot yang ia sewa, Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2026).
Jawaban tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang terdengar asing. Itu sudah lebih dulu ada di kepalanya, namun dibumbui rasa ragu. Maka, lewat pembacaan tarot itu, seolah memberinya sesuatu yang ia cari, validasi.
“Aku jadi semakin yakin, oh berarti emang jalannya kayak gini aja sih, tinggal aku ngelakuin sama apa yang udah aku rencanain,” ujarnya.
Azaliya bukan satu-satunya anak muda yang menggunakan tarot untuk membaca hidupnya. Di media sosial, jasa pembacaan tarot sedang ramai diperbincangkan, dari layanan daring hingga booth di kafe dan acara tertentu, mudah sekali dijumpai.
Fenomena ini membuat tarot tak lagi hadir sebagai praktik yang dianggap mistis. Bagi sebagian anak muda, tarot justru jadi medium mencari validasi, bahkan dibuka jadi lapangan pekerjaan.
Ketika Tarot Membuka Kesempatan Berprofesi
Alex (20), seorang tarot reader dari pemilik akun Instagram @ReadangReading, mengenal tarot sejak 2015 saat masih berseragam sekolah. Berawal dari rasa penasaran terhadap buku milik temannya, ia belajar secara otodidak melalui buku, internet, komunitas daring, hingga berbagai PDF.
Enam tahun kemudian, pada 2021, Alex mulai membuka jasa pembacaan tarot berbayar. Pandemi menjadi salah satu momentum ketika didorong teman-temannya untuk mengubah kemampuan yang selama ini dipelajari menjadi layanan aduan dan konsultasi.
Alex bercerita panjang pada saya di sebuah coffee shop kondang sekitaran Blok-M, Selasa (11/8/2026). Dia bilang, kliennya datang dari berbagai usia, mulai dari 16 hingga 74 tahun. Namun, mayoritas berada pada rentang 18-35 tahun.
“Karena sebenarnya lagi self discovery,” kata Alex ketika saya tertarik untuk tahu mengapa anak muda jadi mayoritas pelanggannya.
Anak muda, menurut Alex, masih berada dalam proses memahami apa yang mereka sukai, apa yang tidak mereka sukai, serta mencari bantuan untuk menentukan arah studi dan pekerjaan.

Namun, pencarian tersebut tidak selalu ditujukan mereka untuk mendapati jawabnya. Kadang, mereka hanya membutuhkan tempat untuk bercerita.
“Orang selain memang butuh bimbingan, butuh didengar. Bukan butuh direspons, bahkan butuh didengar, butuh di-support,” ujarnya tersenyum.
Oleh karena itu, Alex tidak berusaha memberikan jawaban yang sekadar menyenangkan.
“Aku kalau reading itu tidak memberikan apa yang klien mau dengar banget, tapi yang mereka butuh dengar,” katanya.
Apabila hasil pembacaan membuat klien kecewa, ia tidak serta-merta mengubahnya menjadi kabar baik.
“Nggak apa-apa kalau mungkin ini bukan yang mau kamu dengar, tapi ini yang kamu butuh dengar. Karena mungkin orang lain nggak sampai hati untuk ngomong ini,” tuturnya tegas namun tersisip kehalusan.
Tanggung jawab itu juga membuat Alex memberi batas antara layanan tarot dan layanan kesehatan mental. Jika merasa masalah yang dibawa klien sudah membutuhkan penanganan profesional, Alex akan menyarankan mereka mencari bantuan psikolog atau psikiater.
“Aku bilang service-ku ini tidak menggantikan psikolog atau psikiater,” ujarnya sambil menunjukkan kartu-kartu tarotnya pada saya yang beragam rupa.
Di sisi lain, popularitas tarot membuka ruang ekonomi baginya. Alex mengatakan pendapatannya tidak selalu stabil, tetapi dapat meningkat pada musim tertentu seperti Valentine, tahun baru, dan Halloween. Ia juga beberapa kali mengisi booth di kafe atau acara acara lainnya.
Bagi Alex sendiri, tarot akhirnya menjadi titik temu dari berbagai hal yang dirinya sukai. Di hadapan kartu kartunya itu, ia tulus bercerita bahwa dirinya gemar sekali membaca, membahas seni, menekuni filsafat, dan juga hobi berbicara dengan banyak orang.
Ia menyebut sesuatu yang disukainya, dapat dilakukan, sekaligus dapat menjadi layanan bagi orang lain.
“Something I love, something I like, something I can do and I can do for work, for service-nya as a reader,” kata Alex terpancar kegembiraan hati.
Tarot Dipandang Hanya Sebagai Hobi
Di saat tarot yang semakin mudah dikomersialkan, Yehezkiel (21) justru memilih kemampuannya tidak dijadikan pekerjaan.
Ia mengenal tarot dari media sosial dan mempelajarinya secara otodidak melalui internet. Hingga ia mulai fasih membaca tarot untuk teman-teman dan orang-orang yang ingin dibacakan. Namun, ia tidak menarik bayaran.
Bagi Yehezkiel, kemampuan membaca tarot merupakan sesuatu yang ia anggap sebagai karunia Tuhan. Mengubahnya menjadi sumber penghasilan membuatnya merasa tidak nyaman.
“Menurut gua nggak semua orang bisa baca tarot dan ini termasuk karunia yang Tuhan kasih ke gua. Gua nggak mau apa yang Tuhan kasih secara gratis ke gua, gua duitin ke orang lain. Jahat aja rasanya,” kata Yehezkiel saat saya temui secara daring, Selasa (11/8/2026).
Ia juga percaya komersialisasi dapat mengubah relasi seseorang dengan sesuatu yang semula digemarinya.
“Kalau suatu hal yang awalnya disukai itu diubah jadi komersial, tujuannya berubah, dari yang hobi atau kesukaan jadi tujuannya uang,” ujarnya.
Untuk sekarang, Yehezkiel ingin tarot tetap menjadi sesuatu yang bisa dinikmati bersama. Ia berharap orang tidak buru-buru melihat tarot sebagai praktik mistis yang harus ditakuti.
“Gua mau semua orang kenal tarot dan jangan terlalu menganggap tarot itu syirik dan sebagainya. Kita jadiin ini have fun aja dan buat obrolan tongkrongan,” katanya.
Ketidakpastian Hidup Dorong Anak Muda Cari Jawaban Lewat Tarot
Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, melihat maraknya tarot di kalangan Gen Z dan milenial bukan semata-mata bentuk atas kebangkitan kepercayaan terhadap sebuah ramalan. Dia justru bilang bahwa tarot sebagai meaning making technology.
“Ini merupakan perangkat simbolik yang menyediakan kerangka naratif untuk menata pengalaman hidup yang terasa kacau dan tidak terkendali,” kata Rakhmat kepada saya melalui percakapan daring, Selasa (11/8/2026).
Menurut Rakhmat, popularitas tarot berkaitan erat dengan ketidakpastian struktural yang dihadapi anak muda sekarang. Beberapa di antaranya seperti pasar kerja yang jenuh, tuntutan untuk merancang kehidupan sendiri, serta melemahnya otoritas institusional dalam memberikan tafsir tentang kehidupan sehari-hari.
“Ledakan popularitas di kalangan Gen Z ini bukan sebagai gejala kebangkitan takhayul, melainkan respons terhadap ketidakpastian struktural,” ujarnya.
Tarot, kata Rakhmat, juga tidak otomatis menunjukkan anak muda serentak meninggalkan agama.
“Religiusitas anak muda tetap tinggi. Nah, tarot berfungsi sebagai suplement, bukan substitusi,” katanya.
Di Indonesia sendiri, Rakhmat mengibaratkan tarot sebagai bentuk baru dari tradisi primbon, weton, atau ramalan bintang. Oleh karena itu, yang dibeli seseorang ketika menggunakan jasa tarot belum tentu ramalan tentang masa depan.
“Yang sebenarnya dibeli klien bukan akurasi prediksi, melainkan pengalaman didengarkan tanpa dihakimi, katarsis, dan izin psikologis untuk mengambil keputusan yang sesungguhnya sudah condong mereka ambil,” ujar Rakhmat membawa saya kembali pada jawaban Alex yang sama persis.
Pengalaman Azaliya menunjukkan hal tersebut. Ia datang dengan kecemasan mengenai karier, lalu pulang dengan keyakinan yang sebenarnya sudah ia miliki sebelumnya.
Namun, Rakhmat mengingatkan ada batas yang perlu diperhatikan ketika tarot mulai menjadi tempat bergantung.
“Risiko terbesar bukan bacaan yang keliru, melainkan pergeseran locus of control ke luar diri dan tertundanya penanganan masalah kesehatan mental yang sebenarnya serius,” katanya.
Karena itu, ia menilai fenomena tarot sebaiknya tidak diperlakukan sebagai penyakit sosial, melainkan indikator.
“Tarot reading ini adalah termometer yang menunjukkan defisit akses layanan psikologis, defisit ruang aman untuk bercerita, dan defisit kepastian ekonomi bagi anak muda,” ujar Rakhmat.

Penulis: Khaila Adinda
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id
































