tirto.id - Tarot awalnya permainan kartu yang muncul di tanah Italia dekade 1440-an. Barulah pada abad ke-19, ia digunakan untuk meramal nasib, menerka masa depan, hingga membaca masa lalu.
Transformasi fungsi kartu Tarot, dari alat permainan trik jadi medium cartomancy, melahirkan pertanyaan penting: apakah siapa pun bisa menafsirkan simbol-simbol dalam kartu Tarot? Apakah keahlian ini adalah anugerah yang diwariskan sejak lahir? Ataukah membaca kartu Tarot adalah keterampilan teknis yang bisa diasah oleh siapa saja yang berminat?
Dalam era keemasan ramal kartu pada abad ke-19, pembacaan kartu umumnya dikuasai oleh mereka yang mengaku memiliki intuisi tajam atau garis keturunan cenayang. Namun, seiring pergeseran zaman, membaca kartu bukan lagi milik orang tertentu. Memasuki abad ke-20, terutama dengan standarisasi visual melalui dek Rider-Waite-Smith, Tarot mulai dipelajari lebih banyak kalangan.
Dewasa ini, profesi Tarot Reader pun mengalami perubahan definisi yang signifikan. Ia tidak lagi dipandang sebagai aktivitas klenik atau perdukunan semata, melainkan bertransformasi jadi sebuah keahlian profesional. Untuk mencapai level profesional sebagai pembaca kartu tarot, seseorang tidak cukup hanya mengandalkan firasat. Dia juga wajib paham akan literasi simbol, psikologi dasar, dan etika pembacaan yang ketat.
Tarot Reader Sang "Pembaca" Masa Lalu dan Masa Depan
Kembali ke pertanyaan awal, apakah tarot reader bisa dipelajari? Jawabannya adalah ya, mutlak bisa dipelajari. Intuisi memang berperan penting sebagai bumbu penyedap. Namun, fondasi utama pembacaan tarot yang akurat terletak pada penguasaan kognitif terhadap bahasa simbol dan arketipe.
Kartu Tarot merupakan satu set kartu yang terdiri dari 78 kartu dengan muatan arketipe yang beragam. Mengutip Britannica,kartu tersebut terbagi menjadi dua kelompok yaitu Arcanum Major atau truf (22 kartu) dan Arcanum Minor (56 kartu).
Ke-22 kartu Arcanum Major diberi nomor dari 0 hingga XXI, dan memiliki gambar yang mewakili berbagai kekuatan kosmik, arketipe kepribadian, kebajikan, dan keburukan yang mencerminkan perjalanan hidup manusia.
Urutan Arcanum Major dimulai dari 0 Si Bodoh (The Fool), diikuti oleh I Pesulap (The Magician), II Paus Wanita (The High Priestess), III Permaisuri (The Empress), IV Kaisar (The Emperor), V Paus (The Hierophant), VI Kekasih (The Lovers), VII Kereta Perang (The Chariot), VIII Kekuatan (Strength), IX Pertapa (The Hermit), X Roda Keberuntungan (Wheel of Fortune), XI Keadilan (Justice), XII Orang yang Digantung (The Hanged Man), XIII Kematian (Death), XIV Keseimbangan (Temperance), XV Iblis (The Devil), XVI Menara (The Tower), XVII Bintang (The Star), XVIII Bulan (The Moon), XIX Matahari (The Sun), XX Penghakiman (Judgement), dan XXI Dunia (The World).

Sementara itu, 56 kartu Arcanum Minor dibagi menjadi empat jenis kartu (Tongkat, Piala, Pedang, Koin), masing-masing terdiri dari 14 kartu. Keempat belas kartu itu adalah As sampai 10, ditambah 4 kartu istana (Page, Knight, Queen, dan King). Kartu-kartu ini merujuk pada hal-hal praktis dan peristiwa sehari-hari dalam kehidupan si penanya.
Dalam Arcanum Minor, simbol tongkat berkaitan dengan urusan bisnis dan ambisi karier. Simbol cangkir berkaitan dengan cinta dan emosi, pedang dengan konflik dan pikiran, dan koin dengan uang dan kenyamanan materi.
Kartu tarot tersebut dikocok oleh tarot reader kemudian klien mengajukan sejumlah pertanyaan. Setelah itu, klien diminta menarik sejumlah kartu yang telah diacak dan tarot reader membacakannya kepada klien. Arti setiap kartu dimodifikasi sesuai dengan apakah kartu tersebut terbalik, posisinya dalam susunan, dan arti kartu-kartu yang berdekatan.
Dalam hal ini, tarot reader akan memeberikan jawaban atas pertanyaan klien melalui simbol-simbol dalam kartuyang telah dipilih. Namun, sebelum menjelaskan kartu tersebut, tarot reader biasanya perlu memperoleh informasi tentang permasalahan, kehidupan, hingga latar belakang klien. Alhasil, sang klien secara tidak langsung akan bercerita tentang masalahnya.
Bagi seorang tarot reader, kartu berfungsi sebagai medium untuk menelisik dinamika kehidupan klien. Ini mencakup akar masa lalu yang melatarbelakangi persoalan saat ini, hingga proyeksi kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
Jika fokus pertanyaan klien berubah, kartu perlu dikocok ulang untuk menyelaraskan energi pada konteks yang baru.
Jika kartu yang dipilih oleh klien merepresentasikan sesuatu yang buruk atau menantang, tarot reader biasanya akan memberikan pemahaman yang lebih mendalam. Ia dapat dan menenangkan klien dengan menyajikan sisi positif serta potensi solusinya.
Seiring berkembangnya zaman, tarot reader dapat menjadi medium untuk refleksi diri, mencari perspektif baru dalam karier, hingga mengarahkan emosi dalam hubungan asmara. Tarot reader profesional menyebut pekerjaan ini sebagai intuitive consultant atau spiritual coach.
Jasa Tarot Reader Banyak Dicari, Jadi Sarana Healing Diri
Bagi kalangan milenial dan Gen Z, jasa tarot reader diperlukan untuk beragam tujuan. Alih-alih soal klenik, tarot reader kerap menjadi teman curhat yang aman untuk memperoleh perspektif yang baru hingga validasi emosi.
Meski tak sama dengan layanan psikologi, tarot reader dapat mengkombinasikan perannya sebagai pembaca kartu, interaksi yang empatik, motivator, bahkan penyembuh. Seseorang yang datang ke tarot reader biasanya memperoleh instruksi dan saran untuk mencapai keberhasilan dalam hidup.

Soal jumlah penghasilan yang diperoleh jasa tarot reader tidaklah tentu. Laporan RRI (2/1/2026) menyebutkan bahwa tarif tarot reader berbeda-beda tergantung waktu dan profesionalitas. Pembaca Tarot pemula menerapkan tarif Rp50.000 hingga Rp150.000 per pertanyaan atau per sesi singkat 15-20 menit.
Jasa tarot reader profesional cenderung lebih mahal yaitu antara Rp300.000 hingga Rp1.000.000 per jam. Lalu tarot reader yang berada di kota besar untuk event-event tertentu biasanya menetapkan angka Rp2.000.000 hingga Rp5.000.000 per event dengan durasi 3-4 jam.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id

































