Suara yang Menceritakan Kisah: Meniti Profesi Voice Over Artist

Penulis: Arindra Ahmad Fauzan, tirto.id - 12 Feb 2024 08:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Voice over artist bukan hanya sekedar suara yang bagus, tapi juga intonasi, artikulasi, pernafasan, dan kemampuan berimajinasi.
tirto.id - Sebagian dari kita, semasa kecil menganggap tokoh kartun dan suara uniknya di televisi adalah hal yang nyata. Kemudian, saat beranjak dewasa kita baru memahami bahwa kartun adalah karakter fiktif dan suaranya diisi oleh pengisi suara (voice over artist/VOA).

Ambil contohnya, Shinchan, tokoh kartun Jepang yang sempat popular di Indonesia. Suaranya diisi oleh Onny Syahrial selama lebih dari sepuluh 10 tahun. Saking khasnya suara Shincan banyak yang menirukan. Bahkan, suara itu sangat melekat dan sulit jika digantikan oleh yang lain.

Tak hanya digunakan untuk menyesuaikan suara dari karakter film atau serial kartun, para pengisi suara juga seringkali dimanfaatkan untuk menjadi narator dalam sebuah iklan ataupun film. Satu iklan yang mungkin terngiang dalam diri ini adalah iklan sirup yang selalu muncul di saat Bulan Ramadhan.

VOA tak hanya muncul sebagai pengisi suara kartun, film, atau narator iklan. Banyak yang memulai atau memperluas karirnya sebagai penyiar radio. Suaranya yang khas meningkatkan interaksi dan membuatnya selalu ditunggu oleh para penggemar.

Itulah seni bersuara. Memberikan kesan yang membekas kepada para pendengarnya.

Keunggulan tersebut membuat seni bersuara voice over (VO) juga dijadikan alat marketing. Mengapa demikian? Pasalnya, pemilihan suara yang tepat dalam memasarkan sesuatu dapat memberikan keterkaitan emosional (emotional connection) dan kesan mendalam kepada audiens.

Pengaturan nada (tone) untuk keseluruhan iklan akan memengaruhi keputusan akhir audiens. Misalnya iklan ‘Think Different’ yang dikeluarkan oleh Apple. Penggunaan suara dengan nada yang rendah dan dramatis berhasil memberikan kesan emosional.

Menurut Crucial M Productions, sebuah rumah produksi video asal Singapura, penggunaan VO akan berdampak pada pembentukan karakter produk yang membuatnya jadi lebih menonjol. Selain itu, pesan dapat tersampaikan dengan lebih baik yang berujung pada meningkatkan kepercayaan atas produk.

Perkembangan di Era Digital

Konon katanya, teknologi baru hadir untuk menggantikan teknologi yang ada sebelumnya. Nyatanya, hal ini tidak berlaku untuk para VOA. Penggunaan suara sebagai sarana menyampaikan informasi tidaklah lekang oleh waktu. Di tengah gempuran teknologi Artificial Intelligence (AI) yang masif pun, VOA masih potensial hingga saat ini.

Ketersediaan potensi tersebut tidak terlepas dari banyaknya kanal kebutuhan yang berbeda untuk VOA. Acadecraft, perusahaan penyedia VOA berbasis di Amerika Serikat (AS), mengatakan bahwa setidaknya ada sepuluh jenis gaya dari VO.

Gayanya mencakup naratif, percakapan, character voice over (dubber), promosi, korporat, komedi, dramatis, edukasional, interactive voice response (IVR), hingga video game voice over (VGVC).

Media sosial juga menjadi salah satu faktor pendukung permintaan atas voice over. Banyaknya pembuatan konten digital mendorong kemajuan ekosistem industri VOA. Tidak dapat dipungkiri, media sosial memperpanjang nafas dari industri VO yang tidak hanya dapat dinikmati melalui radio dan televisi.

Menjadi Voice Over Artist

Di antara kalian mungkin sebenarnya memiliki potensi dan mempertimbangkan untuk menjadi VOA. Pertimbangan itu muncul umumnya didorong oleh komentar orang terdekat. Sama halnya dengan Rayhan Sudrajat.

VOA, yang juga menjalani karir sebagai dosen dan guru vokal ini, mengetahui suaranya bagus dan enak didengar bahkan sejak SD. Hingga kuliah, dirinya semakin sering mendapat celotehan untuk menjadi pengisi suara. Namun, tidak berani memulai karena informasinya terbatas.

“Tidak pernah terbesit untuk diri saya untuk jadi voice over artist karena waktu itu masih belum kebuka (informasinya) seperti sekarang,” ungkap Rayhan ketika diwawancara Tirto.

Rayhan akhirnya mendapat kesempatan mencicipi profesi ini ketika sedang menempuh kuliah pascasarjana di Melbourne, Australia.

Saat itu, ada rumah produksi kartun yang menghubungi dirinya untuk mengisi suara orang Indonesia. “Waktu itu saya bukan hanya mengisi satu suara aja, tapi sampai tujuh suara berbeda.”

Pengalaman itu kemudian membuka pemahaman Rayhan atas hal-hal teknis yang dibutuhkan untuk mendalami bidang ini. Contoh aset penting adalah mikfrofon, di mana setiap jenis akan menghasilkan suara yang berbeda.

Dirinya pun mulai belajar otodidak. Namun, modalnya sebagai seorang vokalis membuatnya sudah paham hal dasar terkait intonasi, nada, artikulasi, dan pernafasan. Aspek ini nantinya yang akan memengaruhi seni bersuara.


Pengalaman juga penting. “Penting banget jam terbang dan latihan, sama sekali tidak ada yang instan,” imbuhnya.

Pasalnya, terkadang permintaan dari klien itu aneh-aneh dengan deskripsi yang sulit dipahami. Jadi, jam terbang dan proses belajar itu nantinya akan membantu berimajinasi dan bereksplorasi sehingga mampu menerjemahkan apa yang diharapkan oleh klien.

“Mas saya mau suaranya yang agak becek-becek gitu… Tolong suaranya lebih ada langit-langitnya.” Itu lah serentetan permintaan abstrak yang pernah diterima Rayhan.

Selain hal-hak di atas hal fundamental lain yang dibutuhkan adalah mental yang kuat. Berdasarkan pengalamannya, revisi berulang kali lama kelamaan akan memengaruhi hasil dari suara dan psikis VOA. Ini yang harus dipersiapkan oleh seorang VOA.

Pengalaman Rayhan selama menjadi VOA bisa dibilang cukup beragam, mulai dari institusi pemerintahan, pendidikan, korporat multinasional, bahkan sampai hotel di Saudi Arabia.


Dari penjelasan Rayhan, kita tahu VOA itu tidak sebatas bermodal suara bagus. Akan tetapi juga harus paham seni bersuaranya, bisa berimajinasi dalam menciptakan karakter, dan mengerti aspek teknis (microphone, audio interface, software, dsg).

Dinamika Menjadi VOA

Peran AI di satu sisi memang memberikan kemudahan dan kepraktisan bagi siapa pun yang menggunakannya. Tetapi, hal tersebut bukan merupakan hambatan bagi VOA untuk berkembang.

Rayhan mengungkapkan bahwa, meskipun AI ini hadir dan mulai marak digunakan, tetap saja mereka tidak bisa menggantikan emosi yang dimiliki oleh VOA. Kemudian, penting memiliki spesialisasi dalam industri VO.

Spesialisasi referensi utama dan muncul di top of the mind seseorang atau klien menjadi lebih menguntungkan bagi VOA dari sisi branding. Nantinya akan membantu membentuk karakter dari VOA itu sendiri.

“Jangan takut jika suara kalian tidak nge-bass, karena suara tinggi pun ada pasarnya tersendiri,” tegas Rayhan.

Jadilah big fish in a big pond, karena dengan itu VOA akan terus diingat dan direferensikan kepada orang lain. Membangun portofolio dan menjaga reputasi menjadi bekal untuk mempertahankan karir.

Rayhan juga memproyeksi bahwa permintaan industri ini akan terus meningkat, contohnya audiobooks. Masih banyak sekali buku best seller yang belum tersedia versi audiobooks-nya. Pada 2022, industri buku audio ini diprediksi menyentuh 4,1 miliar dolar AS setara Rp63,96 triliun (asumsi kurs Rp15.600/USD).

“Jangan takut untuk belajar, karena segmennya luas banget sekarang,” jelas Rayhan.

Pertanyaan selanjutnya datang. Bagaimana cara menentukan rate dari jasa VOA ini? Dilansir dari Voice Acting 101, penentuan kriteria rate dilandasi oleh durasi dan jumlah kosa kata. Tetapi penting untuk turut menyertakan biaya peralatan dan modal lainnya untuk kebutuhan produksi.

Di AS, tarifnya berada di kisaran 100-250 dolar untuk durasi script kisaran di bawah 300 kata. Bayaran bisa menembus 750 dolar AS atau setara Rp11,7 juta, jika harus menyuarakan naskah panjang hingga di atas 2.000 kata.

Gaji juga bisa langsung dipatok berdasarkan kategori. Contohnya, mengisi suara buku audio atau game dapat mengantongi pendapatan 300 dolar AS per jam sesi. Kemudian, IVR dapat dihargai 250 dolar AS per 2 menit naskah.

Untuk rate card di Indonesia, VOA professional, Josh Rafael Gultom yang memiliki rumah produksi sendiri, mengungkapkan referensi tarif yang biasanya dikenakan kepada kliennya.

Dirinya mengungkap, awalnya menghitung tarif per kata, kemudian perlahan naik berdasarkan script. Skala kecil, dalam hal ini merekam sendiri dan korespondensi online, membebankan tarif sebesar Rp750.000 untuk script Bahasa Indonesia (minimum 800 kata) dan Rp900.000 untuk script Bahasa Inggris.

Hal itu Josh putuskan untuk menghindari negosiasi dan apresiasi yang terlalu rendah dari klien. Namun patut dicatat.

Sementara itu untuk proyek brand besar yang mengharuskan rekaman offline dan perform langsung di depan klien. Saat itu mereka akan meminta untuk menyajikan berbagai emosi yang berbeda.

Produksi skala besar ia menghargai Rp1,75 juta/versi untuk Bahasa Indonesia, dan Rp2,5 juta/versi untuk Bahasa Inggris. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan masih dinego oleh klien. Josh, membeberkan pernah mendapat Rp12 juta untuk 1 iklan Huawei yang memiliki beberapa versi.

Jadi, apakah kamu tertarik untuk menjadi VOA?

Baca juga artikel terkait SIDE JOB atau tulisan menarik lainnya Arindra Ahmad Fauzan
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Arindra Ahmad Fauzan
Editor: Dwi Ayuningtyas

DarkLight