tirto.id - Awal Maret 2026, pasar keuangan dunia tersentak. Berita serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran menyebar cepat: pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas.
Iran membalas dengan serangan rudal ke pangkalan militer AS di beberapa negara serta menutup Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar 20 persen minyak dunia.
Dalam hitungan jam setelahnya, peristiwa tersebut langsung mengerek harga emas dunia, menyentuh kisaran 5.368 dolar AS per troy ons atau setara sekitar Rp2,9 juta per gram.

"Sistem moneter seperti yang kita kenal sedang runtuh," kata Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates, salah satu hedge fund 'dana lindung nilai' terbesar di dunia, juga sosok yang sempat santer dikabarkan jadi penasihat Danantara.
Dalio percaya bahwa tarif pajak dan konflik politik mendorong gejala ketidakpercayaan terhadap kepemimpinan AS. Maka itu, bank sentral membuang surat utang AS dari asetnya, lalu sebagai gantinya, berbagai negara beralih membeli emas melalui bank sentral masing-masing.
Menurut Dalio, itulah yang membuat kita mengalami reli harga emas yang langka, sebuah anomali yang jejaknya sulit ditemukan, bahkan dalam catatan sejarah ekonomi berpuluh-puluh tahun ke belakang.
Fenomena Borong Emas oleh Bank Sentral
Sejak 2022, struktur cadangan emas global mengalami pergeseran. Negara-negara yang tergabung dalam BRICS, terdiri dari Brasil, Rusia, China, India dan Afrika Selatan, masing-masing meningkatkan cadangan emas melalui bank sentral mereka sebagai bagian dari strategi ekonomi jangka panjang.
Lebih tepatnya, tren ini dimulai sejak Februari 2022, ketika Barat membekukan aset Rusia sekitar 300 miliar dolar AS sebagai sanksi atas tindakan invasif ke Ukraina. Dampaknya, Rusia kehilangan aset mereka, dan sejak itu beberapa negara mulai mengubah strategi cadangan devisa masing-masing.
Data World Gold Council menunjukkan, sepanjang 2020-2021, cadangan emas bank sentral BRICS relatif stagnan. Namun, memasuki 2022, ritmenya berubah. Cadangan emas kolektif mereka melonjak dari sekitar 314,06 miliar dolar AS menjadi 481,8 miliar dolar AS dalam rentang 2022—2024, bertambah sekitar 167,7 miliar dolar AS alias hampir 54 persen.
Peningkatan tersebut terutama didorong oleh akumulasi emas yang dilakukan oleh Cina dan Rusia sebagai aktor utama. Cadangan emas Cina naik sekitar 63 persen pada periode 2022-2024, sementara Rusia naik sekitar 43 persen.
Bukankah tak ada satu pun negara—terutama yang punya harga diri, apalagi berambisi besar macam Cina atau Rusia—yang sudi membiarkan lehernya terus-menerus berada di bawah bayang-bayang sanksi Washington?

Maka terjadilah sebuah ritual sunyi tetapi mematikan: bank-bank sentral di belahan bumi timur mulai memborong emas. Kepercayaan terhadap "keajaiban" surat utang AS, yang dulu pernah dianggap sebagai aset paling aman di jagat raya, kian berkurang.
BRICS tidak mencari keuntungan jangka pendek seperti investor trading harian; mereka bertahan hidup dalam sebuah gim yang aturan mainnya sedang diubah di tengah jalan. Ketika dolar berubah menjadi senjata bagi AS dan sekutu, emas berubah menjadi perisai bagi BRICS.
Mereka sedang melakukan de-dolarisasi dengan wajah datar, memindah pusat gravitasi ekonomi dari Manhattan ke lokasi-lokasi tersembunyi, tempat kekayaan tidak lagi diukur dari seberapa banyak angka nol di layar komputer, yang berpotensi hancur kapan saja saat badai geopolitik menerjang.
Pada akhir 2025, total cadangan emas BRICS Plus melebihi 6.000 ton, mengklaim sudah menguasai sekitar 50 persen produksi emas global. Rusia memimpin di angka 2.336 ton, disusul Cina (2.298 ton) dan India (880 ton). Bank sentral Brasil bahkan kembali membeli emas pada 2025 setelah absen empat tahun, menambah 16 ton, sehingga cadangannya mencapai 145,1 ton.
Migrasi besar-besaran ke emas tampak seperti manuver politik yang lahir dari krisis kepercayaan. Ketika AS secara aktif memantik api konflik (misalnya dengan menangkap presiden Venezuela dan yang terbaru menyerang Iran), dolar tidak lagi dilihat sebagai "pelabuhan aman".
Di mata banyak negara, dolar bertransformasi jadi senjata ekonomi yang bisa dipakai untuk menghukum siapa saja yang tidak sejalan dengan kepentingan Washington. Adapun kejahatan perang dan instabilitas yang dipicu oleh kebijakan luar negeri AS membentuk persepsi bahwa memegang dolar berisiko moral sekaligus finansial.
Inilah ruh dari de-dolarisasi: upaya kolektif melepaskan leher dari ketergantungan pada mata uang yang mulai dijadikan senjata oleh negara pemiliknya. Di titik itu, emas menjadi satu-satunya pelarian logis karena ia merupakan aset tanpa negara, tidak berbendera, tidak butuh izin bank sentral asing, dan, terpenting, tidak bisa "dimatikan" melalui sanksi sepihak.
Paradoks Cadangan Devisa
Kendati narasi "kiamat dolar" kian berdengung dan disangkutpautkan dengan fenomena bank sentral memborong emas, riset Colin Weiss di International Finance Discussion Papers (2025) memberi perspektif lebih dingin dan kalkulatif.
Weiss berpendapat, akumulasi emas oleh sebagian besar bank sentral umumnya tidak terkait dengan de-dolarisasi total di tingkat negara. Sebaliknya, bagi mayoritas negara, emas hanya instrumen untuk diversifikasi moderat, tanpa benar-benar meninggalkan dolar.
Ada paradoks menarik yang muncul selepas 2021. Kendati sanksi terhadap Rusia mengguncang kepercayaan global, data regresi menunjukkan bahwa negara-negara pembeli emas pada rentang 2022 dan 2023 cenderung tetap membeli aset AS di periode sama.
Weiss menemukan korelasi positif: negara dengan pembelian bersih aset AS yang lebih besar adalah mereka yang juga membeli lebih banyak emas. Ini mengindikasikan, emas dibeli saat negara terkait memiliki kelebihan likuiditas, bukan sebagai pelarian darurat dari dolar.

Ambil contoh Polandia, pembeli emas terbesar sepanjang 2025, yang menambah 102 ton emas. Kendati agresif menumpuk emas, pangsa dolar dalam cadangan devisa Polandia justru tetap stabil, bahkan sedikit meningkat, dari rerata 38 persen sebelum 2017 menjadi 41 persen pada 2023.
Hal serupa terjadi pada India dan Korea Selatan. Bagi negara-negara "pragmatis" ini, emas berfungsi sebagai penyeimbang volatilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian kebijakan ekonomi global.
Dalam risetnya, Weiss menyebut hanya Rusia dan Cina yang terang-terangan melakukan de-dolarisasi lewat pembelian emas melalui bank sentral masing-masing.
Di samping itu, terdapat fenomena "pembelian yang tidak dilaporkan" atau unreported buying. Pada 2025, diperkirakan 57 persen dari total pembelian emas di dunia dilakukan tanpa pengumuman resmi ke IMF.
Unreported buying kemungkinan besar dilakukan oleh Sovereign Wealth Funds atau lembaga pemerintah di luar bank sentral. Cina, Rusia, dan Arab Saudi, dicurigai sebagai aktor di balik itu.
Fenomena tersebut menandakan adanya pergeseran strategis di bawah radar, bahwa beberapa negara mulai membangun "cadangan bayangan" yang kebal dari pengawasan internasional.
Emas dan Batasan Fiksi Kolektif
Selama ini, kita tidak berdiri di atas fondasi konkret. Kita hidup dalam sebuah fiksi. Uang kertas yang kita genggam hanya cetakan dari janji, sementara ekonomi dunia terus melaju di atas tumpukan utang yang dibayar dengan utang berikutnya.
Seperti diingatkan Yuval Noah Harari dalam Sapiens, seluruh stabilitas tersebut hanya soal kesepakatan kolektif. Begitu kita berhenti percaya, tatanan bakal runtuh.
Lalu, mengapa dolar belum sepenuhnya runtuh meski harga emas melonjak? Jawabannya juga terletak pada keterbatasan fungsi emas yang berlaku dan disepakati di masyarakat.
Agar sebuah aset jadi mata uang internasional yang dominan bagi sektor resmi, ia harus memenuhi tiga fungsi: penyimpan nilai (store of value), satuan hitung (unit of account), dan alat tukar (medium of exchange).
Saat ini, emas sudah memenangkan pertempuran sebagai aset penjaga nilai. Bank sentral melihat emas sebagai aset aman (safe haven) yang tidak berisiko gagal bayar dari pihak lawan (no counterparty risk).
Hanya saja, emas gagal di dua fungsi lainnya. Hampir tidak ada negara di dunia yang memakai emas sebagai satuan hitung untuk jangkar nilai tukar, kecuali Zimbabwe, yang mencoba mematok mata uangnya secara parsial ke emas.
Lebih krusial lagi, emas sangat sulit digunakan sebagai alat tukar untuk intervensi pasar harian. Bank sentral butuh likuiditas instan untuk menstabilkan mata uang mereka, sementara menjual emas secara fisik butuh waktu serta proses logistik lebih rumit dibandingkan melikuidasi surat utang AS.
Data yang dipakai Weiss menunjukkan, bank sentral hanya menjual emas sebagai opsi terakhir ketika cadangan mata uang asing mereka sudah benar-benar kering. Bolivia (2023) dan Venezuela (2016), misalnya, terpaksa melikuidasi emas karena tidak memiliki sisa dolar untuk mendukung ekonomi mereka. Pola ini mempertegas bahwa dolar masih memegang kendali atas operasional ekonomi harian dunia.
Emas saat ini berfungsi sebagai "jangkar stabilitas" di dasar samudera geopolitik yang bergejolak, sementara dolar menjadi mesin yang menggerakkan kapal perdagangan di permukaan. Namun, meski kapal masih bergerak, para penumpangnya menunjukkan gejala ragu, apakah suatu saat nanti mesin dolar tersebut bakal limbung?
Dominasi dolar kemungkinan tidak akan tumbang oleh emas saja, melainkan oleh perpaduan antara hilangnya kepercayaan politik dan munculnya alternatif digital atau komoditas lain yang lebih cair. Adapun selama perang dan sanksi tetap jadi instrumen utama diplomasi, emas bakal terus bersinar sebagai fiksi yang masih dipercaya manusia, terutama ketika fiksi-fiksi lainnya mulai terbakar api konflik.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id































