tirto.id - Di dalam hutan terpencil Semenanjung Vogelkop, Papua, mamalia berkantung yang sempat diperkirakan sudah punah 6 milenium lampau, ditemukan. Dia adalah Tous (Tous ayamaruensis).
Dahulu, para peneliti hanya mengenal Tous dari sisa-sisa fosil gigi dan tulang berusia ribuan tahun, Namun, sekarang, bermula dari selembar foto dari seorang pekerja perkebunan pada 2015, misteri itu tersingkap.
Makhluk yang tergolong dalam Ordo Diprotodontia (Kelompok marsupial seperti kangguru, koala, dan posum) ini, ternyata masih bertahan hidup. Ia mengendap-endap di balik lebatnya hutan Papua.
Tous masih dalam lingkup famili Pseudocheiridae (Keluarga posum ekor cincin), tepatnya subfamili Hemibelideinae, yang umumnya hidup di kawasan hutan di Australia dan Papua. Ia berkerabat dekat dengan Petauroides (posum peluncur besar) dan Hemibelideus (posum lemur), tapi berasal dari genus berbeda.
Seperti kerabatnya dari subfamili Hemibelideinae, Tous memiliki adaptasi khusus untuk hidup di atas pohon. Dia punya cakar yang kuat, juga ekor yang berfungsi untuk membantu mobilitas di tajuk hutan.
Mengenal Tous, “Marsupilami” di Dunia Nyata
Marsupilami adalah karakter hewan fiktif yang diciptakan seniman komik, André Franquin. Karakter ini pertama kali muncul di majalah komik Spirou pada edisi 31 Januari 1952.
Hewan yang tinggal di hutan Palombia ini berbentuk layaknya macan tutul dengan telinga seperti anjing. Baik yang jantan maupun betina, mereka bisa menggunakan ekor sebagai senjata dengan mengencangkan ujungnya jadi kepalan tangan. Sisa ekor bisa ditekuk jadi spiral seperti pegas untuk kekuatan maksimal dalam melompat.
Jika melihat wujud fisik dan ukuran tubuhnya, Marsupilami jauh berbeda dengan Tous. Yang mencolok adalah warna kulit. Marsupilami punya warna kuning cerah dengan totol-totol hitam mencolok. Sebaliknya, Tous punya warna cokelat natural khas hewan hutan. Matanya besar menonjol mirip lemur, ditambah telinga gundul tanpa bulu yang mirip tupai terbang besar Australia.
Selain itu, ukuran Marsupilami cukup besar dan tinggi, setidaknya setara anak kecil. Tubuhnya kekar dan berotot. Di sisi lain, tous yang merupakan marsupial arboreal (pemanjat pohon) berukuran kecil. Ukurannya cuma berkisar sekitar 33 cm, dengan berat badan 9 hingga 11 ons.
Namun, ada pula kesamaan antara Marsupilami dan Tous. Keduanya hidup dan beraktivitas di atas pohon (kanopi hutan). Alhasil, mereka memiliki ekor yang sangat kuat. Ekor Marsupilami sangat fleksibel dan bisa mencengkeram layaknya tangan. Sementara itu, ekor Tous berfungsi untuk membantu geraknya dan mencengkeram dahan di tajuk pohon.
Soal kelincahan, keduanya mirip. Marsupilami mengandalkan ekor pegas untuk melompat atau bergerak lincah di antara pepohonan lebat. Pada Tous, kelincahannya ini didukung oleh selaput luncur (patagium) dan cakar kuat.
Kronologi Penemuan Kembali Tous yang Sempat Dinyatakan Punah
Dikutip dari SBS News, awal dari penemuan Tous datang dari seorang pekerja perkebunan di Papua pada 2015. Ia memotret seekor marsupial penghuni pohon yang tidak dikenalnya beberapa kali. Foto demi foto marsupial tadi dianalisis oleh tim peneliti. Hewan itu sekilas menyerupai posum peluncur besar asal Australia. Namun, adanya selaput luncur (patagium) dan ekor pencengkeram, menimbulkan pertanyaan.
Dari sanalah, penelitian berlanjut. Tim F. Flannery dan kawan-kawan mendapati hewan tersebut sangat mirip dengan posum yang diperkirakan sudah punah, dan hanya diketahui dari tulang-tulang fosil.
Berdasarkan publikasi ilmiah dalam Records of the Australian Museum (Flannery et al., 2026), awalnya fosil tersebut diklasifikasikan sebagai Petauroides ayamaruensis. Keberadaan hewan ini mulanya hanya terdeteksi dari sisa-sisa fragmen subfosil berusia sekitar 6.000 hingga 7.500 tahun yang berasal dari periode Holosen. Fosil tadi terkubur di Dataran Tinggi Ayamaru, Semenanjung Vogelkop, Papua Barat.
Kehadiran foto-foto hewan marsupial dari tahun 2015 jadi pemecah teka-teki soal Petauroides ayamaruensis. Spesies tersebut ternyata masih ada, bertahan hidup di dalam ekosistem hutan hujan dataran rendah hingga menengah di Semenanjung Vogelkop.
Berdasarkan kajian mendalam, peneliti lantas sepakat untuk mengeluarkan spesies ini dari genus lama dan menempatkannya ke dalam genus baru (Tous). Kini, satwa unik tersebut resmi dinamai secara ilmiah sebagai Tous ayamaruensis, yang berada di bawah naungan subfamili Hemibelideinae.
Penamaan Tous itu berasal dari istilah warga Papua untuk hewan tadi. Para tetua menyebutnya sebagai "Tous wansai," istilah yang membedakannya dari posum peluncur yang berukuran lebih kecil.
Mitos Tous bagi Masyarakat Adat Papua & Upaya Pelestariannya
Bagi warga setempat, Tous menyimpan nilai filosofis dan kultural yang kuat. Dikutip dari Museum Australia, Rika Korain, peneliti asal Suku Maybrat, Tous dipandang sebagai manifestasi roh leluhur yang berperanan penting dalam tradisi adat setempat.
Melansir Mongabay, ruang hidup Tous dianggap sebagai pusat alam semesta atau tempat asal mula bagi semua jenis makhluk hidup. Di beberapa titik, ada larangan berburu tous. Kuatnya adat untuk menjaga kelestarian satwa endemik ini terlihat dari pantangan masyarakat untuk sekadar menyebutkan namanya.
Namun, ancaman nyata kini mengintai kelestarian Tous. Dengan tubuh mereka yang mungil, Tous sangat rentan terhadap kerusakan lingkungan yang secara langsung mengancam jalur jelajah mereka. Tingkat reproduksi Tous pun rendah sebab hanya melahirkan satu bayi dalam setahun, ditambah jantan-betina membentuk pasangan seumur hidup.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id





























