Menuju konten utama

Sisi Baik dan Buruk Menanam Pohon di Tepi Jalan Raya, Solusinya?

Pohon di pinggir jalan dapat menjaga keseimbangan ekologis. Jika tidak terencana dengan baik, justru bisa merusak. Salah satunya melalui proses root have.

Sisi Baik dan Buruk Menanam Pohon di Tepi Jalan Raya, Solusinya?
Ilustrasi Hutan Kota. foto/ iStock
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Keberadaan pohon di tepi jalan memiliki sisi positif dan negatif. Hal ini tentunya menjadi dilematis. Pohon tepi jalan raya dapat menciptakan suasana yang teduh dan menjaga keseimbangan ekologis. Meskipun demikian, terdapat risiko berupa root heav alias pengangkatan permukaan akibat tekanan akar hingga berpotensi terjadi kecelakaan.

Pohon di tepi jalan menjadi bagian dari karakteristik kota dan lanskap jalan yang estetik, cara yang kerap diterapkan berbagai kota dengan perencanaan matang. Keberadaan pohon dinilai berguna untuk menstabilkan tanah, serta berkontribusi menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan tangguh.

Di lain sisi, pohon di pinggir jalan terkadang memunculkan masalah baru. Misalnya akar pohon berpotensi merusak jalan dan trotoar, hingga rambu-rambu yang tertutup pohon.

Pada tingkat yang membahayakan, ranting-ranting pohon yang patah bisa mengganggu pengguna jalan dan berpotensi memicu kecelakaan. Sebab itu, dibutuhkan pemilihan pohon dan tata kota yang tepat, agar pohon di tepi jalan tetap kokoh berdiri, tanpa perlu khawatir terhadap risiko.

Kasus Penebangan Pohon di Bandung

Ilustrasi pohon di pinggir jalan. tirto.id/Muhamad Nizar

Sisi Baik Menanam Pohon di Tepi Jalan Raya

Pohon di tepi jalan raya memiliki nilai penting. Pohon tepi jalan di kawasan padat bangunan memainkan peran sosial, ekonomi, dan lingkungan yang vital.

Secara umum, pohon di tepi jalan dapat menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan menjaga kualitas udara di sekitar. Melansir laman reliance-foundry.com (14/8/2019), daun-daun pohon memiliki peran penting untuk menangkap debu dan polutan udara.

Pohon melakukan proses fotosintesis, berguna menyerap karbon dioksida dari udara, dan menghasilkan oksigen yang diperlukan makhluk hidup. Proses ini memanfaatkan cahaya matahari, air, serta karbon dioksida untuk mendukung pertumbuhan tanaman secara alami.

Pohon di tepi jalan raya juga dapat membantu mengurangi suhu lingkungan melalui naungan dan pelepasan uap air dari permukaan daun. Dengan begitu, kawasan di sekitar jalan raya terasa teduh, meskipun di tengah cuaca yang terik.

Penyemprotan air antisipasi dampak abu vulkanik di Jakarta

Petugas Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta menyemprotkan air di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Minggu (6/9/2026). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.

Di negara-negara yang beriklim panas, keberadaan pohon jalanan terintegrasi dalam desain perkotaan dan pembangunan infrastruktur. Tujuannya meredam efek cuaca panas di perkotaan.

Kondisi jalan yang teduh dapat meningkatkan daya tarik untuk berjalan kaki. Suasana nan asri berpotensi dikunjungi banyak orang di titik tertentu, hingga dapat menggerakkan perekonomian sekitar. Selain itu, menanam pohon di tepi jalan juga bisa menahan air hujan dan menstabilkan tanah melalui peran akar.

Lanskap hijau di dalam komunitas perkotaan memberikan kelegaan bagi lingkungan kota yang padat bangunan. Tak jarang, pohon di sepanjang trotoar dan tepi jalan digunakan untuk meningkatkan karakter lanskap jalan yang dirancang selaras dengan infrastruktur. Misalnya memasang penerangan jalan serta bangku di sekitarnya.

Musim gugur di Beijing

Wisatawan berfoto dengan latar daun pohon ginkgo yang berubah warna menjadi kuning saat musim gugur di taman Zhongshan, Beijing, China, Selasa (11/11/2025). Waktu terbaik untuk menikmati warna kuning cerah dari pohon ginkgo di taman tersebut pada akhir Oktober hingga pertengahan November sebelum daun-daun berguguran saat memasuki musim dingin. ANTARA FOTO/Desca Lidya Natalia/agr

Sisi Buruk Menanam Pohon di Tepi Jalan Raya

Menanam pohon di tepi jalan raya juga memiliki sejumlah tantangan yang perlu dipertimbangkan oleh pemangku kebijakan, khusus pihak yang mengurusi tata kota. Upaya menyeimbangkan pertumbuhan pohon yang sehat tentu berhadapan dengan kenyataan jaringan utilitas bawah tanah yang kompleks.

Sebagaimana dikutip dari Green Blue Urban,lokasi di bawah trotoar dan jalan raya cenderung digunakan untuk jaringan utilitas, yaitu sistem jaringan yang luas mencakup pipa utama air, saluran gas, kabel listrik, pipa drainase air hujan, dan infrastruktur telekomunikasi.

Jaringan utilitas sering kali menempati zona tanah yang sama dengan tempat akar pohon menyebar secara alami. Akar pohon cenderung bergerak menuju sumber air, nutrisi, dan oksigen. Lantas dapat merambat mengikuti jalur galian utilitas jika ketersediaan volume tanah di area lain terbatas. Dengan demikian, perlu perencanaan secara matang agar pohon tetap subur tanpa membahayakan infrastruktur vital.

Pohon tumbang akibat hujan deras dan angin kencang di Bogor

Petugas gabungan mengevakuasi pohon tumbang di Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (12/2/2026). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc.

Berdasarkan informasi yang dikutip via laman City Green, pohon adalah organisme hidup yang kompleks dan memiliki keseimbangan yang presisi. Sebab itu, dibutuhkan ruang pohon agar memiliki akses terhadap tanah berkualitas tinggi yang melimpah, air, perawatan, serta ruang yang cukup agar akar bisa tumbuh.

Pohon di pinggir jalan kerap kali tumbuh di tempat yang dikelilingi tanah padat. Kondisi ini sering kali mendorong akar mencari celah di antara tanah padat dan lapisan trotoar. Sebab, di situlah pohon menemukan udara dan air yang diperlukan.

Pada fase yang sama, permukaan trotoar terangkat akibat tekanan akar pohon saat mencari nutrisi yang dibutuhkan. Fenomena ini sering disebut dengan root heave atau pengangkatan permukaan akibat tekanan akar.

Artikel Green Max menjelaskan root heave terjadi karena pertumbuhan alami akar pohon. Siklus pohon membutuhkan sistem perakaran yang luas untuk bertahan hidup, yang berarti akarnya dapat menyebar jauh dan melebar.

Pohon akan memanfaatkan setiap kesempatan untuk menyerap kelembapan serta nutrisi dalam tanah. Kawasan perkotaan dengan kondisi ruang dan permukaan tanah terbatas, sering kali tertutup beton atau aspal, akar pohon kerap berbenturan dengan infrastruktur.

Pohon Tumbang NTB

Petugas melakukan pembersihan dan pemotongan pohon yang tumbang sehingga menghalangi jalan raya. Pohon ini tumbang akibat diterjang angin kencang di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). ANTARA/BPBD NTB.

Upaya mencari air dan nutrisi mendorong akar untuk tumbuh di bawah dan menembus infrastruktur kota, sehingga menyebabkan root heave. Dalam penataan kota, fenomena root heave tidak hanya membuat ruang publik terlihat tidak rapi, tetapi juga dapat berdampak pada integritas struktural bangunan dan bahkan keselamatan lalu lintas.

Beberapa pesepeda, pejalan kaki, maupun pengendara sepeda motor yang tidak menyadari adanya root heave dapat tersandung atau bahkan mengalami kecelakaan.

Akar pohon memengaruhi struktur jalan dan bangunan, selain bisa menyebabkan kerusakan pada kabel dan jaringan pipa bawah tanah. Hal ini dapat mengakibatkan biaya perbaikan yang tinggi dan bahkan risiko keselamatan.

Data Departemen of Transportation Amerika Serikat pada Juni 2011 menyebut pohon menjadi objek yang paling sering tertabrak selama kecelakaan serius di tepi jalan. Tabrakan kendaraan dengan pohon menyebabkan lebih dari 4.000 kematian dan 100.000 cedera setiap tahun.

Melihat data tersebut, maka diperlukan penempatan jarak pohon yang aman di tepi jalan raya. Penanaman pohon di tepi jalan hanya boleh dilakukan di lokasi yang tidak menghalangi jarak pandang pengemudi dan risiko tertabrak kendaraan tergolong rendah.

Pohon Tumbang Semarang

Pohon tumbang menimpa sebuah mobil saat hujan angin di Kota Semarang, Rabu (4/3/2026) sore. Foto/Dok. BPBD

Opsi Solusi yang Bisa Dilakukan

Pada dasarnya, jalan merupakan ruang publik yang digunakan setiap hari untuk berkumpul, berjalan kaki, bersepeda, mengakses transportasi umum, atau berkendara. Di tengah kondisi yang dilematis, berbagai inovasi telah diterapkan agar menanam pohon di tepi jalan tetap aman dan tidak merusak bangunan maupun utilitas di bawahnya.

Pada September 2021, NSW Department of Planning, Industry and Environment memaparkan sejumlah solusi agar agar pohon di jalanan tetap berfungsi dengan baik.

Pertama, identifikasi tipologi jalan dan prioritaskan jalan-jalan yang memerlukan penanaman pohon. Pastikan lokasi menanam pohon menyediakan akses air dan kelembapan tanah yang memadai agar pertumbuhan pohon semakin optimal.

Tanpa air dan kelembapan yang mumpuni, pohon bisa mengalami stres serta mengganggu sistem perakaran hingga menyebabkan root heave.

Pengaspalan jalan pertanian di Kendari

Foto udara kendaraan roda dua melintasi jalan pertanian yang telah rampung di aspal di kawasan persawahan Amohalo, Kecamatan Baruga, Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (31/8/2026). Pemkot Kendari merampungkan pengaspalan jalan pertanian sepanjang 1,7 kilometer dengan anggaran sebesar Rp4,8 miliar guna memperlancar akses distribusi hasil pertanian di wilayah yang menjadi lumbung padi Kota Kendari itu. ANTARA FOTO/Andry Denisah/agr

Kedua, rencanakan penanaman pohon tepi jalan sesuai tipologi lokasi tanah, termasuk memahami volume tanah, drainase, dan kedalaman tanam. Sebagian besar akar pohon berkembang di lapisan tanah sedalam 600–800 mm dari permukaan, zona yang sama dengan tempat utilitas biasanya berada.

Lalu menyiapkan desain lubang tanam yang efektif dengan mengutamakan volume tanah secara lateral (menyamping). Hal ini memungkinkan akar menyebar dengan aman sekaligus melindungi infrastruktur di sekitarnya.

Saat menanam, pastikan kedalaman penanaman sepadan dengan tingkat kedalaman tanah tertentu dari tempat pembibitan. Menanam terlalu dalam dapat menyebabkan akar kekurangan oksigen dan membusuk. Sedangkan menanam sedikit lebih tinggi dari kedalaman asal pembibitan menjamin pertumbuhan yang sehat.

Pohon tabebuya di Surabaya

Sejumlah pohon tabebuya yang tumbuh di pinggir jalan berbunga di Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Jawa Timur, Senin (8/9/2025). ANTARA FOTO/Didik Suhartono/tom.

Ketiga, perlu respons kolaboratif yang melibatkan unsur pemerintah, pemangku kepentingan, dan masyarakat. Lakukan pengkajian kebijakan penanaman pohon di tepi jalan. Keberhasilan penanaman pohon kota di area yang padat jaringan utilitas memerlukan koordinasi proaktif antara arsitek lanskap, insinyur sipil, dan penyedia layanan utilitas.

Keterlibatan pihak-pihak tersebut dapat menciptakan pedoman koordinasi utilitas kota yang selaras dengan kebutuhan. Kolaborasi sejak dini membantu menentukan lokasi penanaman yang tepat, mengurangi potensi konflik, dan memastikan sistem tanah yang akan digunakan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05/PRT/M/2012 Tahun 2012 tentang Pedoman Penanaman Pohon pada Sistem Jaringan Jalan, lokasi penanaman harus berada di dalam area jalur penanaman.

Dijelaskan bahwa pohon pada sistem jaringan jalan di dalam kota dapat ditanam di batas ruang manfaat jalan, median, atau di jalur pemisah. Ruang manfaat mencakup badan jalan, saluran tepi jalan, dan ambang pengaman.

Daftar pohon yang direkomendasikan untuk tepi jalan berukuran sedang terdiri dari Saga (Adenanthera pavonine), Kenanga (Cananga odorata), hingga Flamboyan (Delonix regia). Khusus untuk pohon kecil semisal Tapak kuda (Bauhinia purpurea), Kasia rimbun (Cassia multijuga), serta Pohon terompet (Tabebuia pallida).

Baca juga artikel terkait POHON atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo