tirto.id - Iran masih memiliki resiliensi kuat dalam menghadapi agresi Amerika Serikat dan Israel di perang 2026. Secara statistik, kekuatan militer Iran nyaris tak mampu menandingi kekuatan militer AS dan Israel.
Gedung putih mengancam untuk memusnahkan Iran jika kesepakatan tidak segera tercapai. Namun, Iran tak gentar dan enggan bertekuk lutut. Iran dengan sadar menargetkan pangkalan AS di negara-negara Teluk Persia yang menjadi lokasi pangkalan militer AS menggunakan pesawat nirawak dan rudal.
Guna menjaga nafas panjang gerakan, Iran menerapkan Pertahanan Mozaik, yaitu sistem bertahan dari serangan pemenggalan kepemimpinan dengan cara pola penyebaran kekuatan (difusi). Iran juga menerapkan strategi asimetris dengan mengaanggu kekuatan lawan.
Di bawah kepemimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini, mengusung visi Iran sebagai kekuatan global yang berlandaskan kebanggaan budaya serta kemarahan terhadap kolonialisme. Nilai inilah yang turut menyokong Iran dalam menghadapi AS dan Israel.
Cara Iran Bertahan di Tengah Serangan Militer AS-Israel
Negara yang mendapat embargo global dan sanksi Uni Eropa ini menunjukkan kecerdikannya dengan berbagai strategi dalam menghadapi Militer AS-Israel. Salah satunya yaitu strategi decentralised mosaic defence atau pertahanan mosaik terdesentralisasi.
Iran menerapkan desentralisasi struktur komando militer, sebagaimana dirancang oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di bawah mantan komandan Mohammad Ali Jafari untuk memastikan kelangsungan negara.
Strategi ini dibangun dengan asumsi bahwa dalam perang apa pun melawan Amerika Serikat atau Israel, Iran mungkin kehilangan komandan senior, fasilitas vital, jaringan komunikasi, bahkan kendali terpusat, tetapi harus tetap mampu melanjutkan pertempuran.

Melalui Mosaic Defense, sistem otoritas, tata kelola, dan keamanan Iran dirancang agar tetap kokoh meski kehilangan para pemimpin dan komandannya. Melalui struktur pertahanan yang terbagi dalam berbagai lapisan regional dan bersifat semi-independen inilah yang membikin pertahanan Iran tetap kokoh meski pemimpin tertinggi, Ali Khamenei, tewas dalam serangan AS-Israel pada Februari lalu.
Laporan Al Jazeera Selasa (10/3) menyebutkan doktrin Pertahanan Mozaik ini diberlakukan untuk membuat sistem komando Iran sulit dilumpuhkan dengan kekuatan militer. Tak hanya itu, komando yang berlapis ini membuat situasi medan tempur sulit diselesaikan dengan cepat.
Strategi Pertahanan Mozaik bukan sekadar mempertahankan Teheran, atau bahkan melindungi kepemimpinan tertinggi itu sendiri. Melainkan menjaga menjaga keberlangsungan pengambilan keputusan, mempertahankan kesiapan operasional unit-unit tempur, dan mencegah perang berakhir akibat satu serangan yang melumpuhkan. Dengan demikian, Iran telah mempersiapkan untuk perang dalam jangka panjang.
Strategi ini diterapkan melalui proses sejarah panjang. Guncangan regional yang terjadi setelah invasi AS ke Afganistan pada tahun 2001 dan Irak pada tahun 2003 menjadi titik balik Iran untuk bergeser menerapkan strategi perang. Iran tak mau bernasib sama dengan runtuhnya rezim Saddam Hussein yang hanya dalam hitungan minggu.
Secara sadar, Iran mengakui bahwa kekuatan AS-Israel memiliki kemampuan intelijen yang mengunggulinya. Namun, Iran tak mau berkonfontrasi simetris, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera. Iran justru mengganggu keunggulan musuh. Misalnya dengan memperpanjang durasi konflik, dan meningkatkan biaya yang harus ditanggung musuh untuk melanjutkan perang tersebut.
Taktik Iran ini terbukti membuat perang menjadi lebih mahal bagi AS. AS terpaksa mengeluarkan biaya untuk mengganti persediaan rudal mahal seperti Tomahawk dan sistem pertahanan baru seperti pencegat Patriot dan THAAD.
Dalam penerapan doktrin Mozaik, berbagai institusi akan memainkan peran yang terencana. Angkatan darat reguler atau Artesh bertugas menahan serangan awal dan menstabilkan garis depan.
Lalu unit pertahanan udara melancarkan teknik penyembunyian, pengelabuan, dan penyebaran pasukan untuk meminimalkan keunggulan udara musuh. Selanjutnya, IRGC dan Basij mengambil peran mengubah perang menjadi perang atrisi atau pengurasan kekuatan.
Caranya dengan operasi terdesentralisasi, penyergapan, perlawanan lokal, gangguan terhadap jalur pasokan, serta operasi fleksibel di berbagai medan, termasuk pusat perkotaan, pegunungan, dan wilayah terpencil.
Di sinilah sistem komando wilayah yang terdesentralisasi di 31 provinsi Iran memberi ruang gerak yang lebih luas bagi komandan lokal untuk bertindak sesuai dengan kondisi geografis dan situasi medan perang.

Di samping itu, kekuatan angkatan laut menjalankan perannya melalui taktik anti-akses di Teluk dan di sekitar Selat Hormuz. Misi angkatan laut Iran dalam perang yaitu menjadikan pergerakan bebas sebagai tindakan yang berbahaya dan berisiko tinggi. Sebab, angkatan laut memanfaatkan kapal serbu cepat, ranjau, rudal anti-kapal, serta ancaman gangguan di salah satu koridor energi paling sensitif di dunia.
Melalui strategi yang matang tersebut, laporan Center for Strategic and International Studies menyebut Iran mampu menghancurkan sebagian besar infrastruktur militer AS di kawasan Teluk. Secara efektif, Iran meruntuhkan arsitektur keamanan yang telah lama dibangun dan diterapkan Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Rudal dan pesawat nirawak (drone) Shahed milik Iran berhasil menembus pertahanan intersepsi AS dan negara-negara Arab. Tak berhenti di situ, Iran memperluas serangannya ke pangkalan militer AS di negara-negara Arab yang menampung aset militer AS atau berpartisipasi dalam operasi Paman Sam.
Selain itu, Iran menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz. Jalur ini menjadi rute pengiriman sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Selat ini menjadi satu-satunya akses jalur air menuju laut lepas yang tersedia bagi negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk.
Berapa Lama Iran dapat Bertahan?
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara diplomatis menegaskan bahwa wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei tidak serta merta membuat Iran lumpuh. Sebab, Iran telah merancang strategi matang untuk meladeni kekuatan AS-Israel.
"Kami memiliki waktu dua dekade untuk mempelajari kekalahan militer AS di wilayah sebelah timur dan barat kami. Kami telah menerapkan pelajaran-pelajaran tersebut," tulis Seyed Abbas Araghchi dalam sebuah unggahan di X per 1 Maret 2026, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Kamis (12/3).
"Pengeboman di ibu kota kami tidak berdampak pada kemampuan kami untuk melancarkan perang," tegas Abbas Araghchi.
Meski tak menyebut perang mana yang dimaksud, tetapi tetangga Iran di sisi timur yang berkonflik dengan AS yakni Taliban di Afganistan.
Iran mencermati kekalahan AS dalam melawan Taliban yang mana menjadi salah satu perang terlama yang melibatkan Washington. Selama dua dekade, Taliban yang sempat terguling kembali menggalang kekuatan dan melancarkan perang asimetris terhadap pasukan AS dan pemerintah Afganistan.
Taliban telah meluluhlantakkan strategi milik Washington, serta meneror seluruh komunitas yang bekerja sama dengan pasukan AS. Afganistan juga menarik mundur sisa pasukan tempur AS yang tersisa. Perang yang memakan biaya besar ini membuat kondisi Afganistan menjadi sangat kritis.

Di tambah lagi, krisis keuangan tahun 2008 memaksa Washington untuk semakin memusatkan perhatian pada urusan dalam negeri, sehingga melemahkan komitmen luar negerinya, termasuk mengurusi Afganistan.
Dalam waktu singkat, Taliban mampu menguasi kota-kota utama negara dan menduduki ibu kota. Melihat kenyataan tersebut, Presiden Ashraf Ghani terpaksa melarikan diri dari negara tersebut. Kegagalan strategi pemerintahan Obama yang menerapkan penambahan jumlah pasukan di Afganistan dan Pakistan menandai awal dari akhir perang AS melawan Taliban.
Bagi Iran, perang melawan AS-Israel telah dirancang untuk waktu yang panjang. Sebab, kesepakatan apa pun harus mencakup penghentian blokade AS yang menghalangi kapal-kapal Iran menggunakan jalur perairan penting di Teluk. Iran ingin mempertahankan kendali atas selat Hormuz dan memungut biaya dari kapal-kapal yang melintasinya, sebuah langkah yang ditolak oleh AS.
"Perlawanan rakyat Iran justru akan semakin menguat dalam menghadapi sanksi, peningkatan tekanan, dan intimidasi," ujar Presiden Iran, Pezeshkian di hadapan PBB Majelis Umum PBB, dikutip dari BBC.
Kesiapan perang jangka panjang melawan AS-Israel ini juga disampaikan sejak awal oleh Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani.
"Kami akan mempertahankan diri, apa pun risikonya," ujar Ali Larijani, dikutip dari dw.com, Minggu (3/5)
Dalam menjaga napas panjang pejuangan, Iran memperkuat logistik perang termasuk mengandalkan sistem rudal dan drone miliknya. Laksamana Brad Cooper, kepala Komando Pusat AS mencatat per Rabu, 4 Maret 2026, Iran telah meluncurkan lebih dari 500 rudal balistik dan lebih dari 2.000 drone. Sementara itu, militer Israel memperkirakan Iran memiliki sekitar 2.500 rudal balistik.
Selain mengandalkan alutsista, Iran juga memperkuat kerja sama multilateral, salah satunya melalui BRICS.
BRICS yang beranggotakan 11 negara termasuk Rusia dan Cina ini menjadi jalur alternatif yang kokoh bagi Teheran dalam menghadapi embargo Barat.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id





































