Menuju konten utama

Iran Ancam Serang Aset AS di Timteng, Harga Minyak Melambung

Iran mengancam menyerang aset AS di Asia Barat. Ketegangan ini mendorong harga minyak dunia kembali melambung.

Iran Ancam Serang Aset AS di Timteng, Harga Minyak Melambung
Peta Timur Tengah. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah kembali memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Ancaman balasan dari Iran terhadap setiap potensi serangan baru Amerika Serikat (AS) di kawasan tersebut memperbesar kecemasan pasar akan gangguan pasokan energi global.

Mengutip Reuters, perdagangan Selasa dini hari pukul 00.00 GMT, harga minyak mentah berjangka jenis Brent terangkat 34 sen atau 0,35 persen ke posisi 97,34 dolar AS per barel.

Kenaikan juga dialami jenis West Texas Intermediate (WTI) AS yang melambung 1,15 doral AS atau 1,26 persen hingga menyentuh 92,63 dolar AS per barel.

Eskalasi ini dipicu oleh ultimatum dari pihak Tehran terkait kerentanan objek-objek vital. Iran memperingatkan bahwa infrastruktur energi di seluruh kawasan Teluk, termasuk aset minyak dan gas milik AS, berada dalam posisi rentan.

Pernyataan tersebut merupakan buntut dari aksi saling serang pekan lalu yang belum menunjukkan titik terang diplomasi. Berdasarkan keterangan Komando Pusat AS, armada militer AS menggempur tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu, termasuk satu unit di area Pulau Kharg yang menjadi urat nadi ekspor minyak negara tersebut.

Serangan ini diambil usai pasukan Garda Revolusi Iran melancarkan serangan terhadap kapal-kapal perang AS di perairan kawasan. Kondisi mencekam di sekitar Selat Hormuz membuat para pelaku pasar menyuntikkan premi risiko yang lebih tinggi.

Analis ANZ, Daniel Hynes, menilai bahwa aksi militer terukur dari kedua belah pihak akan memperpanjang konflik.

"Eskalasi konflik Timur Tengah baru-baru ini meningkatkan kemungkinan terjadinya ketegangan yang berkepanjangan, yang ditandai oleh aksi militer terukur dari AS dan Iran. Hal ini dapat menyebabkan pasokan dari Teluk Persia tetap terbatas sepanjang sisa tahun 2026," ujar Hynes dikutip dari Reuters, Selasa (8/9/2026).

Ia menambahkan bahwa pemulihan volume pengiriman secara penuh diperkirakan baru akan terealisasi pada akhir kuartal I atau awal kuartal II 2027.

Menanggapi prospek gangguan distribusi yang berpotensi berlanjut hingga tahun depan, sejumlah lembaga keuangan dunia mulai merombak proyeksi harga minyak mentah:

Goldman Sachs: Mengerek proyeksi harga Brent dan WTI masing-masing sebesar 5 dolar AS. Perkiraan harga untuk Desember 2026 disesuaikan menjadi 85 dolar AS (Brent) dan 80 dolar AS (WTI), serta 80 dolar AS untuk Brent dan 75 dolar AS untuk WTI di tahun 2027.

Marex: Analis Ed Meir dalam laporan prospek komoditas September menyatakan bahwa selama peperangan masih berlangsung, mengingat banyaknya masalah yang belum terselesaikan, harga minyak mentah diproyeksikan bakal bertahan tinggi hingga pengujung tahun.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dipna Videlia Putsanra