Menuju konten utama

Sejauh Mana Rusia Membantu Iran Terkait Konflik dengan AS?

Rusia diduga banyak membantu Iran dalam upaya melawan invasi Amerika Serikat. Bantuan itu bukan terjun langsung dalam operasi militer. Simak ulasannya.

Sejauh Mana Rusia Membantu Iran Terkait Konflik dengan AS?
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengadakan pertemuan di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Bishkek pada 1 September 2026. (Foto oleh Kristina Solovyova / POOL / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Rusia Vladimir Putin baru-baru ini menyatakan kesiapannya untuk membantu Teheran selama “masa sulit” bagi negara Teluk Persia itu. Pernyataan itu disinyalir merupakan sinyal dukungan Rusia bagi Iran dalam perang menghadapi Amerika Serikat (AS).

Peperangan antara Iran dan AS yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 tak kunjung usai. Enam bulan sudah, konflik terjadi dengan eskalasi yang timbul-tenggelam seiring waktu.

Sepekan terakhir, pertempuran kembali dilancarkan baik oleh militer AS maupun Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Korban jiwa kembali berjatuhan seiring ketidaksepahaman negara berkonflik atas otorisasi jalur pelayaran Selat Hormuz yang terus terjadi.

Di tengah situasi tersebut, Rusia mengumumkan kesiapan mereka untuk memberikan dukungan konkret terhadap Teheran. Hal ini diungkap Vladimir Putin di sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Kirgistan pada Selasa (1/9/2026).

Dalam pernyataannya, Putin menyebut Rusia siap memasok “peralatan yang diperlukan” ke Teheran. Hal ini digambarkan Putin sebagai bantuan yang dibutuhkan sekutunya di “masa sulit” sekarang ini.

“Kami berusaha memberi Anda bantuan yang Anda butuhkan selama masa sulit ini. Kami telah membahas masalah ini, dan kami memasok Anda dengan peralatan yang diperlukan,” kata Putin kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam sebuah pertemuan di sela KTT SCO di Kirgistan.

Iran dan Rusia selama ini memang dikenal sebagai dua negara yang bersekutu. Teheran juga selama ini telah menampilkan diri sebagai negara yang mengandalkan poros Moskow, di samping juga Shanghai, sebagai cara bertahan di tengah berbagai sanksi ekonomi dari komunitas internasional.

Sementara itu, dalam peperangan antara Iran dan AS, Rusia selama ini juga dilaporkan telah memberikan bantuan kepada Teheran meski mungkin tak tampak di publik. Ungkapan Putin untuk memberi bantuan pada Iran pada Selasa tersebut, merupakan perkembangan baru dan mengindikasikan sejauh mana bantuan Moskow menjangkau Teheran.

Kerja Sama Rusia-Iran Tidak Termasuk Komitmen Pertahanan Bersama

Seturut lembaga think-tank nirlaba yang berbasis di Riyadh, Arab Saudi, bernama Rasanah IIIS, Iran dan Rusia telah menjalin kerja sama komprehensif sejak sebelum Perang AS-Iran berlangsung. Kerja sama ini tertuang dalam Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif yang diteken pada 2025 lalu.

Dalam kerangka perjanjian itu, Moskow dan Teheran telah sepakat untuk saling memberikan bantuan di berbagai bidang, termasuk militer dan keamanan. Perjanjian ini tercapai seiring menguatnya hubungan kedua negara sejak pecah Perang Rusia-Ukraina pada 2022.

Iran selama ini dikenal sebagai salah satu pemasok utama teknologi drone tempur Rusia dalam melancarkan perang dengan Ukraina. Berdasarkan laporan-laporan independen yang muncul, sedikitnya 6.000 drone Shahed telah diimpor Rusia dari Iran. Teheran bahkan membantu pembuatannya agar bisa diproduksi lokal di Rusia.

Meski begitu, kerja sama itu dilaporkan tidak memuat komitmen pertahanan bersama. Hal ini membuat kedua negara tak berkewajiban untuk saling menerjunkan personel militer mereka untuk turut serta dalam pertempuran masing-masing negara.

Pertemuan presiden Rusia dan Iran

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengadakan pertemuan di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Bishkek pada 1 September 2026. FOTO/president.ir/

Perjanjian itu hanya berisi komitmen kedua negara untuk menggelar latihan tempur bersama dan bertukar keahlian pertahanan. Kedua negara juga sepakat untuk memberikan bantuan intelijen, selain kesepakatan untuk tidak mendukung gerakan separatis di masing-masing negara.

Hal ini berbeda dari perjanjian yang dimiliki Rusia bersama Korea Utara. Kedua negara itu memiliki perjanjian komitmen pertahanan bersama yang memungkinkan tentara Korea Utara turut diterjunkan dalam pertempuran melawan Ukraina.

Ketiadaan kewajiban untuk ikut serta dalam pertempuran masing-masing juga membuat Rusia sejauh ini tak tampak mengerahkan kekuatan militernya untuk membantu Iran dalam perang melawan AS — setidaknya, tidak secara terang-terangan.

Dalam Perang Iran-AS, bantuan Moskow ke Teheran dilaporkan terbatas pada pemberian informasi intelijen yang berfungsi untuk menargetkan serangan di kawasan Teluk.

Pun dalam pernyataan Putin pada Selasa lalu, Presiden Rusia itu menyebut kesiapan pihaknya memberikan bantuan logistik alih-alih pengerahan unit tempur mereka. Hal ini masih sejalan dengan kerangka perjanjian kedua negara pada 2025.

Meski begitu, belum jelas akan sejauh mana Rusia akan membantu Iran dalam pertempuran melawan AS di masa depan. Seiring tak adanya konfirmasi resmi, kerja sama kedua negara bisa berarti apa saja.

Hanya saja, dalam pertemuan di KTT SCO di Kirgistan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengungkap keyakinannya akan posisi Iran dalam perang melawan AS. Kepada Putin, Pezeshkian menyatakan keyakinannya bahwa bangsanya akan memenangkan pertempuran pada akhirnya.

“Saya yakin kita akan menang,” tutur Pezeshkian

Dukungan Rusia untuk Iran: Dari Intelijen ke Pengembangan Rudal

Meskipun dukungan Rusia untuk Iran selama ini tak berbentuk pengerahan unit tempur, namun laporan yang ada menyiratkan bahwa Moskow telah terlibat dalam serangan yang dilakukan Teheran. Ada jejak keberadaan Rusia di balik serangan rudal dan drone Iran yang kini jadi kekuatan utama Teheran bertahan dari gempuran AS.

Sejauh ini, laporan independen mengendus adanya asistensi Rusia dalam serangan Iran yang meluas di Teluk. Bantuan-bantuan itu berbentuk pemberian informasi intelijen hingga pengembangan senjata.

1. Memberikan Akses ke Pengawasan via Satelit

Menukil Defence Security Asia, Rusia dilaporkan telah memberikan bantuan kepada Iran dalam perang melawan AS dengan akses ke teknologi pengawasan via satelit mereka. Hal ini disebut menjadi alasan mengapa Iran bisa memperluas cakupan deteksi lokasi unit militer AS di kawasan Teluk.

Tak hanya berguna untuk mendeteksi lokasi unit militer AS, teknologi pengawasan via satelit Rusia juga disinyalir telah memberikan berbagai informasi penting lainnya. Hal ini termasuk kapan pesawat dikerahkan dan menunjukkan apa yang tampak seperti persiapan menuju serangan berikutnya.

Akses ke teknologi pengawasan via satelit ini juga diduga digunakan Iran sebagai basis informasi dalam bertahan di tengah gempuran bom AS. Hal ini dikarenakan teknologi pengawasan orbital ini disinyalir mampu menunjukkan jejak pengerahan militer AS di Teluk dan membuat Iran dapat memprediksi potensi serangan berikutnya.

Sejauh ini Iran dan Rusia tak mengonfirmasi hal tersebut. Hanya saja, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya telah mengatakan kepada parlemen AS bahwa Gedung Putih menilai Rusia dan Cina telah membuat aktivitas militer Iran beroperasi “pada tingkat yang berbeda”.

2. Berbagi Intelijen Sinyal untuk Menentukan Lokasi Target Serangan Lebih Presisi

Selain teknologi pengawasan, Rusia juga disebut telah memberikan bantuan kepada Iran berupa transfer intelijen sinyal. Hal ini diduga menjadi faktor krusial dalam pemilihan target serangan Iran agar lebih presisi.

Intelijen sinyal yang dibagikan itu dapat berupa informasi frekuensi komunikasi yang digunakan musuh, mode radar yang tengah digunakan, lokasi pemancar, aktivitas penggunaan data digital hingga penanda senjata. Dipadukan dengan citra satelit, informasi ini dapat mencegah Iran dari ketidaktahuan aktivitas musuh dan memberikan lebih banyak basis informasi untuk menentukan respons.

Intelijen sinyal ini juga disebut dapat digunakan untuk operasi pengacauan transmisi alutsista jarak jauh. Hal ini termasuk tindakan untuk mengacaukan arah drone AS atau amunisi presisi lain.

3. Pengembangan Rudal Jelajah Supersonik

Baru-baru ini, dokumen yang menunjukkan kerja sama rahasia Rusia dan Iran atas pengembangan rudal bocor ke media massa. Outlet berita internasional melaporkan bahwa dokumen itu menyiratkan kerja sama Rusia untuk ikut membantu Iran mengembangkan rudal jelajah supersonik mereka.

Rudal Sejjil Iran

Rudal Sejjil Iran. (Tangkapan Layar Video IRGC via Viory)

Kerja sama itu disebut dilakukan dengan kode C430L yang telah dimulai sejak 2023 dan terus berlangsung sepanjang 2026 ini. Program ini juga terus dilakukan di tengah Perang Iran-AS.

Program pengembangan rudal supersoni disebut memiliki fokus untuk mengembangkan propulsi ramjet, suatu teknologi mesin yang memungkinkan rudal mempertahankan kecepatan supersonik. Hal ini membuat rudal akan memperpendek waktu yang dibutuhkan sistem pertahanan lawan dalam mendeteksi dan mencegat serangan.

Meski begitu, sejauh ini belum ada bukti yang mendukung klaim bahwa rudal dengan sistem propulsi yang baru telah digunakan Iran dalam peperangan. Uji coba atasnya diduga telah dilangsungkan, namun belum ada bukti bahwa program C430L telah sampai pada tahap produksi rudal operasional.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - News Plus
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar