tirto.id - Pertemuan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di tengah perang Iran dengan Amerika Serikat menjadi sorotan. Apalagi setelah Putin secara terbuka menyatakan bahwa Moskow mendukung dan memberikan bantuan kepada Teheran.
Dalam pertemuan yang berlangsung di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Bishkek, Kirgistan, Putin mengatakan Rusia sedang memasok peralatan yang diperlukan serta bantuan lain untuk membantu Iran melewati masa sulit.
“Kami berusaha memberi Anda bantuan yang Anda butuhkan selama masa sulit ini. Kami telah membahas masalah ini, dan kami memasok Anda dengan peralatan yang diperlukan.” kata Putin pada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dikutip i24news (1/9/2026).
Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin tidak hanya membahas bantuan Rusia selama konflik, tetapi juga membicarakan hubungan bilateral dan upaya memperluas kerja sama kedua negara.
Pezeshkian menunjukkan keyakinan terhadap posisi Iran dalam perang dengan mengatakan kepada Putin bahwa dirinya yakin Iran akan menang.
“Saya yakin kita akan menang.” tegasnya.
Rusia Disebut Bantu Iran Kembangkan Teknologi Rudal Jelajah Supersonik
Laporan Financial Times yang dikutip dari laman Iran International (2/9/2026) mengungkap adanya dugaan kerja sama rahasia Rusia dan Iran dalam pengembangan teknologi rudal jelajah supersonik yang berpotensi memperkuat kemampuan Teheran dan mengancam kapal perang Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan korespondensi Rusia yang bocor, catatan perjalanan, serta paten militer yang ditinjau Financial Times, program dengan kode C430L disebut dimulai pada 2023 dan terus berjalan hingga 2026, termasuk selama perang tahun ini yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Fokus utama program tersebut adalah pengembangan sistem propulsi ramjet, yaitu teknologi mesin yang memungkinkan rudal mempertahankan kecepatan beberapa kali lipat dari kecepatan suara.
Kecepatan tinggi tersebut berpotensi memangkas waktu yang tersedia bagi sistem pertahanan lawan untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan mencegat rudal.
“Bagi Iran, ini akan memberi mereka sistem senjata strategis yang secara kualitatif baru yang dapat mengancam kapal-kapal Angkatan Laut AS,” kata Jim Lamson, mantan analis militer CIA yang fokus pada Iran, kepada FT.
Rudal jelajah supersonik menggabungkan kecepatan tinggi dengan kemampuan terbang pada ketinggian rendah. Kombinasi itu dapat mengurangi waktu reaksi pertahanan udara dan rudal, terutama di lingkungan seperti Teluk Persia yang memiliki jarak relatif sempit dan menjadi lokasi operasi berbagai sistem pertahanan AS serta negara-negara sekutunya.
Meski demikian, laporan tersebut menegaskan bahwa belum ada bukti rudal jelajah supersonik hasil bantuan Rusia telah masuk ke dalam layanan operasional Iran.
Iran disebut telah membangun dan melakukan uji terbang terhadap sistem propulsinya, tetapi tahap pengembangan hingga menjadi rudal operasional masih belum terbukti.
Menurut dokumen yang ditinjau Financial Times, kerja sama tersebut melibatkan Rosoboronexport, perusahaan ekspor persenjataan milik negara Rusia, dan perusahaan pengembang rudal NPO Mashinostroyenia.
Insinyur Rusia disebut beberapa kali melakukan perjalanan ke Iran sebelum kontrak dengan Kementerian Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata Iran ditandatangani pada November 2023. Bentuk kerja sama ini tampaknya bukan sekadar pengiriman komponen atau senjata jadi.
Pada 2025, para spesialis Rusia dilaporkan membantu menganalisis data hasil pengujian Iran dan memberikan masukan mengenai sistem bahan bakar ramjet, stabilitas pembakaran, saluran masuk udara, serta nosel mesin.
Dengan demikian, bantuan Rusia terletak pada transfer pengetahuan dan kemampuan rekayasa, yang memungkinkan Iran menyelesaikan persoalan teknis dalam mengembangkan sistemnya sendiri.
“Ini adalah transfer teknologi militer yang sangat sensitif secara strategis dari Rusia yang telah diinginkan Iran selama beberapa dekade,” kata Fabian Hinz, analis senior di Conflict Armament Research, kepada FT.
“Program seperti ini akan membutuhkan persetujuan politik dari tingkat tertinggi di Rusia,” katanya.
Ketika FT menghubungi untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, baik Kremlin, Rosoboronexport, NPO Mashinostroyenia, dan pemerintah Iran enggan memberikan komentar.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































