Menuju konten utama

Hujan dan OMC Bikin Kualitas Udara Palembang Membaik

Sempat menyentuh level berbahaya, polusi udara di Palembang akhirnya mereda usai diguyur hujan. Namun, BMKG Sumsel ingatkan ancaman karhutla belum usai.

Hujan dan OMC Bikin Kualitas Udara Palembang Membaik
Foto udara sejumlah kendaraan melintas di atas Jembatan Ampera Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (2/9/2026). Kementerian Kebudayaan menetapkan Jembatan Ampera Palembang yang dibangun pada tahun 1962 sepanjang 1.117 meter, lebar 22 meter itu sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional sebagai upaya pemerintah untuk memperkuat pelindungan warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai penting bagi sejarah ilmu pengetahuan pendidikan, agama, dan kebudayaan bangsa. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kualitas udara di Palembang mulai membaik usai sejumlah wilayah di Sumatera Selatan diguyur hujan pada Selasa (22/9/2026). Meski demikian, ancaman kebakaran hutan dan lahan tetap besar mengingat masih berlangsung musim kemarau.

Berdasarkan pantauan Stasiun Talang Betutu Palembang, konsentrasi partikulat halus PM2.5 pada Rabu (23/9/2026), berada di angka tertinggi, yakni 55,2 mikrogram per meter kubik sejak pukul 01.00-08.00 WIB. Angka PM2.5 tersebut menunjukkan masuk dalam kategori sedang.

PM2.5 kembali menurun pukul 09.00-13.00 WIB di angka 58,7 mikrogram per meter kubik atau kategori tidak sehat. Namun angka ini jauh membaik dibanding sebulan terakhir yang berada di atas 500 mikrogram per meter kubik atau kategori berbahaya.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, menjelaskan perbaikan kualitas udara di Palembang tak lepas pengaruh dari adanya hujan di beberapa daerah dengan intensitas ringan sedang atau berkisar 6-50 milimeter per hari. Hujan terjadi hampir merata, terutama di Ogan Ilir, Musi Banyuasin, dan bagian timur Banyuasin.

"Ya, kualitas udara di Palembang membaik karena pengaruh hujan kemarin," ungkap Wandayantolis, Rabu (23/9/2026).

Wandayantolis menyebut hujan kemarin muncul alami dan dibantu oleh Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Metode OMC sengaja dilakukan di lokasi yang terdapat awan potensial.

"Hujan kemarin memang natural, tapi didukung juga oleh OMC," kata Wandayantolis.

Kemarau Berlangsung Sampai November, Karhutla Masih Mengancam

BMKG memprediksi peluang hujan kembali ada dalam dua hari ke depan. Hanya saja, intensitasnya cenderung menurun dibanding hujan kemarin.

"Peluang hujan ada tapi berkurang. Tinggal dimanfaatkan dengan OMC untuk memperkuat potensinya," kata dia.

Wandayantolis mengatakan, meski adanya hujan di puncak musim kemarau, bukan berarti musim hujan sudah tiba. Menurut dia, kemarau di Sumsel diprediksi masih berlangsung hingga awal November 2026.

"Sekarang masih musim kemarau, ancaman karhutla dan kekerangan masih sangat besar, perlu diwaspadai semua pihak," pungkas Wandayantolis.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Siti Fatimah