Menuju konten utama
Orang Hilang di Anak Krakatau

Jurnalis-Kru Hilang di GAK: Akankah Operasi SAR Dibuka Lagi?

Penemuan ABK tidak secara otomatis dapat dijadikan bukti baru untuk memperluas atau membuka kembali area pencarian jurnalis-kru oleh Basarnas.

Jurnalis-Kru Hilang di GAK: Akankah Operasi SAR Dibuka Lagi?
Jurnalis memotret foto semasa hidup anak buah kapal Arupadhatu 1, Surakman, saat konferensi pers di Mapolda Banten, Kota Serang, Banten, Rabu (23/9/2026). Kepolisian mengidentifikasi jasad pria tanpa identitas yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, pada 12 September 2026 sebagai Surakman melalui pemeriksaan laboratorium forensik dan tes DNA. ANTARA FOTO/Rafsanjani/pma/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Surakman (60), seorang anak buah kapal (ABK) kapal cepat Arupadatu I, yang ditemukan meninggal dunia di Pulau Enggano, Bengkulu Utara menjadi harapan baru dalam pencarian rombongan jurnalis dan kru yang hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Sebab, hasil identifikasi jenazah Surakman diumumkan ketika operasi SAR sudah ditutup. Pemerintah melalui Basarnas pun diharapkan kembali membuka operasi SAR tersebut untuk menelusuri tujuh korban lainnya.

Pewarta Foto Indonesia (PFI) mendesak Basarnas beserta tim SAR gabungan TNI/Polri untuk segera membuka kembali Operasi SAR Gabungan. Hal ini sebagaimana Pasal 34 ayat (3) huruf a UU SAR bahwa operasi SAR dapat dibuka kembali apabila ditemukannya korban, meski ini bukan menjadi suatu kewajiban.

"Penemuan jasad salah satu kru kapal ini merupakan bukti autentik pertama sejak hilangnya rombongan. Ini mematahkan segala spekulasi dan menjadi petunjuk arah baru mengenai keberadaan kapal serta para penyintas (survivor) lainnya," ujar Ketum PFI Pusat, Dwi Pambudo, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Dwi menerangkan, PFI meminta penyisiran intensif dilakukan kembali secara fokus di kawasan radius ditemukannya jenazah tersebut serta jalur perairan arah Selat Sunda menuju Enggano. Dia pun mengingatkan kembali komitmen dari otoritas SAR pada saat penutupan operasi pekan lalu yang menyatakan bahwa operasi penyelamatan akan langsung dibuka kembali secara otomatis jika ditemukan petunjuk atau tanda-tanda baru mengenai keberadaan para korban.

"Harapan kami dan pihak keluarga sama sekali belum padam. Kami meminta negara hadir secara maksimal untuk melacak keberadaan 5 rekan jurnalis kami dan 2 kru kapal lainnya yang masih berstatus hilang. Waktu sangat berharga, dan setiap detiknya berarti bagi keselamatan mereka," tutur Dwi.

Hingga saat ini, kata Dwim, PFI Pusat bersama seluruh pengurus daerah terus melakukan pendampingan penuh terhadap keluarga dari kelima jurnalis foto yang hilang. Mereka adalah Yudistiro Pranoto (iNews), Donal Husni (jurnalis lepas), Arie Basuki (Merdeka.com), Firdaus Wajidi (Anadolu Agency), dan Muhammad Bagus Khoirunas (LKBN Antara).

"PFI juga akan mengawal seluruh proses ini hingga tuntas," ucap Dwi.

Di sisi lain, Dwi menyampaikan rasa duka cita yang mendalam kepada keluarga mendiang kru kapal tersebut. Dia juga berharap, tujuh orang lainnya dapat segera ditemukan.

Sementara itu, Kepala Basarnas, Marsma TNI Mohammad Syafii, menegaskan bahwa penghentian operasi gabungan yang sebelumnya dikerahkan khusus untuk mencari para jurnalis tidak berarti dihentikan sepenuhnya.

Syafii menerangkan, pencarian terhadap korban tetap dilakukan melalui operasi rutin yang dilaksanakan kantor-kantor SAR di sejumlah wilayah. Operasi tersebut mencakup Kantor SAR Banten, Lampung, hingga Bengkulu.

"Sesuai yang sudah menjadi ketentuan dalam pelaksanaan tugas di Basarnas bahwa operasi akan terus dilakukan. Yang dihentikan adalah operasi gabungannya. Dialihkan ke operasi rutin, yaitu Kantor SAR Banten tetap melaksanakan operasi, Kantor SAR Lampung tetap operasi," kata Syafii di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Menurut dia, pencarian pun tetap dilakukan di wilayah Bengkulu setelah jasad Surakman ditemukan di Pulau Enggano. Keberadaan korban di wilayah tersebut sebelumnya menimbulkan kemungkinan bahwa pencarian tidak hanya berfokus di sekitar perairan Selat Sunda dan Lampung.

Kepolisian berhasil identifikasi jenazah ABK Arupadhatu 1

Kapolda Banten Irjen Pol Hengki (tengah) bersama Gubernur Banten Andra Soni (kiri), Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Kakansar) Banten Al Amrad (kanan), Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea (kedua kiri), dan Kabid Dokkes Polda Banten Kombes Pol I Gusti Gede Dharma Arimbawa (kedua kanan) menunjukkan foto saat konferensi pers temuan jenazah anak buah kapal Arupadhatu 1, Surakman, di Mapolda Banten, Kota Serang, Banten, Rabu (23/9/2026). Kepolisian mengidentifikasi jasad pria tanpa identitas yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, pada 12 September 2026 sebagai Surakman melalui pemeriksaan laboratorium forensik dan tes DNA. ANTARA FOTO/Rafsanjani/pma/kye

Syafii menjelaskan, Kantor SAR Bengkulu hingga kini masih melaksanakan operasi rutin untuk mengantisipasi kemungkinan ditemukannya korban lain. Dengan demikian, wilayah pencarian tetap terbuka terhadap kemungkinan adanya korban yang terbawa arus ke wilayah yang lebih jauh dari lokasi awal hilangnya kapal.

"Pada saat ditemukan di Pulau Enggano, Kantor SAR Bengkulu juga sedang melaksanakan operasi. Jadi operasi ini sampai sekarang tetap berjalan," tutur dia.

Syafii menambahkan, jauhnya lokasi penemuan korban dari titik awal hilangnya kapal masih memungkinkan dijelaskan oleh kondisi arus laut. Menurut dia, karakter arus laut tidak selalu sama pada setiap kedalaman. Terdapat arus permukaan, arus tengah, hingga arus dasar laut yang dapat memiliki arah dan kecepatan berbeda.

"Arus kan juga ada arus permukaan, arus tengah, ada arus dasar. Yang terjadi di KM Virgo ini hanya 30 meter, tapi arus permukaan, arus tengah, dan arus dasar laut berbeda dengan kecepatan yang berbeda," ungkap Syafii.

Kondisi tersebut membuat Basarnas tidak menutup kemungkinan korban dapat terbawa jauh dari lokasi awal kejadian. Apalagi, pencarian di wilayah sekitar sebelumnya tidak menemukan tanda-tanda lain yang menghubungkan korban dengan kapal.

Atas dasar itulah, jenazah yang ditemukan di Enggano pada awalnya tidak langsung diyakini berkaitan dengan insiden tersebut. Namun, Basarnas tetap melakukan verifikasi terhadap berbagai kemungkinan hingga akhirnya identitas korban dipastikan melalui pemeriksaan DNA.

"Berbagai macam kemungkinan kita lakukan. Dan itu kita lakukan benar kepada korban itu, kita meminta kepada teman-teman Polda dan itu dilakukan. Dan akhirnya alhamdulillah satu korban teridentifikasi," ujar Syafii.

Temuan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kemungkinan lokasi korban tidak selalu berada di sekitar titik terakhir kapal diketahui. Pergerakan arus menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam operasi pencarian.

Meski Kantor SAR Bengkulu tetap melakukan operasi, kata Syafii, hingga kini belum terdapat laporan tambahan mengenai penemuan jenazah yang diduga berkaitan dengan kecelakaan tersebut.

"Sampai sekarang belum ada tambahan lagi, belum ada," ucap Syafii.

Update Evakuasi KM Virgo Marsekal Madya TNI M. Syafii

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI M. Syafii saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (24/9/2026). tirto.id/Rahma Dwi Safitri

Menakar Peluang Operasi SAR Dibuka Kembali

Kewenangan operasi rutin yang dijalankan Basarnas saat ini untuk pencarian rombongan jurnalis hilang saat akan meliput erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK), tentu bebeda dengan Operasi SAR khusus, meskipun kali ini wilayah cakupannya diperluas ke daerah Lampung dan Bengkulu.

Kepala Kantor Basarnas Banten, Al Amrad, menerangkan bahwa dari akomodasi laut yang melintas, masyarakat sekitar, dan nelayan, memang belum ditemukan adanya objek maupun jenazah. Namun, pihak Basarnas Banten juga mengandalkan penyebaran informasi seluas-luasnya agar bergerak cepat apabila ditemukan indikasi korban.

"Jadi e-broadcast yang kita lakukan ini termasuk pemapelan itu, kami libatkan dengan VTS, termasuk stasiun radio pantai, termasuk para nelayan, termasuk para masyarakat yang di sekitar pesisir, warga pesisir pesisir di sekitar Lampung, dan hingga saat ini belum ada tanda-tanda disampaikan di informasi tersebut," ujar dia.

Atas hal itu, Program Officer for Maritime Security, Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI), Alif Lathif, menilai bahwa memang Basarnas memiliki pertimbangan mapan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur SAR yang ditetapkan untuk memutuskan setiap kegiatan SAR. Dia menerangkan, apa yang dilakukan Basarnas dan Tim SAR gabungan selama ini telah cukup diapresiasi.

"Peran masyarakat sangat penting dalam proses ini, khususnya dalam melaporkan setiap temuan dan informasi. Selain itu, instansi patroli juga memiliki tanggung jawab dalam menjamin keamanan dan keselamatan laut, khususnya melalui kegiatan patroli penjagaan keamanan dan keselamatan di luar operasi SAR," kata dia saat dihubungi Tirto.

Di sisi lain, pengamat maritim Ikatan Alumni Balai Pendidikan Dan Pelatihan Pelayaran (IKABPPTP), Marcellus Hakeng, menilai bahwa Basarnas telah menjalankan prosedur sesuai dengan regulasi yang berlaku. Secara aturan baku, standar waktu pelaksanaan operasi pencarian dan pertolongan adalah 7 \times 24 jam dan hanya dapat diperpanjang satu kali. Hal itu pun sudah dilakukan dalam operasi sebelumnya yang berlangsung 10 hari.

"Secara aturan, standar pencarian itu 7 \times 24 jam dan dapat diperpanjang satu kali. Basarnas sudah melakukan tugas dan tanggung jawabnya secara normatif," ujar Marcellus saat dihubungi Tirto.

Terkait ditemukannya jenazah ABK di perairan Pulau Enggano, Bengkulu, Marcellus menilai hal tersebut tidak secara otomatis dapat dijadikan bukti baru untuk memperluas atau membuka kembali area pencarian oleh Basarnas. Jarak lokasi penemuan yang mencapai ratusan kilometer dari titik awal memang memperluas cakupan area pencarian secara signifikan.

"Ketika kita bicara jarak 370 km, berarti area pencarian ditarik melingkar dari titik tersebut. Luasnya akan sangat besar, dihitung dari radius jari-jarinya," kata Marcellus.

Dia menambahkan, keputusan Basarnas untuk tidak langsung mengerahkan personel untuk operasi SAR khusus kembali didasari oleh perhitungan efektivitas dan efisiensi operasional. Pengerahan sumber daya manusia (SDM) dan armada pencarian dalam skala luas berpotensi menyerap kapasitas personel serta memicu kekosongan siaga SAR di wilayah lain.

Meski demikian, Marcellus menekankan bahwa regulasi tetap memberikan ruang bagi pembukaan kembali pencarian apabila terdapat bukti ilmiah atau data pendukung yang kuat dari pihak keluarga maupun insan pers.

"Peluang itu tetap ada jika rekan-rekan media bisa memberikan alasan (reasoning) dan bukti perhitungan yang matang. Basarnas pasti akan memberikan ruang," tutur dia.

Lebih lanjut, dia mencontohkan kasus hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370, di mana proses pencarian tidak lagi bertumpu sepenuhnya pada lembaga negara secara langsung, melainkan melibatkan mekanisme kerja sama dengan pihak ketiga (third party). Hal ini juga bisa saja terjadi dalam proses pencarian rombongan jurnalis tersebut.

Di sisi lain, Marcellus mengajak publik dan pihak keluarga untuk tetap mendorong kejelasan nasib para korban dengan mempertimbangkan batas kemampuan teknis di lapangan. Semua pihak pun tetap harus memberikan informasi apabila menemukan jenazah yang bisa saja berpotensi sebagai bagian dari rombongan jurnalis itu.

Doa bersama untuk jurnalis Firdaus Wajidi

Astrid (kiri), istri jurnalis Firdaus Wajidi, memandang foto suaminya saat mengikuti doa bersama di Ciledug, Kota Tangerang, Banten, Kamis (17/9/2026). Doa bersama digelar untuk memohon keselamatan Firdaus Wajidi beserta empat jurnalis, awak kapal, dan pemandu lainnya yang hilang kontak dapat kembali ke rumah, meski operasi pencarian telah resmi dihentikan. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/kye

"Kita tetap dorong pencarian karena ini menyangkut nyawa dan kepastian keluarga. Namun, kita juga harus realistis dengan situasi dan tidak memaksakan sesuatu yang di luar kemampuan teknis," ucap dia.

Baca juga artikel terkait GUNUNG ANAK KRAKATAU atau tulisan lainnya dari Ayu Mumpuni

tirto.id - News Plus
Reporter: Ayu Mumpuni
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Andrian Pratama Taher