Menuju konten utama

Ada Daratan Baru Dekat Anak Krakatau, Benarkah Cucu Krakatau?

Daratan baru seluas 32,8 hektare muncul di dekat Anak Krakatau. Badan Geologi dan pakar menjelaskan proses pembentukan serta statusnya.

Ada Daratan Baru Dekat Anak Krakatau, Benarkah Cucu Krakatau?
Peta Gunung Anak Krakatau, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kemunculan daratan baru di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, menarik perhatian publik. Fenomena tersebut bahkan memunculkan spekulasi bahwa sebuah gunung api baru atau yang kerap disebut sebagai “cucu Krakatau” telah terbentuk. Begini tanggapan Badan Geologi dan pakar kebencanaan.

Video-video yang memperlihatkan daratan baru di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau beredar luas di media sosial. Kemunculan tersebut membuat sebagian masyarakat cemas dan bertanya-tanya apakah fenomena itu merupakan awal terbentuknya “cucu Krakatau”.

Kekhawatiran itu tidak lepas dari sejarah Gunung Anak Krakatau yang terbentuk setelah rangkaian erupsi besar Gunung Krakatau pada 1883. Gunung Anak Krakatau sendiri baru turun statusnya pada 21 September 2026 menjadi Waspada (Level II) setelah sebelumnya berada di Level III (Siaga) akibat erupsi menerus.

Analisis Awal soal Daratan Baru yang Muncul di Dekat Anak Krakatau

Badan Geologi melalui akun Threads @badan.geologi menyampaikan analisis awal mengenai perluasan daratan Gunung Anak Krakatau (GAK) setelah terjadi erupsi menerus pada 4-6 September 2026.

Berdasarkan evaluasi terhadap citra satelit Sentinel, Badan Geologi menemukan adanya penambahan daratan pada tubuh Gunung Anak Krakatau, terutama di sektor barat laut, barat, hingga barat daya.

Penambahan tersebut diduga terbentuk dari material hasil erupsi yang mengendap, berupa material piroklastik serta aliran lava yang keluar selama rangkaian erupsi. Dari hasil perhitungan sementara menggunakan citra satelit, luas daratan Gunung Anak Krakatau bertambah sekitar 32,8 hektare.

Selain penambahan daratan pada tubuh utama GAK, citra satelit Sentinel juga memperlihatkan kemunculan dua gumuk atau gundukan daratan kecil yang tampak seperti pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau. Kedua gumuk tersebut terdeteksi masing-masing di bagian barat laut dan tenggara dari tubuh gunung api.

Badan Geologi menduga kemunculan kedua daratan kecil tersebut masih berkaitan dengan erupsi menerus yang berlangsung selama sekitar 25 jam. Material vulkanik yang dikeluarkan dalam erupsi tersebut diduga tidak seluruhnya membentuk daratan pada tubuh utama gunung, tetapi sebagian dapat terendapkan di lokasi lain di sekitar GAK sehingga terlihat seperti dua gundukan kecil yang terpisah dari tubuh gunung.

Badan Geologi memberikan interpretasi sementara bahwa fenomena tersebut kemungkinan berkaitan dengan karakter magma yang relatif encer ketika keluar dalam erupsi menerus.

Magma tersebut diduga mencapai permukaan melalui jalur bukaan atau rekahan yang memanjang dari arah barat laut ke tenggara. Material erupsi yang keluar melalui jalur tersebut kemudian diperkirakan membentuk endapan baru di beberapa lokasi.

Salah satu hasilnya adalah penambahan daratan pada tubuh utama Gunung Anak Krakatau, sedangkan material yang terendapkan di lokasi lainnya diduga membentuk dua gumuk yang dari citra satelit tampak seperti pulau-pulau kecil.

Namun, Badan Geologi menegaskan bahwa interpretasi mengenai penyebab terbentuknya dua gumuk tersebut masih bersifat dugaan awal dan belum dapat dianggap sebagai kesimpulan akhir.

Untuk memastikan bagaimana kedua daratan kecil itu terbentuk, Badan Geologi akan melakukan analisis lebih lanjut dengan membandingkan citra satelit kondisi sebelum dan sesudah erupsi.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, S.S. Rita Susilawati, juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik menyikapi perubahan bentuk daratan di sekitar Gunung Anak Krakatau.

Penjelasan Pakar soal Daratan Baru Dekat Anak Krakatau

Daryono Perwira Sakti, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) dalam unggahan di akun X @daryono_eq_talk pada 23 September kemarin turut membagikan pendapatnya tentang daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau.

Menurut penjelasan Dr. Daryono, daratan baru itu bukan gunung api independen. Daratan tersebut merupakan hasil penumpukan atau akumulasi material vulkanik yang dikeluarkan oleh Gunung Anak Krakatau, seperti abu, batuan, dan lava, kemudian mengendap di dasar laut. Seiring aktivitas erupsi yang meningkat, material tersebut terus bertambah dan menumpuk hingga akhirnya mencapai permukaan air dan terlihat sebagai daratan baru.

Kemunculan daratan di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung dipengaruhi oleh sejumlah faktor geologi dan kondisi laut di kawasan tersebut. Salah satunya adalah kondisi dasar laut yang relatif dangkal karena berada di area kaldera purba yang merupakan sisa dari letusan besar Krakatau pada 1883.

“Selain itu, lontaran piroklastik dan aliran lava selama erupsi memang dominan terlempar ke arah sektor tersebut. Dinamika arus serta gelombang laut Selat Sunda juga berperan penting sebagai pemindah sedimentasi yg membawa material erosi ringan ke titik-titik perairan yg lebih tenang hingga mengendap secara permanen,” tulisnya.

Keberadaan daratan baru tersebut juga tidak berarti bentuknya akan selalu bertahan. Ukuran dan ketahanannya sangat bergantung pada keseimbangan antara pasokan material vulkanik baru dan proses erosi laut. Apabila Gunung Anak Krakatau masih terus mengalami erupsi dan memasok material dalam jumlah besar, daratan tersebut berpotensi bertambah luas.

“Sebaliknya, jika erupsi terhenti, hantaman gelombang dan abrasi laut dapat mengikis endapan pasir yg belum padat hingga tenggelam kembali. Longsoran bawah laut atau erupsi eksplosif besar juga bisa menghancurkan struktur muda ini dlm waktu singkat,” jelasnya.

Untuk menentukan apakah sebuah daratan baru benar-benar merupakan gunung api baru yang berdiri sendiri, menurut penjelasan Daryono diperlukan sejumlah bukti geologis. Salah satu syarat utamanya adalah adanya saluran magma sendiri yang terhubung ke dapur magma melalui rekahan baru dan terpisah dari sistem kawah Gunung Anak Krakatau.

“(Syarat) Kedua, daratan itu wajib menghasilkan aktivitas erupsi magmatik sendiri dengan memuntahkan magma atau gas dari kawahnya, bukan sekadar menampung muntahan dari gunung tetangga. Ketiga, harus terdapat struktur geologis serta deformasi sendiri, yaitu adanya aktivitas gempa vulkanik lokal atau pembengkakan tanah yg terpusat tepat di bawah daratan baru tersebut,” paparnya.

Karena itu, istilah “cucu Krakatau” dalam konteks kemunculan daratan baru tersebut belum dapat digunakan untuk menyatakan bahwa telah lahir gunung api baru akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Baca juga artikel terkait GUNUNG ANAK KRAKATAU atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra