Menuju konten utama

Anak Krakatau & Upaya Deteksi Dini Tsunami Lewat IDSL PUMMA

Berkat PUMMA yang terpasang sejak pertengahan 2022, menjadi selangkah lebih aman dalam mendeteksi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Anak Krakatau & Upaya Deteksi Dini Tsunami Lewat IDSL PUMMA
Header Wansus Semeidi Husrin. tirto.id/Tino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gunung Anak Krakatau bukanlah satu-satunya ancaman kebencanaan bagi masyarakat Indonesia.

Di balik maraknya kabar palsu mengenai potensi tsunami imbas erupi Gunung Anak Krakatau di media sosial belakangan ini, ternyata terdapat sedikitnya 10 gunung api lain di perairan Indonesia yang juga berpotensi memicu tsunami.

Peneliti kebencanaan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Semeidi Husrin, mengingatkan bahwa sistem pemantau tsunami berbasis aktivitas gunung api (tsunami non-seismik) saat ini baru ada di kompleks Kepulauan Krakatau.

Belasan gunung api laut lainnya, terutama di wilayah timur Indonesia seperti Gunung Ruang di Sulawesi Utara, masih menjadi titik buta mitigasi bencana nasional.

Indonesia pernah membayar mahal ketiadaan sistem deteksi dini untuk tsunami non-seismik pada insiden mematikan Selat Sunda 2018 silam.

Kini, berkat sebuah alat bernama Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut (PUMMA) yang terpasang di Pulau Rakata sejak pertengahan 2022, perairan Selat Sunda menjadi selangkah lebih aman.

Semeidi sendiri memiliki latar belakang di bidang teknik kelautan dan teknik pantai. Ia menyelesaikan studi sarjananya di Institut Teknologi Bandung pada 2001, lanjut magister di Belanda dalam bidang Teknik Pantai dan Pelabuhan, serta merampungkan jenjang doktoralnya di Jerman dan Italia dengan fokus khusus pada mitigasi bencana tsunami.

Pengalamannya dalam menguji coba instrumen peringatan dini tsunami, termasuk IDSL atau PUMMA, sudah dimulai sejak ia bertugas di Padang, Sumatra Barat, antara 2011 hingga 2014.

Berkat kerja keras tersebut, pada Oktober 2022 ia diundang untuk mempresentasikan keberhasilan Indonesia membangun sistem ini dalam forum internasional JRC/DG-ECHO/IOC Joint Workshop on Local Tsunami Warning di Ispra, Italia, yang dihadiri oleh peneliti kebencanaan dari berbagai negara seperti Jerman, Spanyol, Italia, Turki, Amerika Serikat, Mesir, dan Indonesia.

Kepada Tirto, Semeidi menjelaskan bagaimana tsunami 2018 di perairan Selat Sunda terjadi, mengapa sistem yang ada gagal mendeteksinya, dan mengapa alat yang dikatakan murah ini justru mampu menjadi solusi bagi kesiapsiagaan bencana di Indonesia ke depan.

Gunung Anak Krakatau

Letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, wilayah Provinsi Lampung. foto/ANTARA

Bisa diceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada tsunami Selat Sunda 2018?

Itu saya pikir sesuatu yang wajar waktu itu ada keragu-raguan terkait dengan gelombang tinggi atau bukan. Karena memang pada saat itu kita tidak memiliki sistem untuk mendeteksi gelombang tsunami tersebut. BMKG walaupun sudah memiliki sistem peringatan dini tsunami Indonesia, sistem itu tidak didesain untuk gelombang tsunami yang diakibatkan oleh aktivitas gunung berapi waktu itu.

Jadi memang wajar kalau banyak otoritas yang ragu-ragu pada awalnya, karena memang tidak ada data yang masuk yang memang menyebutkan itu adalah gelombang tsunami. Apalagi BMKG, ya. Karena BMKG itu mereka hanya bisa mengeluarkan peringatan dini tsunami jika penyebabnya adalah gempa bumi. Sementara, waktu itu penyebabnya bukan gempa bumi, sehingga tidak ada gempa bumi. Bahkan Gunung Api Anak Krakatau pun waktu itu levelnya level 2. Jadi relatif tenang kondisinya itu. Beda dengan yang sekarang, sekarang kan level 3 ya. Dia meledak-ledak segala macam. Waktu itu relatif tenang.

Nah itulah makanya pada waktu itu memang ada banyak keragu-raguan terkait dengan gelombang tinggi yang tiba di pesisir, dan itu wajar saat itu. Karena memang Indonesia tidak memiliki sistem untuk mendeteksi tsunami akibat aktivitas gunung berapi, atau kita lebih umum menyebutnya sebagai tsunami non-seismik.

Dan itulah sebetulnya yang mendasari, secara cepat, waktu itu, tim kami untuk memasang si IDSL, si PUMMA ini di Selat Sunda. Kejadiannya Desember 2018 dan si IDSL, si PUMMA ini kita pasang Januari 2019. Jadi waktu itu kita memang yang paling siap. Pada saat ada kejadian itu kita langsung turun ke lapangan dan meng-install dua unit di Selat Sunda.

Apa yang menyebabkan longsoran terjadi pada 2018?

Sebetulnya kan potensi terjadi longsoran itu sudah lama diketahui, ya. Sebelumnya ada paper yang publish tahun 2012—artinya 6 tahun sebelumnya—sudah terlihat bahwa memang Gunung Api Anak Krakatau ini berpotensi besar mengalami longsoran, longsoran bawah air lah ya. Karena memang ada tebingnya yang curam dan dia rawan jatuh kapan saja. Dia bisa jatuh setiap saat, di-trigger oleh misalnya aktivitas gunung api Anak Krakatau itu sendiri.

Pada saat itu, Gunung Api Anak Krakatau pada 2018 cukup aktif. Hanya memang mendekati bulan Desember itu aktivitasnya agak menurun. Hanya saja memang kestabilannya itu semakin berkurang—si tebingnya itu, si lerengnya itu. Akhirnya Desember 2018 ternyata memang dia jatuh ke laut, dan itulah yang menyebabkan tsunami. Tsunaminya memang tsunami non-seismik, karena memang tidak ada gempa bumi di sana yang men-trigger kejadian tsunami itu.

Longsoran sebesar apa yang menimbulkan tsunami 2018?

Ya, pasti ada hitung-hitungannya. Apalagi kalau posisinya di darat ya. Kalau posisi darat kan lebih mudah biasanya kan karena sebetulnya ada banyak sensor seperti tilt meter gitu yang bisa menghitung potensi terjadinya longsor itu. Hanya saja memang Krakatau ini kan dia posisinya remote ya, dia jauh dari mana-mana. Kemudian memang sensor-sensor tersebut tidak tersedia waktu itu di Krakatau.

Apakah longsoran adalah satu-satunya pemicu tsunami dari gunung berapi?

Kalau kita berbicara tsunami akibat gunung api, bukan hanya masalah longsoran sebetulnya. Dia bisa di-generate oleh beberapa fenomena dari aktivitas gunung api. Longsoran itu hanya salah satunya saja.

Tsunami juga bisa terjadi akibat ledakannya yang dahsyat. Dia bisa menyebabkan pressure wave dan dia bisa menekan permukaan laut sehingga bisa membangkitkan tsunami juga. Kemudian ada pyroclastic flow. Kemudian juga ada fenomena seperti kaldera kolaps—si kalderanya jatuh ke laut—itu juga bisa menyebabkan tsunami. Jadi memang kalau kita berbicara aktivitas gunung api, ada setidaknya lebih dari empat yang bisa menyebabkan tsunami itu sendiri. Dan kemarin, di 2018, hanya satu saja, longsoran itu tadi.

Citra Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau

Citra RGB Himawari-09 pada tanggal 8 September 2026 puluk 18.00 WIB, teridentifikasi sebaran abu vulkanik Anak Krakatau. (Sumber: bmkg.go.id)

Apa itu IDSL PUMMA dan bagaimana cara kerjanya?

IDSL atau PUMMA itu singkatan dari Inexpensive Device for Sea Level Measurement, atau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi PUMMA, yaitu Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut. Ada murahnya, karena memang faktanya murah. Murah dan mudah diproduksi oleh siapa saja di Indonesia.

Alat ini sebetulnya sederhananya stasiun pasang surut, tapi memang kita tingkatkan kemampuannya. Kalau zaman dulu itu susah pasang surut itu digunakan untuk sistem peringatan dini tsunami. Karena misalnya dia kerapatan datanya kurang rapat. Kemudian kecepatan transfer datanya juga lambat. Tetapi sekarang di era 4G bahkan 5G itu semua bisa teratasi kendala teknologi tersebut.

Ini kan stasiun pasang surut ya, mengukur pasang surut. Nah, ini yang membedakan alat yang ada di BIG (Badan Informasi Geospasial). BIG itu memiliki jaringan pasang surut seluruh Indonesia, dan BIG itu tujuannya adalah untuk mengukur pasang surut. Tapi si PUMMA ini tujuannya mendeteksi anomalinya pasang surut itu. Makanya kalau stasiun BIG itu boleh misalnya periodenya lama—tiap menit, tiap 10 menit—itu tidak masalah. Tetapi kalau si IDSL si PUMMA ini dia harus dalam hitungan detik. Periode waktunya 5 detik, 2 detik, 1 detik. Kemudian data yang terkirim juga harus cepat, karena data yang terkirim ini itu akan menentukan sekali untuk dikeluarkannya peringatan dini tsunami oleh otoritas, dalam hal ini BMKG. BMKG itu memiliki wewenang mengeluarkan peringatan dini tsunami kurang dari 5 menit.

Makanya alat ini kita harus pasang di kompleks gunung api Anak Krakatau. Karena jika terjadi tsunami gunung api dengan mekanisme apapun, tsunaminya saya pastikan akan terdeteksi oleh si IDSL si PUMMA ini kurang dari 5 menit.

Bagaimana perbedaan karakter gelombang tsunami dengan gelombang biasa, sehingga PUMMA bisa mendeteksinya sebagai anomali?

Gelombang pasang surut itu gelombang yang panjang sekali sebetulnya. Dengan mata telanjang, dalam waktu singkat kita tidak akan melihatnya sebetulnya. Tapi kalau kita datang pagi hari, kemudian kita datang siang hari, itu akan terlihat beda elevasinya. Kalau kita di pesisir, kita datang pagi hari kok rendah, kita balik lagi siang hari atau malam hari kok jadi tinggi. Kira-kira seperti itu.

Kalau tsunami, dia rentang waktunya cepat, dia tidak berjam-jam. Dia akan naik pada saat posisi pasang surutnya pada posisi tertentu. Si tsunami itu akan datang cepat, dia lebih cepat, dan dia beda dengan gelombang angin. Kalau gelombang angin sifatnya bolak-balik, walaupun tinggi, di situ-situ saja. Kalau si tsunami ini, dia istilahnya transien, dia membawa massa air. Jadi walaupun gelombangnya kecil, misalnya dia hanya 20 cm atau 50 cm, dia itu akan maju terus. Si gelombang tsunami ini akan maju terus masuk ke daratan, akan menjalar terus sampai betul-betul energinya habis. Itulah yang membedakan karakteristik antara gelombang pasang surut, gelombang angin, dan gelombang tsunami. Tsunami itu betul-betul sangat spesifik, dan itu bisa dengan mudah kita deteksi dengan IDSL dengan PUMMA ini. Anomalinya itu salah satunya durasinya, dan volumenya.

Mengapa PUMMA dipasang di kepulauan sekitar Krakatau, bukan di tengah laut seperti buoy (alat yang mengapung di tengah laut untuk memantau kondisi perairan) biasa?

Di sana ada Gunung Api Anak Krakatau, ada Pulau Panjang, ada Pulau Sertung, ada Pulau Rakata. Si pulau-pulau itu bisa difungsikan sebagai buoy alami. Kalau saya menyebutnya begitu. Jadi kita tidak perlu memasang buoy lagi di sana, sudah ada pulau-pulau itu. Kita pasang di sana sedekat mungkin dengan sumbernya. Itu kata kuncinya.

Alat ini, walaupun sederhana, tapi kalau kita pasang sedekat mungkin dengan sumber dari tsunaminya, maka dia akan bisa cepat mendeteksi tsunaminya, apapun mekanismenya. Terserah mau longsoran, mau ledakan, mau pyroclastic, apapun itu sepanjang kita memiliki stasiun PUMMA yang sangat dekat dengan sumbernya, itu akan cepat dia deteksi tsunaminya dan dia bisa terkirim ke server BMKG.

Belakangan ini masyarakat banyak mendapat kabar waspada tsunami dari Krakatau. Bagaimana kondisi terkini berdasarkan pemantauan Anda?

Jadi memang betul saya melihat juga di beberapa media nasional bahkan ada yang menyebutkan ada gelombang tinggi di laut akibat aktivitas Gunung Api Anak Krakatau kemarin. Nah, itu setelah saya melihat dan saya juga memantau terus alat kita yang di Rakata itu, saya pastikan itu tidak benar. Saya juga sering bolak-balik ke Krakatau.

Jadi di video itu juga jelas terlihat bahwa sebetulnya gelombang itu biasa-biasa saja sebetulnya. Dan lebih jelas lagi terlihat dari data IDSL PUMMA yang kita pantau terus-menerus, sama sekali kita tidak melihat ada anomali muka air di kompleks gunung api Anak Krakatau, khususnya yang ada di Rakata. Jadi kita pastikan selama ini memang perairan gunung api Anak Krakatau tidak ada gelombang tsunami selama kejadian kemarin.

Dan apakah ada potensinya terkait dengan aktivitasnya? Potensi itu akan selalu ada. Makanya tetap, walaupun kita memiliki banyak sistem yang terpasang, tetap kita harus waspada. Rekan-rekan di PVMBG, di BMKG, dan juga tim kami yang di BRIN, kita juga terus memantau dan terus waspada terkait dengan potensi tsunami itu. Karena perlu saya tekankan lagi, bahwa untuk aktivitas gunung berapi ini bukan hanya satu mekanismenya yang memungkinkan terjadi tsunami, tetapi banyak.

Terkait juga kemarin kan ada informasi terjadi dentuman di kawasan Selat Sunda yang katanya terdengar juga sampai Bandung dan lain sebagainya. Itu sebetulnya, sayangnya, saya sendiri sebetulnya tidak mendengar, karena posisi mungkin di Jakarta waktu itu. Dan saya juga tidak melihat ada sensor-sensor yang memang mendeteksi hal-hal tersebut.

Cuman memang perlu ditekankan lagi bahwa untuk aktivitas Krakatau ini, dentuman yang keras itu adalah sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya. Bahkan kalau kita 1883, itu luar biasa. Suaranya sampai terdengar ke Afrika. Dan yang terbaru misalnya yang di Hunga Tonga, walaupun dia tidak sebesar Krakatau, tapi itu lumayan sangat keras sekali ledakannya, sehingga tsunaminya bisa sampai ke Indonesia waktu itu dan terdeteksi juga oleh si IDSL si PUMMA itu waktu itu. Jadi tetap kita harus waspada terus.

Ada berapa banyak faktor yang bisa memicu tsunami dari gunung berapi, dan apakah cukup satu saja atau harus kombinasi?

Biasanya kalau kita bicara gunung api, biasanya kombinasi itu. Yang terakhir misalnya yang dekat lah, tahun 2022, yang Hunga itu, ada tsunami yang memang akibat ledakannya, kemudian juga yang akibat shock waves-nya. Jadi ada akibat deformasi, ada runtuhan yang ke bawahnya itu, dan juga akibat shock waves-nya yang memang terdeteksi oleh si IDSL si PUMMA waktu itu.

Apalagi kalau kita bicara Krakatau 1883, itu dipastikan mungkin empat-empatnya. Setidaknya ada empat mekanisme yang bisa menyebabkan kejadian tsunami waktu itu, termasuk yang paling besar mungkin terkait dengan kaldera kolaps. Sehingga seluruh tubuh dari Krakatau betul-betul dia runtuh, menghilang, dan sehingga terciptalah empat pulau yang sekarang masih bisa dilihat.

Apakah sudah ada penelitian terbaru soal kondisi fisik Krakatau, khususnya di bawah permukaan?

Kalau riset penelitian pasca-2018 itu cukup banyak, termasuk tim kami juga memasang IDSL PUMMA ini, salah satunya tujuannya untuk itu. Jadi kita juga ingin terus memantau, mempelajari, termasuk fenomena-fenomena kecil, kemungkinan-kemungkinan kecil yang terjadi di sekitaran Gunung Api Anak Krakatau.

Yang paling mudah sebetulnya yang banyak dilakukan oleh banyak rekan-rekan periset adalah melalui citra satelit. Jadi dari atas itu bisa dipantau secara berkala misalnya pertumbuhannya, karena sekarang memasuki masa pertumbuhan si Krakatau itu sendiri. Dan ini menjadi salah satu dasar untuk menentukan potensi kerentanan-kerentanan itu.

Tentu saja juga rekan-rekan kita di PVMBG mereka memantau terus aktivitas dari Gunung Api Anak Krakatau ini. Tidak hanya terkait dengan pemantauan satelit, tapi mereka betul-betul memasang banyak sensor di Gunung Api Anak Krakatau. Sehingga kita masyarakat juga bisa mengetahui langsung kalau misalnya ada peningkatan aktivitas. Data-data ini terkumpul terus dan ini juga menjadi bahan yang sangat penting untuk menentukan kerentanan apa yang mungkin terjadi di sana.

Hanya saja memang ada yang dirasa cukup kurang oleh kita untuk supaya lebih memahami tentang tersebut. Salah satunya adalah—kalau menurut saya—kurangnya kita survei batimetri di sekitaran gunung api Anak Krakatau itu.

Mungkin kita banyak sekali melakukan survei di permukaan, tetapi kita kurang melakukan survei yang di bawah airnya. Karena ini kan dia muncul sedikit saja di atas itu. Di bawahnya itu dalam, tinggi kalau kita hitung dari kedalamannya. Inilah sebetulnya yang menjadi salah satu titik lemah menurut saya di Indonesia ini, untuk bisa memastikan kerentanan dari Gunung Api Anak Krakatau ini terkait dengan potensinya jika memang akan terjadi pembangkitan gelombang tsunami.

DAMPAK TSUNAMI SELAT SUNDA DI PANTAI CARITA

Foto aerial kerusakan akibat Tsunami di kawasan Carita, Banten, Jawa Barat, Senin (24/12/2018). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/foc

Apa kesulitan melakukan riset di bawah permukaan itu?

Dari sisi biaya, mahal. Jelas. Jaraknya saja dari pesisir, misalnya dari Banten ke Krakatau, itu bisa 3 jam 4 jam dengan speedboat, kalau cuaca bagus. Kalau cuaca jelek bisa lebih lama lagi. Kemudian peralatan yang harus dibawa, kemudian juga lingkungan di sana yang jauh dari mana-mana. Itu menambah cost yang cukup mahal. Jadi salah satu kendalanya memang itu.

Kemudian kendala lainnya, memang kita juga pernah melakukan penyelaman tahun 2024 untuk melihat material yang di bawah. Karena kita pernah melakukan scan dasar laut di sekitar sana dengan kapal besar, dengan bantuan dari Jerman waktu itu, kita pernah ada kerja sama dengan Jerman. Dan ternyata memang dengan meng-scan dasar laut itu kita banyak sekali menemukan batu-batu besar di sana. Kemungkinan besar memang berasal dari tahun 1883 atau mungkin sebelumnya.

Jadi sebetulnya kita masih melakukan riset yang cukup panjang terkait hal ini karena kekurangan data. Kita pernah juga melakukan penyelaman di sana, dan ternyata secara teknis sangat sulit di sana. Jadi memang kondisi di lapangan juga tidak mudah. Itulah yang menyebabkan sampai saat ini kita masih sangat kurang untuk melakukan identifikasi riset bawah air.

Mengapa dulu PUMMA begitu sulit dipercaya?

Pertama, teknologi IDSL, teknologi PUMMA ini adalah teknologi baru, bisa dikatakan demikian. Kemudian harganya murah. Kemudian juga bisa dibuat siapa saja, bisa dipasang siapa saja. Ini terlalu bagus, orang-orang tidak percaya. Jangankan otoritas, para periset pun banyak yang meragukan terkait dengan sistem ini waktu itu.

Akhirnya alat kita yang jumlahnya 8 unit waktu itu kita sebar di selatan Jawa dan di barat Sumatra sambil berharap ada tsunami akan datang. Serius, saya berdoa, karena itu yang akan membuktikan bahwa ini bekerja dengan baik dan bisa dimanfaatkan untuk Indonesia ke depan. Dan akhirnya doa itu terkabul 3 tahun setelahnya, dari 2019 ke 2022. Alhamdulillah tsunaminya tidak besar. Tsunaminya terjadi di Hunga Tonga.

Tsunaminya adalah meteor tsunami kategorinya, karena akibat ledakan itu tadi. Hanya sekitar 20 sentimeter saja, tidak tinggi. Tapi itu terdeteksi dengan baik oleh jaringan PUMMA di selatan Jawa dan barat Sumatera, dan alert-nya, peringatannya, terkirim ke BMKG. Ada sekitar 36 peringatan waktu itu.

Bagaimana kejadian Hunga Tonga akhirnya mendorong pemasangan PUMMA di Rakata?

Pelajaran yang paling penting dengan kejadian Hunga Tonga itu adalah terpasangnya IDSL PUMMA di Rakata sebetulnya.

Sejak kejadian 2018 itu, tim kita sebetulnya sangat ingin memasang IDSL PUMMA itu di Rakata saat itu. Tapi itu tidak memungkinkan karena tidak ada infrastruktur telekomunikasi waktu itu di Rakata. Sehingga kita memasangnya di Pulau Sebesi. Itu adalah pulau terdekat yang berpenduduk dari Gunung Api Anak Krakatau.

Kita terus melakukan usaha untuk memasang alat ini di Pulau Rakata. Kita ingin meyakinkan semua pihak, ingin memastikan bahwa ini solusinya untuk menjamin keamanan keselamatan masyarakat Indonesia di Selat Sunda, di Banten, Lampung, dan sekitarnya. Ternyata itu tidak mudah. Orang-orang tidak percaya.

Nah, bulan Januari 2022 Krakatau aktif juga. Di situlah mulai sadar bahwa ternyata kita tidak punya sistem untuk monitoring Krakatau. Tidak ada apa-apa di sana. Akhirnya terjadilah kepanikan. Ditanyakanlah siapa yang paling siap untuk memasang alat di sana. Alat si PUMMA ini yang paling siap. Waktu itu saya masih punya cadangan 1 unit. Sengaja, karena sudah yakin pasti dibutuhkan.

Akhirnya ada panggilan, dikomandoi oleh Kemenko Marves, Pak Luhut, dan juga Kepala BMKG waktu itu, Ibu Dwikorita, dan teman-teman, dikoordinasikanlah tim nasional ini. Langsung tim telekomunikasi dari Bakti Kominfo dan juga dari PT Telkomsel itu langsung bergerak. Dari Januari kejadian, Februari langsung dibuatkan. Bulan Mei, 1 Mei 2022—satu hari sebelum Lebaran—akhirnya alat ini terpasang di Pulau Rakata dan bekerja sampai sekarang.

Bayangkan saja. Kita menunggu 3 tahun tidak ada apa-apa, kemudian kejadian tsunami di bulan Januari, hanya membutuhkan waktu 3 bulan saja sehingga alat ini akhirnya terpasang. Itulah salah satu hikmah terbesar dari kejadian Hunga Tonga 2022.

Berapa biaya pembuatan satu unit PUMMA? Apa saja komponennya?

Memang saya harus menyebutkan ada kata-kata murahnya di sini. Karena kita membandingkan dengan teknologi yang sama-sama mengukur muka air, seperti misalnya offshore buoy. Itu miliaran harganya, bisa 6 sampai 10 miliar. Kemudian kabel laut lebih mahal lagi, bisa puluhan miliar. Wave radar juga demikian mahal. Sementara si PUMMA ini hanya 70 sampai 80 juta. Artinya, satu unit offshore buoy itu kita bisa punya 100 PUMMA.

Komponennya sederhana. Untuk power, dari solar panel. Kemudian ada baterai sehingga dia bisa tahan sampai 3 hari tanpa sinar matahari, karena ada baterai operasional dan ada baterai cadangan. Kemudian sensornya itu kita berbasis radar. Dari atas, dia menembak ke permukaan laut. Sensornya itu kita ambil yang murah meriah saja. Itu yang biasa, sama dengan yang digunakan di mobil yang di belakang itu, yang suka bunyi kalau mundur. Harganya sebelum dolar naik sekitar Rp3 jutaan, jadi relatif murah. Kemudian untuk sistem komputernya kita menggunakan Raspberry, ada juga yang menggunakan Arduino. Bisa dipilih. Kedua-duanya ada kelebihan dan kekurangan. Kemudian telekomunikasi, kita pakai GSM.

Seluruh komponennya bisa dibeli di mana saja, di marketplace, di toko-toko elektronik. Kemarin pun sebetulnya ada unit yang kita produksi sendiri di lab. Jadi memang kita rakit sendiri oleh rekan-rekan peneliti dan perekayasa.

Peta Gunung Krakatau dari dekat

Peta Gunung Krakatu dari dekat. wikimedia/USGS

Bagaimana PUMMA bisa bebas dari vandalisme, sementara alat lain sering hilang dicuri?

Dulu sebelum ada PUMMA di Krakatau, di Krakatau itu tidak ada sinyal. Nelayan itu mengeluh, kalau ada aktivitas mereka tidak bisa laporan. Nah, itulah mengapa, selain di Rakata, saya ingin juga di Pulau Panjang. Dan saya minta PT Telkomsel—lagi-lagi dengan koordinasi tingkat tinggi waktu itu, ada Pak Luhut dan lain sebagainya—itu terpasang PT Telkomsel di sana. Masyarakat itu sangat berterima kasih di sana, dan masyarakat tahu, yang menyediakan sinyal itu, kenapa ada Telkomsel di sana? Ya, si PUMMA ini di sana. Itu penting. Itulah mengapa kita bebas dari vandalisme.

Apalagi secara rutin kita ada rekan-rekan Balawista, Balai Wisata Tirta di Pantai Carita, yang mereka rutin ke Krakatau. Mereka juga menunjukkan si PUMMA si IDSL ini yang mengawal kita terkait monitoring tsunaminya. Jadi si IDSL PUMMA itu menjadi salah satu objek wisata di sana, sehingga masyarakat terinformasikan terus bahwa kehadiran alat itu insyaallah akan sangat membantu buat mereka juga, buat nelayan juga, buat masyarakat pesisir di sana. Alhamdulillah, ini salah satu prestasi tersendiri sebetulnya. Zero vandalisme dalam 7 tahun terakhir.

Ada yang ingin disampaikan untuk masyarakat yang termakan isu terkait tsunami Krakatau?

Saya pikir untuk masyarakat, siapapun itu, terutama yang memang bekerja atau berdomisili di sekitaran Selat Sunda atau di Krakatau, sangat penting bahwa pada saat ini komponen pemerintah itu bekerja sama dengan sebaik-baiknya untuk menyediakan keamanan di laut, terutama terkait dengan aktivitas gunung api, maupun potensi kejadian tsunaminya. Ini yang membedakan dengan kejadian 2018, karena memang 2018 kita sama sekali tidak memiliki sistem untuk monitoring bencana tsunami non-seismik.

Nah, kalau sekarang kita sudah memiliki sistem ini. Oleh karena itu jika ada berita-berita yang mencurigakan atau tidak meyakinkan, selalu cek ke pemerintah, terutama BMKG kalau kita bicara tsunami, karena memang informasi dari IDSL dari PUMMA ini seluruhnya dapat diakses diterima dengan baik oleh BMKG.

Apa yang masih perlu dilakukan pemangku kepentingan ke depan?

Tentu saja apa yang dimiliki pemerintah ini masih kurang. Saya melihat masih perlu untuk ditingkatkan lagi, karena memang idealnya si PUMMA ini terpasang di tiga pulau itu. Kita ada Pulau Rakata sudah terpasang, tapi Pulau Panjang dan Pulau Sertung itu belum.

Ke depan, saya meminta pemerintah, siapapun itu, baik dari BRIN instansi saya, dari BIG, dari BMKG, atau PVMBG, untuk segera melengkapi sensor-sensor pelengkapnya. Karena si PUMMA ini hanya satu saja sekarang. Masih diperlukan sensor lainnya. Selain PUMMA, mungkin ada sensor lain seperti tilt meter untuk mengukur potensi longsoran dan lain sebagainya. Karena dengan era multisensor inilah kita akan menjadi lebih mudah untuk mendeteksi sejak dini semua potensi bencana yang bisa terjadi oleh aktivitas gunung api Anak Krakatau.

Perlu diingat juga bahwa Krakatau ini hanya salah satu dari sekian banyak gunung api berpotensi tsunami di Indonesia. Yang ada volcano tsunami monitoring-nya saat ini hanya Krakatau. Di timur itu, kita tidak tahu apa-apa. Ada sekitar 10 lebih. Di antaranya Gunung Ruang di Sulawesi Utara yang aktif, kemudian beberapa pulau yang posisinya underwater volcano. Kalau terjadi kejadian, kita sudah tidak bisa antisipasi. Ini menjadi catatan yang sangat penting bagi seluruh otoritas terkait, bahwa pekerjaan rumah masih banyak terkait dengan monitoring dan sistem peringatan dini tsunami non-seismik.

Baca juga artikel terkait GUNUNG ANAK KRAKATAU atau tulisan lainnya dari Khizbulloh Huda

tirto.id - News Plus
Penulis: Khizbulloh Huda
Editor: Bayu Septianto