Menuju konten utama

Pakar Jelaskan Penyebab Suara Dentuman di Bandung

Fenomena lapisan inversi suhu di atmosfer dapat membuat suara terdengar lebih keras dan menjangkau wilayah jauh, termasuk dentuman di Bandung.

Pakar Jelaskan Penyebab Suara Dentuman di Bandung
Peta Bandung. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menyampaikan, fenomena lapisan inversi suhu di atmosfer dapat memengaruhi penjalaran gelombang suara. Hal ini ia sampaikan merespons terdengarnya dentuman di Bandung, Jawa Barat, Jumat (4/9/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut secara teori dapat membuat suara dari sumber yang jauh terdengar hingga wilayah lain.

"Dalam ilmu meteorologi kita mengenal istilah 'inversi suhu' yaitu tertindihnya lapisan udara dingin oleh lapisan udara yang lebih hangat di atmosfer," ucap Daryono dalam keterangannya, Sabtu (5/9/2026).

Ia berujar, lapisan inversi dapat terbentuk ketika udara hangat naik ke atas lapisan udara yang lebih dingin, kemudian menyebar dan meluas di atmosfer. Lapisan itu disebut dapat menjadi semacam tudung yang menahan gas, panas, maupun memengaruhi penjalaran suara di bawahnya.

Menurut Daryono, lapisan inversi dapat membuat suara terdengar lebih keras dan menjangkau wilayah yang jauh karena gelombang suara tidak menyebar bebas ke segala arah.

Dalam kondisi tersebut, gelombang suara dapat dibiaskan kembali ke permukaan bumi dan mengalami pemantulan berulang.

"Beberapa orang dilaporkan mendengar suara aneh selama terbentuknya lapisan inversi di atmosfer. Gelombang suara yang bersumber dari kereta api, mobil, petir, dan sumber suara lainnya dapat terpantul dari lapisan inversi sehingga terdengar di tempat lain," tutur Daryono.

"Secara teori, suara adalah gelombang akustik yang sudah terbukti dapat dipantulkan lapisan inversi. Dalam kondisi inversi suhu, gelombang suara akan dibiaskan ke bawah, dan oleh karena itu dapat terdengar pada jarak yang sangat jauh," lanjut dia.

Daryono melanjutkan, mekanisme tersebut secara teori dapat menjelaskan bagaimana suara letusan terdengar hingga jauh dari sumbernya.

Suara letusan yang menjalar dalam kondisi atmosfer tertentu disebut juga dapat mengalami perubahan karakter sehingga terdengar menyerupai dentuman.

"Ini lah konsep dasar mengapa lapisan inversi dapat membuat suara letusan terdengar hingga jauh karena proses multi refleksi. Suara letusan jika sudah jauh dan dalam kondisi atmosfer tertentu dapat berubah 'anatominya' sehingga tidak lagi seperti suara petir asli di sumbernya, tetapi dapat mirip dentuman," tuturnya.

Lalu, salah satu wilayah yang disebut rentan mengalami lapisan inversi adalah Bandung karena memiliki topografi berupa cekungan yang dikelilingi pegunungan. Kondisi tersebut memungkinkan udara dingin terperangkap di lembah dan tertutup lapisan udara hangat dari atas.

Dalam kondisi Cekungan Bandung tertutupi lapisan inversi, Daryono mengibaratkannya seperti sebuah lorong besar yang dapat membuat suara menjalar dan terpantul. Ia kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

"Pada saat Cekungan Bandung tertutupi lapisan inversi, seolah terbentuk 'lorong raksasa'. Cukup dengan fenomena erupsi sangat aktif di Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, maka dentuman GAK akan menjalar di sepanjang lembah dan terpantul berulang-ulang mirip terbentuknya gema seperti dilaporkan sebagian warga Bandung pagi dini hari tadi," urainya.

Baca juga artikel terkait SUARA DENTUMAN atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Dipna Videlia Putsanra