Menuju konten utama

Nestapa Warga Sikka: Menyambung Hidup di Kuburan Pascagempa

Sergius Moa bersama anak dan istrinya terpaksa mengungsi di kuburan orang tuanya selama lebih dari sebulan pascagempa.

Nestapa Warga Sikka: Menyambung Hidup di Kuburan Pascagempa
Sergius Moa, warga Kampung Dobo, Desa Iantena, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka menunjukkan rumahnya yang rusak akibat gempa Flores, Senin (28/9/2026) sore. tirto.id/Mario Sina.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Lebih dari sebulan setelah gempa bumi mengguncang Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026, Sergius Moa (63) bersama istri dan dua anaknya masih bertahan di tempat yang tak lazim sebagai hunian: kuburan orang tuanya.

Warga RT 01/RW 01, Dusun Dobo, Desa Iantena, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka ini memilih tinggal di kuburan karena rumahnya mengalami kerusakan. Retakan muncul di sekeliling bangunan, dari bagian atas hingga ke bawah.

Kondisi itu membuat Sergius dan keluarganya takut kembali menempati rumah, terutama ketika gempa susulan terjadi.

"Sejak terjadi gempa di tanggal 15 Agustus lalu itu, rumah saya di sekeliling ini retak semua dari atas sampai di bawah. Dan saya bersama keluarga sementara ini tidur, bertahan di kubur orang tua," kata Sergius saat ditemui, Senin (28/9/2026) sore.

Di area kuburan tersebut, Sergius membuat tempat berteduh sederhana. Satu lembar tripleks dan satu lembar terpal digunakan untuk menyekat bagian kuburan yang ditempati bersama keluarganya.

Bagi Sergius, pilihan tersebut bukan karena nyaman, melainkan karena takut rumah yang sudah retak itu roboh jika kembali terjadi gempa dengan kekuatan lebih besar.

"Retaknya, kita masih merasa takut karena ketika gempa susulan kalau dia agak besar berarti akan roboh. Jadi kita ambil jalan untuk berusaha tinggal tetap dulu di kuburan," ujarnya.

Ia bahkan masih merasakan adanya pergerakan pada salah satu bagian dinding rumahnya. "Iya, di dinding samping sebelah selatan ini ada goyang juga," katanya.

Sergius mengatakan kerusakan rumahnya sudah dilaporkan kepada Pemerintah Desa Iantena. Laporan tersebut kemudian diteruskan pemerintah desa ke tingkat kecamatan.

Namun, hingga Senin, 28 September 2026, belum ada tim dari Pemerintah Kabupaten Sikka yang datang melakukan survei langsung terhadap kondisi rumahnya.

"Selama ini kita sudah laporkan, sudah sampaikan di pemerintah desa, dan pemerintah desa sudah melanjutkan ke kecamatan, tapi sampai dengan saat ini belum ada tindak lanjut," kata Sergius.

Ketika ditanya apakah sudah ada tim survei dari pemerintah kabupaten yang datang memeriksa kerusakan rumahnya, ia menjawab: "Belum."

Menurut Sergius, sejauh ini hanya pihak Karitas Keuskupan Maumere yang pernah datang melihat kondisi rumahnya. "Hanya dari Karitas pernah turun," ujarnya.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Sikka segera turun langsung melihat kondisi rumahnya.

"Harapan saya ya, terhadap Pemda Sikka, dalam gempa yang tanggal 15 Agustus yang membuat rumah saya retak ini, saya mohon perhatian pemerintah daerah untuk turun ke lokasi dan melihat langsung," katanya.

Berencana Bangun Rumah Darurat

Kisah Warga Dobo Rumah Rusak Akibat Gempa

Sergius Moa, warga Kampung Dobo, Desa Iantena, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka menunjukkan rumahnya yang rusak akibat gempa Flores, Senin (28/9/2026) sore. tirto.id/Mario Sina.

Selama tinggal di kuburan, Sergius mulai memikirkan tempat tinggal yang lebih layak bagi keluarganya. Ia berencana meminta bantuan keponakannya untuk membangun rumah darurat di sebidang tanah kosong yang berada di samping rumah utama.

"Kalau sudah agak tenang, saya mau minta keponakan bikin rumah darurat di tanah yang bersebelahan dengan rumah utama yang masih kosong," ungkapnya.

Rencana itu menjadi pilihan sementara agar ia, istri, dan dua anaknya tidak terus bertahan di kuburan sambil menunggu adanya kepastian penanganan dari pemerintah.

Kondisi Sergius juga disampaikan Ketua BPD Desa Iantena, Vensilia, mengatakan rumah milik Sergius mengalami kerusakan berat. Retakan terlihat mengelilingi bangunan sehingga keluarga tersebut memilih mencari tempat yang dianggap lebih aman.

"Retaknya di sekeliling rumah. Jadi sampai sekarang, Bapak Sergius Moa bersama keluarga masih tidur di kuburan sebagai tempat berteduh sementara waktu," kata Vensilia.

Menurut dia, keluarga Sergius sudah berteduh di lokasi tersebut selama lebih dari satu bulan.

Data mengenai kerusakan rumah itu, kata Vensilia, sudah disampaikan kepada pemerintah desa dan diteruskan ke kecamatan.

Namun sampai Senin, 28 September 2026, belum ada tim dari pemerintah kabupaten yang melakukan survei terhadap rumah tersebut.

"Belum," jawab Vensilia ketika ditanya apakah sudah ada tim survei dari Dinas Perumahan Rakyat maupun Pemerintah Kabupaten Sikka.

Ia berharap pemerintah segera melakukan survei dan menindaklanjuti kondisi keluarga Sergius. "Harapan saya, Pemda mungkin bisa segera survei dan menindaklanjuti hal ini," katanya.

Di tengah kondisi tersebut, PMI Kabupaten Sikka turut memberikan bantuan kepada keluarga Sergius.

Koordinator TDB Gempa Bumi PMI Kabupaten Sikka, Octavianus Aryo Adityo, mengatakan informasi mengenai kondisi kerusakan rumah Sergius telah disampaikan melalui pemerintah desa Iantena.

Kisah Warga Dobo Rumah Rusak Akibat Gempa

Sergius Moa, warga Kampung Dobo, Desa Iantena, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka menunjukkan rumahnya yang rusak akibat gempa Flores, Senin (28/9/2026) sore. tirto.id/Mario Sina.

Menurutnya, keluarga Sergius sebelumnya telah menerima bantuan berupa sembako dari pemerintah. PMI kemudian memberikan bantuan tambahan untuk mendukung kebutuhan keluarga selama masa transisi pascagempa.

"Iya, untuk Bapak Sergius memang dari informasi beliau sudah menyampaikan data ini melalui desa. Untuk ada intervensi dari pemerintah sudah ada, tapi sifatnya itu sembako, itu informasi yang kami terima," kata Adityo.

PMI kemudian memberikan terpal serta kitchen kit atau satu set peralatan dapur.

"Jadi kami membantu sisanya, jadi kita membantu ada terpal untuk beliau, kemudian juga ada kitchen kit, jadi ada satu set peralatan dapur untuk beliau, ya untuk menunjang selama proses transisi ini," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait GEMPA NTT atau tulisan lainnya dari Mario Wihelmus PS

tirto.id - News Plus
Kontributor: Mario Wihelmus PS
Penulis: Mario Wihelmus PS
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama