Menuju konten utama

Di Mana Letak Gunung Anak Krakatau dan Berapa Ketinggiannya?

Letak Gunung Anak Krakatau berada di Selat Sunda, Provinsi Lampung. Simak ketinggian Anak Krakatau dan perubahan tingginya sejak 1935 hingga 2026.

Di Mana Letak Gunung Anak Krakatau dan Berapa Ketinggiannya?
Gunung Anak Krakatau. ANTARA FOTO/Satellite image ©2019 DigitalGlobe, a Maxar company/Handout via REUTERS
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gunung Anak Krakatau terletak di perairan Selat Sunda, di antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa, bagian dari gugusan Kepulauan Krakatau. Gunung api strato tipe A ini tumbuh di dalam kaldera yang terbentuk usai letusan dahsyat Krakatau pada 1883.

Tinggi Gunung Anak Krakatau terus berubah dari waktu ke waktu. Catatan sejarah menunjukkan aktivitas vulkanik menambah sekaligus meruntuhkan tubuh gunung.

Sebelum longsoran besar pada Desember 2018, misalnya, puncak Gunung Anak Krakatau sempat mencapai 338 meter di atas permukaan laut (mdpl). Setelah sebagian besar tubuh gunung longsor ke laut akibat erupsi, tingginya turun menjadi sekitar 110 mdpl.

Adapun sebelum erupsi September 2026, tinggi Gunung Anak Krakatau disebut mencapai 158 mdpl.

Di Mana Letak Gunung Anak Krakatau?

Gunung Anak Krakatau berada di Selat Sunda, tepatnya di kawasan gugusan Kepulauan Krakatau. Kompleks vulkanik tersebut mencakup Pulau Anak Krakatau serta pulau-pulau sisa tubuh Krakatau sebelum letusan 1883, seperti Pulau Rakata, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang.

Letaknya relatif dekat dengan pesisir Banten dan Lampung. Meski secara geografis berada di Selat Sunda dan dekat dengan Banten, kawasan Gunung Anak Krakatau berada di wilayah administratif Provinsi Lampung.

Peta Gunung Krakatau

Peta Gunung Krakatau. foto/Googlemaps

Posisinya di tengah laut membuat Anak Krakatau memiliki karakter berbeda dari gunung api yang berdiri di daratan. Anak Krakatau merupakan pulau vulkanik yang terbentuk dari material hasil erupsi. Tubuh gunung tersusun atas lapisan lava dan endapan piroklastika yang secara bertahap membangun kerucut gunung api.

Penelitian Igan Supriatman Sutawidjaja dalam Jurnal Geologi Indonesia menjelaskan bahwa Anak Krakatau tumbuh dari kedalaman laut sekitar 180 meter. Gunung tersebut muncul ke permukaan laut pada 1929, lalu terus tumbuh melalui aktivitas erupsi.

Karena masih relatif muda dan terus aktif, Anak Krakatau juga menjadi objek penelitian vulkanologi. Aktivitas gunung dipantau dari sejumlah pos pengamatan, termasuk Pos Pengamatan Pasauran di Banten dan Pos Pengamatan Kalianda di Lampung.

Berapa Tinggi Gunung Anak Krakatau?

Ketinggian Gunung Anak Krakatau tidak bersifat tetap. Pertumbuhan tubuh gunung akibat erupsi membuat puncaknya semakin tinggi, sementara riwayat longsoran atau letusan besar mengurangi ketinggiannya secara drastis.

Catatan pertumbuhan menunjukkan perubahan ketinggian yang cukup cepat sejak pulau ini mulai terbentuk. Pada 1935, tinggi Gunung Anak Krakatau tercatat sekitar 63 meter. Lima tahun setelah itu, pada 1940, tinggi Gunung Anak Krakatau mencapai 125 meter. Pada 1955, puncaknya sudah mencapai 155 meter.

Penelitian Sutawidjaja juga mencatat pertumbuhan Gunung Anak Krakatau rerata sekitar 4 meter per tahun dalam periode yang diteliti. Aktivitas erupsi pada 1992-2001 bahkan membuat ketinggian gunung bertambah lebih dari 100 meter dalam sekitar sembilan tahun.

Pertumbuhan tersebut berlanjut hingga 2018. Berdasar pengukuran PVMBG, ketinggian Gunung Anak Krakatau mencapai 338 mdpl. Angka ini merupakan kondisi sebelum terjadi longsoran besar pada 22 Desember 2018.

Gunung Anak Krakatau

Letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, wilayah Provinsi Lampung. foto/ANTARA

Pada 22 Desember 2018, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan sebagian besar tubuh Anak Krakatau runtuh dan masuk ke laut. Peristiwa ini memicu tsunami yang menerjang sejumlah wilayah pesisir Banten dan Lampung.

PVMBG kemudian memastikan perubahan besar pada morfologi gunung.

"Berdasarkan hasil analisis visual, terkonfirmasi bahwa Gunung Anak Krakatau yang tingginya semula 338 meter, sekarang tingginya tinggal 110 meter," tulis PVMBG pada 28 Desember 2018.

Dengan demikian, angka 338 mdpl dan 110 mdpl merujuk pada dua kondisi berbeda. Ketinggian 338 mdpl merupakan pengukuran sebelum longsoran akibat erupsi Gunung Anak Krakatau pada 2018, sementara sekitar 110 mdpl merupakan tinggi Gunung Anak Krakatau setelah sebagian besar tubuh gunung runtuh.

Adapun pada Juli 2026, tinggi Gunung Anak Krakatau disebut sudah naik mencapai 158 mdpl. Angka tersebut merupakan tinggi sebelum Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi September 2026.

Baca juga artikel terkait GUNUNG ANAK KRAKATAU atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Edusains
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora