Menuju konten utama

Fenomena Astronomi Langit di Bulan Oktober 2026: Hujan Meteor

Fenomena astronomi Oktober 2026 mencakup Oposisi Saturnus, hujan meteor Orionid & Draconid, hingga Hunter's Moon. Cek waktu pengamatan.

Fenomena Astronomi Langit di Bulan Oktober 2026: Hujan Meteor
Sebuah pesawat penumpang terbang melewati bulan di ibu kota Beijing, Kamis, 17 Januari 2019. AP PHOTO / Andy Wong
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Peristiwa astronomi langit diprediksi terjadi selama memasuki bulan Oktober 2026 dan ada yang dapat diamati dari Bumi. Peristiwa utama bulan ini meliputi posisi oposisi Saturnus yang menjadi waktu optimal untuk melihat struktur cincinnya, serta konjungsi antara Mars dan Bulan di langit timur sebelum matahari terbit, termasuk hujan meteor Draconid pada 7-9 Oktober 2026.

Dua peristiwa hujan meteor akan mencapai puncaknya sepanjang Oktober, yakni hujan meteor Draconid pada pertengahan minggu pertama dan Orionid pada pertengahan bulan. Rangkaian fenomena ini juga dilengkapi dengan fase Bulan Baru serta fase Bulan Purnama Hunter’s Moon di akhir bulan.

Meski demikian, kualitas dan waktu pengamatan dari wilayah Indonesia dipengaruhi oleh sejumlah faktor teknis. Ketinggian posisi objek dari garis horizon, waktu terbit dan terbenam objek langit, serta tingkat polusi cahaya di lokasi pengamatan akan menentukan visibilitas setiap fenomena.

Berikut adalah daftar peristiwa astronomi yang dijadwalkan berlangsung sepanjang Oktober 2026, yang dihimpun dari data National Geographic, Nurture Nature Center, SeaSky, dan National Space Centre UK.

1. Oposisi Saturnus: 4 Oktober 2026

Oposisi Saturnus menjadi salah satu peristiwa astronomi utama pada bulan Oktober 2026. Fenomena ini terjadi ketika posisi Bumi berada sejajar di antara Matahari dan Saturnus, sehingga Saturnus berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi sepanjang tahun ini, yakni sekitar 784 juta mil (1,26 miliar kilometer).

Pada puncak oposisi yang terjadi pada 4 Oktober 2026, Saturnus mencapai tingkat kecerahan tertinggi (magnitudo 0,3) dan berada pada posisi paling besar jika dilihat dari Bumi. Objek ini terbit saat Matahari terbenam dan dapat diamati sepanjang malam hingga fajar, mencapai titik tertinggi di langit sekitar tengah malam.

Keistimewaan oposisi tahun ini adalah sudut kemiringan cincin Saturnus yang kembali terbuka sebesar 7,5 derajat, setelah sebelumnya sempat tampak sangat tipis akibat fenomena ring plane crossing pada awal 2025.

Celah Cassini (Cassini Division) serta efek pencerahan Seeliger (opposition surge) membuat cincin terlihat lebih jelas. Untuk mengamati planet ini dari Indonesia, pengamat dapat mengarahkan pandangan ke arah selatan hingga tenggara mulai pukul 23.00 WIB.

Meskipun Saturnus tampak seperti titik terang tanpa kedipan jika dilihat dengan mata telanjang, pengamatan struktur cincin dan detail celahnya memerlukan alat bantu berupa teropong berkekuatan tinggi atau teleskop kecil dengan perbesaran minimal 100 kali.

2. Konjungsi Mars, Bulan Sabit, dan Jupiter: 5 Oktober 2026

Pada 5 Oktober 2026 sebelum fajar, Bulan sabit tua akan tampak berdekatan dengan Mars di langit timur. Mars dapat dikenali dari warna kemerahannya yang khas, hasil pantulan cahaya dari kandungan besi oksida di permukaannya.

Beberapa jam kemudian sebelum Matahari terbit (sekitar pukul 01.00 hingga 06.30 waktu setempat), Planet Jupiter juga akan muncul di posisi agak bawah secara diagonal dari pasangan Bulan dan Mars. Kondisi ini membentuk susunan tiga benda langit yang relatif mudah ditemukan di atas horizon timur.

Posisi tepat di bawah Bulan, terdapat gugus bintang Beehive Cluster (M44) yang berisi sekitar 1.000 bintang dan berjarak sekitar 600 tahun cahaya dari Bumi.

Di bawah langit yang gelap dan minim polusi cahaya, gugus bintang ini terlihat seperti kabut redup dengan mata telanjang, serta dapat terpisah menjadi titik-titik bintang jika diamati menggunakan binokular atau teleskop kecil.

3. Okultasi Jupiter oleh Bulan: 6 Oktober 2026

Pada fajar 6 Oktober 2026, terjadi fenomena okultasi ketika Bulan sabit melintas tepat di depan Planet Jupiter. Peristiwa ini membuat Jupiter tampak melintas dan menghilang di belakang piringan Bulan sebelum muncul kembali beberapa saat kemudian.

Fenomena okultasi ini melibatkan objek dengan selisih jarak yang sangat jauh. Bulan berjarak sekitar 384.000 kilometer dari Bumi, sementara Jupiter berada pada jarak sekitar 724 juta kilometer atau hampir 2.000 kali lebih jauh dibanding jarak Bulan.

Secara teknis pengamatan melalui teleskop, empat satelit alami utama Jupiter (Io, Europa, Ganymede, dan Callisto) akan menghilang secara berurutan di balik Bulan sebelum piringan utama Jupiter tertutup sepenuhnya.

Namun, fenomena okultasi hanya dapat disaksikan secara langsung dari wilayah Amerika Utara bagian timur sebelum fajar, sedangkan dari Indonesia fenomena ini tidak melintas di jalur pengamatan langsung.

4. Hujan Meteor Draconid: 7-9 Oktober 2026

Hujan meteor Draconid mencapai puncak aktivitas pada rentang tanggal 7-9 Oktober 2026, dengan intensitas terbaik pada malam 7 Oktober dan dini hari 8–9 Oktober. Hujan meteor berasal dari remah-remah debu Komet 21P/Giacobini-Zinner yang ditinggalkan sejak penemuannya pada tahun 1900.

Draconid tergolong hujan meteor berskala kecil dengan intensitas rata-rata sekitar 10 meteor per jam. Berbeda dengan mayoritas hujan meteor yang mencapai puncak pengamatan menjelang fajar, Draconid justru paling baik diamati pada awal malam (early evening), sekitar satu hingga dua jam setelah Matahari terbenam.

Fase Bulan sabit tipis pada periode ini membuat intensitas cahaya Bulan tidak mengganggu pengamatan. Meteor dari fenomena ini tampak memancar dari titik radian di rasi bintang Draco di langit utara, meski jalurnya bisa melintas di bagian langit mana saja. Pengamatan optimal dilakukan dari lokasi yang jauh dari polusi cahaya perkotaan.

5. Bulan Baru dan Pengamatan Galaksi Bima Sakti: 10 Oktober 2026

Fase Bulan Baru mencapai puncaknya pada 10 Oktober 2026 (pukul 15.50 UTC atau 22.50 WIB). Pada fase ini, Bulan berada di antara Bumi dan Matahari sehingga piringan Bulan yang menghadap Bumi tidak mendapat pantulan sinar Matahari dan tidak terlihat di langit malam.

Absennya cahaya Bulan menjadikan malam di sekitar tanggal 10 Oktober sebagai periode tergelap sepanjang bulan. Kondisi langit malam tanpa gangguan iluminasi Bulan merupakan waktu terbaik (window) untuk mengamati objek-objek antariksa redup (deep-sky objects).

Pengamat dapat memanfaatkan momen ini untuk melihat pusat galaksi Bima Sakti (Milky Way core) yang dapat diamati sesaat setelah hari mulai gelap pada musim gugur. Selain itu, objek lain seperti Galaksi Andromeda (M31) dan gugus bintang redup lebih mudah diidentifikasi dengan mata telanjang maupun alat bantu dari lokasi yang minim polusi cahaya.

6. Elongasi Timur Maksimum Merkurius: 12 Oktober 2026

Planet Merkurius mencapai titik elongasi timur maksimum pada 12 Oktober 2026, yakni berada pada sudut jarak 19,6 derajat dari Matahari. Kondisi ini membuat Merkurius berada pada titik tertinggi di atas horizon barat pada langit sore hari.

Karena posisinya yang selalu dekat dengan Matahari, Merkurius tergolong planet yang sulit diamati. Titik elongasi timur ini menjadi waktu terbaik untuk mengamati Merkurius di langit malam sepanjang musim gugur tahun 2026.

Pengamatan dapat dilakukan sesaat setelah Matahari terbenam (after sunset). Pengamat cukup mengarahkan pandangan ke arah langit barat dekat garis horizon sebelum Merkurius terbenam menyusul Matahari.

7. Hujan Meteor Orionid: 21-22 Oktober 2026

Hujan meteor Orionid mencapai puncaknya pada malam 21 Oktober hingga dini hari 22 Oktober 2026. Fenomena tahunan ini terjadi ketika Bumi melintasi jalur debu dan material yang ditinggalkan oleh Komet 1P/Halley.

Meteor Orionid memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi, yakni sekitar 66 kilometer per detik, serta sering meninggalkan jejak cahaya (luminous trains) yang bertahan beberapa detik di langit. Dalam kondisi ideal tanpa cahaya Bulan, intensitas Orionid dapat mencapai sekitar 20 meteor per jam.

Namun, pada puncak pengamatan tahun 2026, Bulan berada pada fase cembung awal (waxing gibbous) sehingga cahayanya dapat meredupkan meteor-meteor yang berukuran kecil.

Jumlah meteor yang diperkirakan terlihat secara kasatmata berkisar antara 5 hingga 10 meteor per jam, terutama setelah Bulan terbenam menjelang dini hari. Titik radian hujan meteor ini terletak di dekat perbatasan rasi bintang Orion dan Gemini.

8. Bulan Purnama Hunter’s Moon: 26 Oktober 2026

Bulan Purnama bulan Oktober mencapai iluminasi penuh pada 26 Oktober 2026 (pukul 04.13 UTC atau 11.13 WIB). Karena berada pada posisi berlawanan dengan Matahari, piringan Bulan akan tampak menyala sepenuhnya dan dapat diamati sepanjang malam sejak Matahari terbenam hingga fajar berikutnya.

Secara tradisional, Bulan Purnama di bulan Oktober dinamakan Hunter’s Moon (Bulan Pemburu), yaitu istilah yang berasal dari tradisi masyarakat asli Amerika dan Eropa untuk menandai musim berburu sebelum memasuki musim dingin. Purnama ini juga dikenal dengan nama Travel Moon atau Blood Moon.

Bagi pengamat di Indonesia, Bulan Purnama dapat disaksikan langsung dengan mata telanjang di langit timur mulai malam hari tanggal 25 dan 26 Oktober.

Tidak dibutuhkan teleskop atau alat bantu khusus untuk melihat permukaannya, meski binokular dapat membantu memperjelas kawah-kawah utama di garis perbatasan terang-gelap piringan Bulan.

9. Asterisme Keystone dan Gugus Bintang M13: Sepanjang Oktober 2026

Sepanjang bulan Oktober 2026, pola bintang Keystone yang berada di dalam rasi bintang Hercules menjadi salah satu sasaran pengamatan di langit barat. Asterisme ini berbentuk empat bintang yang membentuk pola segi empat tidak beraturan, menyerupai batu kunci pada struktur arsitektur gerbang.

Di sepanjang perimeter Keystone, terdapat Gugus Bintang Hercules (Hercules Globular Cluster / M13), yaitu kumpulan beberapa ratus ribu bintang yang berjarak sekitar 25.000 tahun cahaya dari Bumi. M13 merupakan salah satu gugus bintang paling terang yang dapat diamati dari Belahan Bumi Utara.

Di bawah langit yang gelap, M13 tampak seperti kabut bulat redup jika dilihat dengan mata telanjang. Pengamatan menggunakan binokular atau teleskop kecil akan memperlihatkan bentuk piringan bersabut, sementara teleskop dengan bukaan lebih besar dapat memisahkan titik-titik bintang individual di dalamnya.

10. Fenomena Tambahan & Fase Utama Bulan: Oktober 2026

Selain fenomena utama di atas, kalender astronomi bulan Oktober 2026 juga mencatat beberapa fase Bulan serta posisi pengamatan penting lainnya:

  • 3 Oktober 2026 - Fase Perempat Akhir (Last Quarter Moon): Bulan terbit mendekati tengah malam, memberikan kondisi langit malam yang relatif gelap di awal malam untuk pengamatan planet Saturnus.
  • 18 Oktober 2026 - Fase Perempat Awal (First Quarter Moon): Bulan tampak separuh di langit sore hingga awal malam. Garis batas bayangan (terminator) pada fase ini menjadi posisi ideal untuk mengamati kawah-kawah Bulan menggunakan teleskop.
Pembaca ingin mengetahui informasi seputar Antariksa dapat klik tautan di bawah ini.

Kumpulan artikel tentang Antariksa

Baca juga artikel terkait ANTARIKSA atau tulisan lainnya dari Satrio Dwi Haryono

tirto.id - Edusains
Kontributor: Satrio Dwi Haryono
Penulis: Satrio Dwi Haryono
Editor: Beni Jo