Menuju konten utama
Sejarah Indonesia

Siapa Soebandrio dan Apa Kesaksiannya tentang G30S 1965?

Dr. Soebandrio termasuk salah satu menteri Orde Lama yang dituduh berhaluan komunis. Berikut ini profil Soebandrio dan kesaksiannya tentang G30S/PKI.

Siapa Soebandrio dan Apa Kesaksiannya tentang G30S 1965?
Ilustrasi Soebandrio. tirto.id/Nauval

tirto.id - Dr. Soebandrio merupakan seorang dokter yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dan Hubungan Ekonomi Luar Negeri di pemerintahan Sukarno. Kesaksian Soebandrio tentang G30S 1965 tidak luput dari kajian para sejarawan yang mempelajari tentang peristiwa berdarah tersebut.

Pihak yang diisukan sebagai dalang di balik peristiwa G30S 1965 adalah Partai Komunis Indonesia (PKI). Setelah desas-desus tersebut melebar dan menguat, penumpasan pun dilakukan, bahkan hingga menyentuh kursi pejabat pemerintahan Sukarno.

Setidaknya ada 15 menteri di kabinet pemerintahan Sukarno yang diringkus karena disinyalir berhaluan komunisme. Soebandrio termasuk salah satu di antaranya.

Akibatnya, ia terpaksa mendekam di penjara selama tiga dekade setelah nyaris dihukum mati. 65 tahun setelah peristiwa G30S 1965, Soebandrio merilis kesaksian mengejutkan di balik tragedi tersebut.

Kesaksian Soebandrio tentang G30S PKI dirilis dalam sebuah memoar berjudul Soebandrio: Kesaksianku Tentang G30S (2000). Kesaksian-kesaksian Soebandrio dalam buku tersebut dipertimbangkan sebagai salah satu bukti sejarah yang berkebalikan dengan versi Orde Baru.

Soebandrio menegaskan bahwa dalang dibalik peristiwa G30S 1965 bukanlah PKI, melainkan Soeharto. Kesaksian inilah yang kemudian menggemparkan banyak pihak sehingga menciptakan beragam versi sejarah terkait siapa dalang G30S 1965.

Profil Soebandrio, Sosok Penting Kepercayaan Soekarno

Soebandrio atau Dr. Soebandrio merupakan dokter, diplomat, sekaligus seorang menteri di masa pemerintahan Orde Lama. Ia termasuk sosok penting yang dipercaya Sukarno pada masa itu.

Menurut Nino Oktorino dalam Operasi Dwikora: Sebuah Perang yang Terlupakan di Indonesia (2018), Soebandrio lahir di Kepanjen, Jawa Timur pada 1914. Keahliannya di bidang kedokteran diperoleh setelah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta.

Soebandrio menikah dengan Hurustiati, dokter alumni STOVIA, pada 1940. Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang putra bernama Budoyo.

Setelah lulus dari sekolah kedokteran, Soebandrio bekerja sebagai dokter. Akan tetapi, tak lama kemudian ia banting setir. Setelah kemerdekaan Indonesia, Soebandrio ditugaskan sebagai duta besar di pemerintahan Soekarno.

Meski begitu, Dr. Soebandrio bekerja dengan baik dan menjadi diplomat yang cakap. Ia berjasa mengangkat eksistensi Indonesia di mata global. Tugas pertama Soebandrio sebagai diplomat berlangsung dua tahun, tepatnya hingga pada 1947.

Masa berikutnya, Soebandrio diangkat menjadi perwakilan Indonesia untuk Inggris dan membawa misi memperoleh pengakuan kedaulatan dari Kerajaan Inggris. Soebandrio menetap di Inggris hingga 1954.

Selama menetap di Inggris, ia banyak menghadiri pertemuan kenegaraan dan sesekali dibantu sang istri untuk menggelar kegiatan budaya.

Soebandrio sebisa mungkin mencoba membangun citra Indonesia sebagai negara baru di luar negeri. Citra ini tak hanya ditunjukkan bagi pemerintah Inggris, tetapi juga negara-negara mitra.

Setelah berhasil mendirikan Indonesian Office di Inggris, Soebandrio dan sang istri, ditarik ke Moskow untuk menjadi duta besar di sana.

Soebandrio dipercaya membangun hubungan diplomatik Indonesia dengan Uni Soviet hingga 1960-an, waktu yang terbilang cukup singkat. Tak lama kemudian, ia ditarik lagi ke Indonesia untuk menjabat sebagai Menteri Luar Negeri (Menlu). Sebagai orang kepercayaan Soekarno, karier Soebandrio di bidang politik terus melesat.

Salah satu prestasi Dr. Soebandrio adalah membebaskan Irian Barat dari cengkeraman Belanda pada 1962. Bersama Adam Malik, ia bertemu dengan Presiden Amerika John F. Kennedy agar mau membantu upaya pembebasan Irian Barat.

Keberhasilan itu mewujud Perjanjian New York 1962 yang berisi bahwa Irian Barat (sekarang Papua) harus kembali ke Indonesia.

Tak hanya menjabat sebagai diplomat dan Menlu, Soebandrio juga pernah menduduki kursi Kepala Badan Pusat Intelijen serta Komandan Tertinggi dalam Operasi Dwikora.

Sayangnya, kariernya yang sudah dibangun bertahun-tahun harus runtuh seiring dengan pecahnya G30S 1965. Beberapa saat setelah tragedi 30 September 1965, ia ditangkap oleh militer Angkatan Darat.

Soebandrio masuk ke dalam daftar 15 menteri Kabinet Dwikora yang dituduh berhaluan komunis lantaran menjadi loyalis Soekarno. Ia diadili di Pengadilan Militer pada 1966, bahkan sempat dituntut hukuman mati.

Namun hakim berkata lain, Soebandrio dikenai hukuman penjara seumur hidup. Usai dirinya ditangkap, istri dan anak Soebandrio diasingkan sebagai anggota keluarga yang dicap berkaitan dengan komunis.

Hal ini membuat keluarga kecilnya tak berumur panjang. Budoyo, anak semata wayangnya, meninggal pada 1970-an karena serangan jantung. Kondisi keluarga yang hancur membuat istri Soebandrio depresi dan sakit-sakitan, hingga kemudian meninggal dunia di Rumah Sakit Cikini, Jakarta, pada 1974.

Melalui bukunya, Soebandrio mengungkapkan bahwa dirinya ditekan secara mental selama di penjara. Ia tak pernah disiksa secara fisik, tetapi terus-menerus diinterogasi hingga stres dan depresi.

Pada 1999, bertepatan dengan berakhirnya era Orde Baru, Soebandrio dibebaskan bersama dengan tahanan politik (tapol) lainnya.

Begitu menghirup udara kebebasan, Soebandrio membeberkan kesaksiannya kepada publik, termasuk tentang perpecahan dalam tubuh AD, PKI, dan pemerintahan. Soebandrio juga menepis anggapan bahwa PKI merupakan dalang G30S 1965.

Lima tahun setelah bebas, Soebandrio berpulang menyusul anak dan istrinya. Ia meninggal dunia pada 3 Juli 2004 di usianya yang ke-89 dan dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan.

Kesaksian Soebandrio tentang G30S 1965

Kesaksian Soebandrio tentang peristiwa G30S 1965 disampaikan melalui buku Soebandrio: Kesaksianku Tentang G30S (2000). Ia mengklaim bahwa dalang G30S adalah presiden kedua Indonesia, Soeharto.

Berikut beberapa kesaksian Soebandrio tentang G30S 1965:

1. Adanya perpecahan di tubuh AD

Soebandrio menyebut bahwa perpecahan di tubuh AD ada kaitannya dengan G30S 1965. Di era Orde Lama, ada dua kubu besar di AD, yaitu kubu Ahmad Yani dan A.H. Nasution.

Kubu A.H. Nasution saat itu memiliki kekuatan politik yang cukup besar serta mendapat dukungan dari rakyat. Bahkan, menurut laporan intelijen yang diterima Soebandrio, kubu A.H. Nasution berhasil memperoleh dukungan CIA.

Soekarno memandang pergerakan kubu A.H. Nasution sebagai ancaman atas pemerintahannya. Ia kemudian membatasi pergerakan A.H. Nasution di militer dengan menugaskan Ahmad Yani.

Hal inilah yang membuat hubungan antar kedua kubu semakin memanas. AD khawatir jika hubungan antara Nasution dan Yani tak kunjung membaik, akan terjadi perpecahan di tubuh AD.

Akhirnya, dikirimlah Soeharto untuk mendamaikan Nasution dan Yani. Soeharto cenderung condong ke kubu Nasution, meskipun akhirnya ia membuat kubu sendiri.

Upaya mendamaikan kubu A.H Nasution dan Ahmad Yani tidak berhasil. Hingga akhirnya, Soeharto mencetuskan perjanjian Tri Ubaya Sakti.

Perjanjian tersebut pada intinya memuat ketentuan bahwa TNI berhak memberikan saran dan tugas politik tak terbatas kepada Presiden RI.

"Ini juga berarti bahwa kubu Nasution menang terhadap kubu Yani yang didukung oleh Presiden Soekarno," kata Soebandrio. Kondisi inilah yang membuat kedua kubu tak berdamai meskipun keduanya sama-sama antikomunis.

2. Politik muka dua

Soebandrio menuding bahwa Soeharto menjalankan politik muka dua. Hal ini karena Soeharto, yang ditugaskan menjadi perantara pendamaian antara A.H. Nasution dan Ahmad Yani, justru juga memiliki masalah dengan keduanya.

Soeharto pernah hampir dikeluarkan dari militer lantaran melakukan penyelundupan barang. Ahmad Yani bahkan sempat melakukan kekerasan fisik kepada Soeharto. Di sisi lain, A.H. Nasution mendesak agar Soeharto dikeluarkan.

Namun, hal itu dicegah oleh Mayor Jenderal Gatot Subroto, yang menyarankan agar Soeharto disekolahkan lagi ke Seskoad, Bandung. Soebandrio mengklaim bahwa tugas Soeharto untuk mendamaikan A.H. Nasution dan Ahmad Yani justru menyulitkannya.

Soeharto pun membangun kubu sendiri yang terdiri dari Yoga Soegama dan Ali Moertopo. Menurut Dr. Soebandrio, Soeharto sering bermuka dua. Pada 1947, Soeharto dinilai pernah mengkhianati komplotannya dalam kasus penculikan Sutan Syahrir.

"Itulah karakter Soeharto dan ia bangga dengan hal itu. Soeharto tidak merasa malu berbalik arah dari penjahat menjadi penyelamat," tulis Soebandrio.

3. Isu Dewan Jenderal

Isu Dewan Jenderal merupakan salah satu pemicu peristiwa G30S 1965. Isu tersebut pertama kali mencuat di kalangan negarawan. Menurut Soebandrio, isu ini muncul ketika Indonesia mendapat hadiah persenjataan dari Tiongkok secara gratis.

Namun, alih-alih diterima langsung oleh Soekarno, hadiah itu ditangguhkan seiring adanya ide dari PKI untuk membentuk Angkatan Kelima. Meskipun belum diputuskan, banyak yang berasumsi bahwa Angkatan Kelima ini adalah buruh tani dan rakyat yang dipersenjatai.

Isu pembentukan Angkatan Kelima tentu ditolak oleh para jenderal militer, termasuk Ahmad Yani. Penolakan inilah yang kemudian memunculkan isu Dewan Jenderal, yang dinilai ingin menggulingkan kekuasaan Soekarno.

Menurut Soebandrio, Soekarno awalnya tidak percaya pada isu tersebut, hingga kemudian muncul Dokumen Gilchrist. Isinya kurang lebih menyatakan bahwa Inggris hendak membantu menggulingkan kekuasaan Soekarno.

Isu Dewan Jenderal, yang kemudian diperkuat dengan temuan Dokumen Gilchrist, membuat Pasukan Cakrabirawa merespons secara agresif. Letnan Kolonel Untung, yang menjadi komandan tertinggi pengawal Presiden Sukarno, berencana menggagalkan misi Dewan Jenderal dengan cara menangkap mereka.

Letkol Untung menyampaikan rencana itu kepada Soeharto, yang kemudian disambut baik, bahkan didukung.

"Ini diceritakan oleh Untung kepada saya saat kami sama-sama ditahan di LP Cimahi, Bandung," kata Soebandrio.

Hal ini dibuktikan dengan kedatangan para pasukan TNI dari berbagai daerah ke Jakarta, beberapa hari sebelum G30S 1965 pecah. Soeharto berdalih, mereka datang ke Jakarta dalam rangka Hari Ulang Tahun ABRI yang jatuh pada 5 Oktober.

4. Penyakit Soekarno yang dilebih-lebihkan

Isu bahwa PKI merupakan dalang utama G30S gencar disebarkan kala itu. Teori dalang G30S PKI tersebut membawa argumen bahwa PKI khawatir posisinya terganggu karena Soekarno sakit parah. Jika Soekarno meninggal sewaktu-waktu, PKI takut didepak dari kekuasaan.

Soebandrio mengklaim bahwa isu tersebut tidak benar. Informasi tentang penyakit Soekarno juga dilebih-lebihkan. Beredar isu bahwa Soekarno sakit keras hingga D.N. Aidit mendatangkan seorang dokter dari Tiongkok. Hal ini membuat banyak orang berasumsi bahwa Soekarno sakit parah dan berpotensi menemui ajal dalam waktu dekat.

Menurut Soebandrio, Soekarno hanya masuk angin. Dokter yang didatangkan ke Istana berasal dari Kebayoran Baru, Jakarta, bukan Tiongkok. Ia ikut memeriksa keadaan Soekarno, bersama D.N. Aidit, dan meyakini bahwa itu hanya sakit ringan.

Penyebaran hoaks terkait kondisi Soekarno itu membuat Soebandrio semakin yakin dengan teorinya, bahwa Soeharto-lah aktor di balik G30S 1965.

5. Keterlibatan AS dalam G30S 1965

Soebandrio juga meyakini adanya keterlibatan AS dalam G30S 1965. AS memiliki hubungan yang kurang baik dengan negara-negara komunis, seperti Uni Soviet dan Tiongkok.

Apabila Indonesia menjadi negara komunis, AS dan negara-negara barat akan banyak merugi di sektor ekonomi dan politik. Sebab, Indonesia tergolong kaya, terutama di aspek sumber daya alam. Oleh karena itu, menurut Soebandrio, misi menggulingkan PKI dan Soekarno yang mulai berhaluan sosialis sangat perlu dilakukan.

Soebandrio tidak asal-asalan saat menyebut adanya keterlibatan AS di G30S 1965. Tidak lama setelah para jenderal diculik dan dibantai, AS mengirimkan bantuan obat-obatan dalam jumlah besar ke Indonesia.

Hal itu mencurigakan karena Indonesia tidak sedang dilanda bencana alam. Di saat bersamaan, sebanyak 40 ribu anggota PKI dan simpatisannya dibantai secara misterius.

Dari sinilah, Soebandrio mencurigai bahwa obat-obatan itu hanyalah kamuflase untuk mengirimkan senjata, yang kemudian dipakai untuk menumpas PKI dan loyalisnya.

Tidak hanya itu, Soebandrio menuduh CIA terlibat dalam pengiriman Dokumen Gilchrist ke Indonesia.

6. Saksi dan tersangka dibungkam

Menurut kesaksian Soebandrio, saat persidangan G30S 1965, tidak ada pembanding maupun keterangan yang seimbang dari saksi dan tersangka.

Soebandrio menilai bahwa yang bisa memberikan balance ada lima orang, yaitu dirinya sendiri, Soekarno, D.N. Aidit, dokter yang memeriksa Soekarno, dan Leimena. Namun, setelah meletus G30S 1965, kelima orang tersebut dalam posisi lemah.

Soekarno menjadi tawanan Soeharto, D.N. Aidit dibunuh tanpa diadili, sementara dokter yang memeriksa Soekarno hilang entah ke mana. Namun, Soebandrio tidak menjelaskan ke mana Leimena pada saat itu.

Baca juga artikel terkait G30S 1965 atau tulisan lainnya dari Yonada Nancy

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Fadli Nasrudin