Sejarah G30S 1965 & PKI

Sejarah Pasukan Cakrabirawa & Kaitan dengan G30S 1965 serta PKI

Kontributor: Yuda Prinada, tirto.id - 30 Sep 2022 08:02 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Apa hubungan Pasukan Cakrabirawa dengan sejarah Gerakan 30 September (G30S) 1965 dan PKI?
tirto.id - Pasukan Cakrabirawa (Tjakrabirawa) dibentuk pada 6 Juni 1962 bertepatan dengan peringatan hari lahir Presiden Sukarno. Resimen Cakrabirawa merupakan pasukan pengamanan presiden yang nantinya disebut terlibat dengan Gerakan 30 September (G30S) 1965 dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Apa hubungan Pasukan Cakrabirawa dengan sejarah G30S dan PKI?

Resimen Cakrabirawa terdiri dari gabungan pasukan TNI Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), Angkatan Udara (AU), dan Kepolisian Republik Indonesia. Penamaan pasukan ini diambil dari kata Cakra yang merupakan senjata milik salah satu tokoh berpengaruh dalam pewayangan yakni Krisna, serta Birawa yang artinya hebat atau dahsyat.

Setelah G30S 1965, tepatnya sejak 28 Maret 1966, peran Cakrabirawa sebagai pasukan pengamanan presiden beserta keluarganya dihapuskan. Selanjutnya, pada masa pemerintahan Presiden RI ke-2 yakni Soeharto, dibentuk Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) yang memiliki tugas seperti Resimen Cakrabirawa.


Sejarah Dibentuknya Pasukan Cakrabirawa

Pembentukan Resimen Cakrabirawa sebagai pasukan pengamanan presiden muncul setelah terjadinya beberapa kali percobaan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno, termasuk pada 1946, 1957, 1960, hingga dua kali peristiwa pada 1962.

Saat itu memang sudah ada satuan yang bertugas mengawal presiden, yakni Detasemen Kawal Pribadi (DKP) dan Detasemen Pengawal Chusus/Khusus (DPC). Namun, keberadaan dua satuan ini dirasa masih kurang cukup untuk menjamin keamanan dan keselamatan Presiden Sukarno beserta keluarganya.

Atas usul Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan (Menkohankam) sekaligus Kepala Staf Angkatan Bersenjata (KASAB) kala itu, yakni Jenderal Abdul Haris Nasution, serta mendapatkan respons yang baik dari Presiden Sukarno, maka dibentuklah Resimen Cakrabirawa.

Dikutip dari Tragedi Seorang Loyalis (2007) karya Julius Pour, dijelaskan bahwa Resimen Cakrabirawa diperkuat 3.000 orang prajurit matang dan paham strategi gerilya.

“Suatu pasukan khusus dengan kekuatan 3.000 orang yang diambil dari keempat angkatan. Tugas pasukan Tjakrabirawa adalah melindungi Presiden. Mereka ini prajurit-prajurit para yang matang dan prajurit gerilya yang sempurna,” kata Sukarno tentang pembentukan Resimen Cakrabirawa.

Pembentukan Resimen Cakrabirawa diresmikan dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 211/PLT/1962 tanggal 6 Juni 1962. Pasukan pengamanan presiden terdiri dari semua unsur Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, yakni AD, AL, AU, dan Kepolisian.


Hubungan Pasukan Cakrabirawa dengan PKI dan G30S 1965

Ada sebagian anggota atau pemimpin Pasukan Cakrabirawa yang ditengarai terlibat dengan peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 atau Gerakan 1 Oktober (Gestok) 1965 yang menyeret pengaruh PKI.

Beberapa orang di antaranya adalah Letkol Inf Untung Syamsuri (Komandan Batalyon I Cakrabirawa), Lettu Dul Arif (Komandan Resimen Cakrabirawa), Pelda Djahurub, Sersan Mayor Bungkus, Serda Raswad, Sersan Mayor Surono Hadiwiyono, Sersan Mayor Satar, Sersan Dua Giyadi, Kopral Dua Hargiono, dan Sersan Satu Ishak Bahar.

Menjelang malam 30 September 1965, Letkol Untung selaku Komandan G30S dibantu Lettu Doel Arif mengumpulkan sejumlah prajurit dari Resimen Cakrabirawa, yakni sekitar 60 orang.

Artinya, dari total 3.000 orang anggota Pasukan Cakrabirawa, hanya dua persen saja yang terlibat G30S. Bahkan, sebagian dari mereka tidak paham misi sebenarnya yang akan dijalankan. Mereka hanya tahu bahwa ada perintah menggagalkan rencana kudeta Dewan Jenderal.

“Saya dapat perintah dari komandan batalyon untuk memberikan briefing. Misi kita adalah menggagalkan kudeta Dewan Jenderal,” kata Dul Arif seperti yang diungkapkan kembali oleh Bungkus kepada Ben Anderson dan dimuat dalam Jurnal Indonesia (Oktober 2004).


Tengah malam tanggal 30 September 1965 atau dini hari 1 Oktober 1965, puluhan prajurit Cakrabirawa tersebut bergerak, dan menjemput paksa beberapa perwira tinggi AD dengan dalih mereka mendapatkan panggilan untuk menghadap Presiden Sukarno.

Beberapa jenderal AD termasuk Ahmad Yani, M.T. Haryono, R. Soeprapto, D.I. Pandjaitan, Suwondo Parman, dan Sutoyo Siswodiharjo, menjadi korban dan gugur akibat peristiwa G30S 1965. Begitu pula dengan Pierre Tendean, K.S. Tubun, serta Ade Irma Suryani.

Jenazah para jenderal, serta Pierre Tendean ajudan Jenderal A.H. Nasution, yang menjadi korban penculikan dalam peristiwa G30S di ibu kota ditemukan di Lubang Buaya, Jakarta Timur, tanggal 3 Oktober 1965.

Para pahlawan revolusi ini dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, pada 5 Oktober 1965 bertepatan dengan peringatan hari lahir TNI.


Baca juga artikel terkait G30S PKI atau tulisan menarik lainnya Yuda Prinada
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight