Sejarah G30S dan PKI

Akhir Pemberontakan G30S dan Nasib PKI Setelah 30 September 1965

Penulis: Iswara N Raditya, tirto.id - 18 Sep 2023 13:20 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Akhir pemberontakan G30S adalah ketika para anggota dan pemimpin PKI, salah satunya D.N. Adit, mati tanpa sempat diadili.
tirto.id - Gerakan 30 September (G30S) 1965 menyebabkan kematian beberapa perwira tinggi TNI-AD. Peristiwa itu dianggap sebagai upaya kudeta atau pemberontakan dari Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap pemerintah.

Tudingan bahwa PKI merupakan dalang pemberontakan G30S 1965 membuat para anggota dan pimpinannya diburu. Tidak terkecuali Dipa Nusantara Aidit.

Dalam Kronik '65: Catatan Hari per Hari G30S Sebelum Hingga Setelahnya 1963-1971 (2017) yang disusun Kuncoro Hadi dan kawan-kawan diungkapkan, D.N. Aidit pada 2 Oktober 1965 dini hari terbang dari Jakarta menuju Yogyakarta dengan pesawat Dakota T-443 setelah lolos dari sergapan tentara.


Sesaat usai mendarat di Yogyakarta, Aidit langsung ke Semarang untuk menggelar rapat dengan beberapa pemimpin PKI lainnya yang berada di jantung Jawa Tengah itu.

Rapat ini menghasilkan pernyataan bahwa peristiwa G30S adalah masalah internal AD dan PKI, tidak ada sangkut pautnya dengan gerakan beraroma makar. Namun, tidak semua sepakat. Nasib PKI setelah 30 September 1965 semakin tidak menentu, terombang-ambing, bahkan terancam.

Lantas, bagaimana akhir pemberontakan G30S PKI?


Akhir Pemberontakan G30S dan Eksekusi D.N. Aidit


Peristiwa kematian beberapa perwira tinggi TNI-AD pada malam jahanam itu menyudutkan PKI. Mereka dianggap sebagai dalang utama. Maka, tersematlah namanya di belakang julukan peristiwa naas tersebut: G30S PKI.

Tudingan itu juga membuat akhir peristiwa G30S PKI semakin runyam. Para pemimpin PKI mulai diburu, terutama D.N. Aidit.

Kronik '65: Catatan Hari per Hari G30S Sebelum Hingga Setelahnya 1963-1971 (2017) mencatat, pada malam 1 Oktober, tepatnya pukul 19.20, pasukan dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) berhasil merebut Gedung Telekomunikasi, RRI, dan kawasan Medan Merdeka. Tidak ada perlawanan berarti dari gerombolan yang dianggap aktor G30S.


Nasib PKI setelah 30 September 1965 semakin terancam. TNI-AD, yang saat itu dipimpin sementara oleh Soeharto, sudah menguasai keadaan.

Namun, RPKAD masih terus berupaya memburu para pemimpin PKI, terutama D.N. Aidit. Target lokasi berikutnya adalah Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Namun, di sana, Aidit gagal diringkus.

Aidit sendiri sebenarnya lebih mengkhawatirkan nasib PKI setelah 30 September 1965. Karena itulah i
a terbang ke Yogyakarta, sesaat setelah RPKAD menyergap lokasinya. Aidit berniat berkeliling Jawa Tengah dan Jawa Timur, mengadakan rapat dengan para pemimpin lain untuk mencegah perpecahan internal PKI.

Namun, upayanya gagal. “PKI pun terbelah dalam sayap radikal dan sayap moderat yang menjerumuskannya dalam kekacauan,” tulis Peter Kasenda dalam
Kematian D.N. Aidit dan Kehancuran PKI (2016).

Kubu Aidit termasuk kelompok moderat yang ingin menyelamatkan PKI dari ancaman pemberangusan lantaran blunder yang terlanjur terjadi. Di sisi lain, ada kubu radikal yang dimotori oleh Utomo Ramelan dan kawan-kawan, Mereka memilih terus melakukan perlawanan.

Meski begitu, Aidit masih mencoba mengomunikasikan masalah yang terjadi, terutama terkait nasib PKI setelah 30 September 1965, kepada Sukarno. Kontaknya dengan proklamator kemerdekaan Indonesia itu dilakukan melalui Panglima AU Laksamana Madya Omar Dani.

Akan tetapi, itu juga tak membuahkan hasil.
Akhir peristiwa G30S PKI menjadi semakin jelas bahwa partai komunis itu akan segera "usai". Upaya memburu D.N. Aidit terus dilakukan.

Aidit hidup berpindah-pindah sejak saat itu. Sampai akhirnya, upaya persembunyian Aidit terhenti di Desa Sambeng, Surakarta. Dalam suatu operasi militer Brigade Infanteri 4/Diponegoro, 22 November 1965, Aidit tertangkap di lokasi yang sama.


Oleh Kolonel Jasir, Aidit hendak dibawa ke Semarang, tepatnya menuju markas Kodam Diponegoro. Hanya saja, raganya tidak pernah tiba di Semarang. Dalam perjalanan, Jasir membelokkan mobilnya menuju daerah terpencil di suatu desa di Boyolali.

Pada 25 November 1965 di Boyolali, sebagaimana ditulis Benny G. Setiono lewat buku Tionghoa dalam Pusaran Politik (2008), pemimpin PKI tersebut dieksekusi mati tanpa pernah sempat diadili.

Hingga kini, lokasi kuburan D.N. Aidit masih menjadi teka-teki. Meskipun ada suatu tempat di Boyolali yang diyakini sebagai tempat eksekusinya, jasad D.N. Aidit belum pernah benar-benar ditemukan.

Hingga kini, lokasi kuburan maupun jasad D.N. Aidit belum diketahui secara pasti. Kematian D.N. Aidit sekaligus menjadi akhir pemberontakan G30S PKI.

Nasib PKI setelah 30 September 1965 tidak jauh berbeda seperti pemimpinnya, D.N. Aidit. Para anggota partai dan semua hal yang berkaitan dengan mereka diberangus.

Hal-hal yang berbau PKI dilarang sejak saat itu. Bahkan, pada 1966, pemerintah mengeluarkan TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966, yang memerintahkan pembubaran PKI. Kegiatan menyebarkan atau mengembangkan paham komunisme maupun marxisme-leninisme juga dilarang.

Tidak hanya itu, di era Soeharto, pemerintah memproduksi film propaganda untuk memperkuat tudingan bahwa PKI adalah dalang peristiwa G30S. Sinema berjudul Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI itu menghabiskan dana produksi mencapai Rp800 juta.

Sejak penayangan pertama pada 1984, film itu terus eksis, bahkan hingga sekarang.



Baca juga artikel terkait DN AIDIT atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Agung DH
Penyelaras: Fadli Nasrudin
DarkLight