tirto.id - Papan informasi penerbangan di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) siang itu, Senin (7/9/2026), menjelma bak nisan bagi ribuan rencana. Kelap-kelip lampu hijau yang menyambut perjalanan, kini dipadamkan lautan warna merah bertuliskan “Canceled”.
“Sekarang sudah merah semua, ya,” gumam Jihad (38), tak berdaya berhadapan dengan papan informasi tersebut.
Siang itu, Terminal 3 memang diselimuti kebingungan massal. Amarah Gunung Anak Krakatau memuntahkan abu vulkanik ke angkasa. Dampaknya tak kasat mata di lantai bandara, namun cukup untuk membuat AirNav Indonesia mengunci ruang udara hingga pukul 18.00 WIB. Abu vulkanik berbahaya untuk mesin pesawat.
Ribuan penumpang pun luruh dalam ketidakberdayaan. Tubuh-tubuh lelah bersandar di kursi tunggu, mendekap segudang ketidakpastian yang mengambil alih jadwal hidup mereka.
Satu-satunya usaha yang berarti hanyalah antrean panjang di konter maskapai demi selembar pengembalian uang (refund) atau janji penjadwalan ulang (reschedule).

Warga Jakarta Utara bernama Jihad itu tak bisa menyembunyikan raut lelahnya. Ia bahkan sempat tertidur sejenak. Rencana perjalanan dinasnya menuju Padang, Sumatra Barat pagi itu kandas tepat saat kakinya baru saja menjejak lantai bandara.
Kekecewaan terpancar dari raut wajahnya, terutama saat pembatalan dari maskapai yang akan dinaikinya terlambat menginformasikannya.
“Harusnya kan, kalau semalam diinfoin, kita enggak perlu berangkat. Teman saya juga malam sudah ada info, di-cancel. Beda maskapai, sih. Makanya saya pikir, kok saya enggak ada info nih? Berarti aman nih? Eh, kita malah sampai sini baru di-cancel,” sesal Jihad.
“Sia-sia datang ke sini,” imbuhnya lirih.
Meski waktu dan ongkos transportasi telah menguap, amarah Jihad redam oleh kepasrahan.
“Kompensasi enggak ada. Tapi ya sudahlah, kondisi kan alam ya. Kita enggak bisa prediksi juga kan. Mau enggak mau ngikutin arahan saja,” ujarnya pasrah.
Jika asa Jihad patah di jarak dekat, bentangan masalah yang jauh lebih rumit membelit Siswanto (27). Ia tak menanggung kekecewaan itu sendirian. Di sisinya, sang istri, Dita (27), duduk sembari memantau buah hati mereka, mencoba berdamai dengan kursi ruang tunggu yang mulai terasa dingin.
Perjalanan Siswanto sedianya sudah dimulai sejak Minggu (6/9/2026) kemarin. Ia bertolak dari Pangandaran, Jawa Barat, diantarkan rombongan keluarga besar menggunakan mobil ke Bandara Soekarno-Hatta.
Rutenya melintasi samudera, terbang menghampiri benua biru menuju Amsterdam. Perjalanannya akan dilanjutkan menyeberang ke Bonaire, menuju sebuah hotel yang akan menjadi sumber penghasilannya. Namun, tiket itu kini tak lebih dari selembar kertas.
“Harusnya kemarin penerbangannya. Kemarin kan sempat ke konter maskapai juga, katanya suruh nunggu sampai jam empat sore. Eh, terus di-cancel tiketnya. Keluarga yang lain akhirnya pulang, ini (istri dan anaknya) nanti paling naik kereta nyusul pulang,” tutur Siswanto.

Akibat penundaan berlarut hingga hari ini, Siswanto harus memperpanjang napas dan juga isi dompetnya. Tak mungkin untuk dirinya kembali ke Pangandaran menunggu kabar penerbangan besok hari.
Sejak Minggu, keluarga kecilnya telah menyewa hotel di sekitar kawasan Soetta. Siang pukul 14.00 WIB, mereka terpaksa menyeret kembali koper-koper mereka, memesan kamar hotel untuk check-in ulang dan memperpanjang masa penginapan.
“Pengeluaran sudah bukan double lagi ya. Triple kayaknya,” celetuk Dita, istri Siswanto dengan senyum menyungging.
“Rugi materi juga sudah pasti sih ya. Cuma kan kita enggak bisa komplain ke perusahaan karena faktor alam. Enggak bisa diprediksi juga kan,” Siswanto menimpali.
Namun, setebal apa pun benteng kepasrahan, ia tetap memiliki ambang batas. Seiring berputarnya argo penginapan dan mencekiknya biaya hidup di sekitar bandara, kesabaran Siswanto perlahan haus. Jika penundaan ini terus menyandera mereka hingga esok hari, pertahanannya dipastikan runtuh.
“Kayaknya saya komplain ya, kalau besok harus nambah hotel lagi. Mungkin besok saya baru komplain ke perusahaan [untuk mengganti biaya hotelnya],” curah Siswanto, menyiratkan lelah yang akan rasa maklum.

Uniknya, di tengah situasi bandara yang lumpuh total, Dita mengisahkan cerita berbeda sang nenek yang justru dijadwalkan akan tiba di Bandara Soetta pada pukul dua siang hari ini.
Menjadi bagian dari rombongan jemaah umrah, perempuan sepuh itu menutup telinga dari kabar pembatalan yang meski sudah dikabarkan keluarga. Ia ngotot menembus aspal menuju bandara, demi memastikan keberangkatannya ke Tanah Suci.
Merespons kenekatan sang nenek yang sebentar lagi akan berhadapan dengan lautan merah di papan informasi, Siswanto hanya bisa tersenyum.
“Ya enggak apa-apa deh. Mungkin dia kan ada pihak travelnya, ya. Jadi bisa diurus,” ujarnya.
Namun, tidak semua cerita di Bandara Soekarno-Hatta hari itu diakhiri dengan tarikan napas berat. Di satu sudut yang lain, Nayoan (20) merespons gejolak alam ini dengan kepraktisan khas jiwa muda.
Pemuda ini sejatinya memiliki sebuah rencana penting. Ia harus pulang ke kampung halamannya di Lombok untuk mengambil dokumen pribadi yang diperlukan untuk menjalani pelatihan di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) sebelum pergi ke Jepang, tahun depan.
Beruntung, maskapai yang seharusnya membawanya pulang ke Lombok telah mengirimkan sinyal pembatalan jauh sebelum fajar menyingsing.
“Dia [maskapai] infoin pembatalan sebenarnya jam 02.30 pagi kalau enggak salah. Untungnya belum sempat ke sini jam segitu,” tuturnya lega.
Nayoan mendaratkan kakinya di bandara pagi-pagi buta pukul 04.30 WIB. Bukan untuk mengejar pesawat yang ia tahu tak akan segera lepas landas, melainkan demi mengajukan refund ke pihak maskapai.
“Ke sini tuh murni mau refund, sih. Lebih gampang refund ke sini langsung. Rugi waktu saja lah,” jelasnya santai sembari menunggu balasan surel dari pihak maskapai.
Abu vulkanik boleh saja membatalkan jadwal terbangnya, tetapi uniknya, Nayoan menolak membiarkan harinya ikut hangus. Berbekal uang refund, ia lekas memutar kemudi nasibnya.
“Iya, ini habis ini pakai kereta ke Surabaya. Buat liburan sebentar deh. Nanti balik ke sini lagi, baru ke Lombok minggu depan,” ceritanya sambil tersenyum ringan di tengah hiruk-pikuk dan ketidakpastian di Terminal 3 Bandara Soetta hari itu.
Penulis: Khizbulloh Huda
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id

































