tirto.id - Asep (34) kembali menemui istri dan ketiga anaknya di Lobi Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (7/9/2026). Raut kecewa tergurat jelas di wajah laki-laki yang berdomisili di Bali ini saat berbicara kepada istrinya. Mereka gagal terbang ke Sumatra untuk kedua kali.
"Kemarin tuh ditutup dulu [penerbangan] sampai jam 9.00 [WIB]. Saya nunggu sampai jam 12.00. Belum ada kepastian. Saya bawa anak-anak, ya, sudah saya reschedule. Cari hotel dekat-dekat bandara aja biar gampang," kata Asep kepada Tirto di lokasi, Senin (7/9/2026).
Hari ini, ia tidak menyangka pemberangkatan ditunda kembali. Padahal, Asep sudah dapat konfirmasi dari pihak maskapai bahwa dia dan keluarga dapat terbang ke Sumatra pukul 09.00 WIB sejak Minggu (6/9/2026) malam.
"Katanya, 'bisa, tunggu aja,' ya. Saya jam 09.00 ke sini, enggak bisa. Masih belum pasti. Soalnya kemarin isunya banyak customer yang komplain. Ada sedikit ketegangan. Makanya daripada terulang lagi, udah hari ini memang [dia] batalin aja," cerita Asep.
Ia bersama keluarga kecilnya pun pasrah menerima keadaan. Mereka saat ini kembali menetap sementara di sebuah hotel terdekat dari Bandara Halim Perdanakusuma. Biaya hidup juga kembali membengkak selama penundaan dan harus tinggal lagi di Jakarta.
Selain itu, nasib pendidikan kedua anak Asep terganggu akibat gagalnya penerbangan tersebut. "Dua hari ini. Anak saya sekolah pun terganggu ini mah. Saya tidak masalah sehari. Cuma ini mengecewakan, barusan ke dalam. [Operator bilang] masih belum pasti," keluhnya.
Asep yang bekerja di bidang telekomunikasi itu amat mengandalkan moda transportasi udara. Sejak beberapa hari lalu, dia mengaku pemberangkatan dari Bandung ke Jakarta tidak mendapat gangguan sama sekali.
Namun, pada Minggu (6/9/2026), abu vulkanik Gunung Anak Kratau (GAK) menghentikan penerbangan ke Sumatra. Dia pun harus segera ke Sumatra untuk meninjau proyek perusahaannya. "Timeline kerja saya harus berjalan. Kalau memang besok, saya info ke tim di sana karena saya harus mengambil keputusan selaku leader project," ucapnya.
Kejadian penerbangan yang gagal bukan kali pertama dirasakan Asep. Ia memang kerap melakukan penerbangan ke wilayah Sumatra hingga Kalimantan. Perjalanan bisnisnya sempat juga terganggu masalah cuaca. Ia tidak bisa berbuat banyak selain berharap semua bisa berjalan lancar.
"Kondisi masih rawan katanya. Kalau besok kemungkinan bisa, tapi belum tentu waktunya. Itu masalah belum tentu waktunya. Saya kan dari kemarin di sini nih. Kalau stay di sini [Jakarta], ya, operasional enggak jalan," tuturnya.

Berbeda dengan Asep, seorang pekerja swasta, Hanifa (30), memutuskan untuk berganti moda transportasi. Ia membatalkan penerbangan dan beralih menggunakan kereta api dalam perjalanan menuju Malang dari Jakarta.
"Tiketnya di-refund, jadi naik kereta. Keberangkatannya sore. Ini kali pertama kena cancel flight. Terus ya emang udah enggak bisa diapa-apain lagi, cuma bisa menerima aja," ujar Hanifa kepada Tirto di Lobi Bandara Halim Perdanakusuma, Senin.
Selama kondisi erupsi gunung vulkanik di perairan Selat Sunda itu belum mereda, ia mengaku terus beradaptasi dengan keadaan. Mulai menjaga diri dan kesehatan. Lalu dirinya juga meminta pemerintah fokus untuk menangani keadaan tersebut.
"Mungkin ya pemerintahnya aware aja sih. Buat kesehatan masyarakatnya, tapi ya Tuhan punya kehendak lain, punya cerita lain. Kerugian mungkin ya waktu. Cuman enggak apa-apa, diikutin aja jalannya," pinta Hanifah.
Pekerja yang Terganggu Penutupan Bandara
Meski tidak ada jadwal penerbangan di Bandara Halim Perdanakusuma, sejak Minggu (6/9/2026) hingga Senin (7/9/2026), Tary Dina (30) masih berusaha menawarkan jasa taksi terhadap para calon penumpang yang baru saja tiba.
"Iya, kalau kondisinya kan dengan keadaan yang seperti ini kan merugikan kami juga yang mencari nafkah di sini gitu. Kalau nggak dari sini kami dari mana?" tanya Tary kepada Tirto di lobi bandara, Senin.
Ia bilang, sejak kemarin, Minggu (6/9/2026), hingga hari ini, Senin (7/9/2026), para sopir taksi kesulitan mendapatkan pelanggan. Bahkan, perempuan ini mengaku belum menerima pesanan sama sekali sejak penutupan bandara.
"Belum ada, Kak. Sampai saat dari pagi kami juga di sini sampai dari jam 6 pagi sampai detik ini, kita belum dapat apa-apa. Belum dapat penghasilan apa-apa," keluhnya.
"Kita sih berharapnya lebih cepat. Cuma kan ini alam ya. Nggak ada yang tahu gitu. Cuma kami penginnya pemerintah lebih cepat tegas aja gitu dalam menanggapi masalah ini. Jadi kami bisa beraktivitas kembali seperti sedia kalanya," lanjut Tary.
Selagi menanti kepastian penumpang, Tary menjelaskan bahwa pihak manajemen taksi pun tak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi seperti ini. Mereka belum ada intruksi apapun, jadi mereka bakal terus bertahan.

Hal serupa dirasakan pedagang di sekitar bandara, Musbiha (53), menyebut, pendapatan harian bahkan merosot sampai menyentuh 30 persen. Kondisi ini sudah terjadi sejak Sabtu (5/9/2026).
"Sepi banget, bisa bisa tiduran kemarin," ucap perempuan tersebut kepada Tirto di sekitar Bandara Halim Perdanakusuma, Senin.
Selama beberapa hari ke belakang, penjaga warung makan itu hanya mendapat pelanggan yang notabene bekerja di bandara. Tak ada penumpang maupun para pengemudi moda transportasi umum.
"Alhamdulillah biasanya ada penumpang terus yang habis turun gitu, beli. Lalu ada pilot ya juga pada mampir, taksi juga banyak kan. Ini enggak ada sama sekali," ceritanya.
Biasanya, kata Musbiha, para pedagang tak bisa beranjak dari dapur dan bersantai dalam kondisi normal. Mereka selalu sibuk melayani para pelanggan. Apadaya, segala rutinitas sibuk ini terhenti karena faktor alam.
"Susah, ya, alam. Semoga ini cepat selesai saja yah. Harapannya cepat kembali normal aja gitu," ungkap Musbiha.
Halim Ditutup Lagi Hingga Sore Ini
Penutupan operasional dilakukan kembali Bandar Udara Halim Perdanakusuma hingga Senin (7/9/2026) pukul 18.00 WIB. Hal ini diketahui berdampak signifikan terhadap penerbangan dari dan menuju Jakarta.
Berdasarkan data terakhir, jadwal pukul 05.00 hingga 18.00 WIB, sebanyak 2.504 penumpang di Bandara Halim Perdanakusuma dipastikan terdampak akibat pembatalan massal penerbangan keberangkatan maupun kedatangan. Apabila dirinci, terdapat 1.177 penumpang dari rombongan keberangkatan gagal terbang, sementara 1.327 penumpang dari jadwal kedatangan turut mengalami pembatalan.
General Manager Operasional Halim Perdanakusuma, Kolonel Pnb Ali Sudibyo, mengungkapkan, hasil paper test yang dilakukan pihaknya masih menemukan abu vulkanik hingga saat ini.
"Jam 09.00 tadi masih terlihat adanya abu vulkanik ya dan abu vulkanik itu seperti yang kami tahu sangat membahayakan sekali penerbangan karena partikel dapat merusak mesin penerbangan," kata Ali kepada awak media di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (7/9/2026).
"Sehingga dari hasil data tersebut dan kalau kita lihat angin juga masih dari arah Anak Krakatau ke arah kami, jadi akan kami tutup kembali untuk penerbangannya," sambung Ali.
Pantauan Tirto di lokasi, sejumlah penumpang terlihat masih berada di sekitar bandara. Beberapa penumpang lain memutuskan pengambilan ulang tiket dan mengganti moda transportasi.
Di saat yang sama, Kapolres Jakarta Timur, Kombes Alfian Nurrizal, memastikan keamanan dan ketertiban umum terus terjaga di sekitar Bandara Halim Perdanakusuma. Kepolisian telah menyiapkan posko keamanan dan kesehatan.
Sementara itu, terkait pengaturan rekayasa arus lalu lintas, dia mengaku bakal dilakukan apabila terjadi kemacetan imbas penutupan bandara. "Ada pengaturan untuk rekayasa lalu lintas, namun kita akan melakukan cluster," jawabnya.
"Apakah [penumpang] kembali ke tempat asal atau mencari domisili, tempat yang dekat sini untuk penginapan sementara atau hotel. Nanti kami arahkan dan tentunya rekayasa lalu lintas kami sudah siapkan," sambung Alfian.
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id


































