tirto.id - Beredar video yang memperlihatkan sebuah gunung api sedang mengalami erupsi hebat dengan semburan lava berwarna merah-oranye dan diklaim sebagai Gunung Anak Krakatau yang sedang meletus di Indonesia.
Video tersebut disebarkan oleh akun Facebook “狮子王” (arsip) pada (8/9/2026) diunggah ke 我们是文德甲人(新版) KITA ORANG MENTAKAB (NEW). Dalam unggahan memperlihatkan letusan gunung dengan semburan lava dengan letak gunung dekat dengan hutan dan pepohonan hijau dan jalan raya serta terdengar suara pria mengucapkan gunung sedang erupsi “Oh my god it’s erupting” juga teriakan pergi “Go, go!” dengan menggunakan bahasa Inggris.
“印尼安达克拉卡托火山爆发 Letusan Gunung Berapi Anak Krakatau Indonesia,” begitu keterangan tertulis dalam unggahan.
Sampai artikel ini ditulis pada Jumat (11/9/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 9,3 ribu tayangan, 74 reaksi, dan 10 komentar.
Tirto juga menemukan banyak unggahan video serupa pada lintas platform, seperti dalam akun Facebook “Grenada Breaking News - J.H 50K,” akun Instagram @kristen.protestant @telanganahead, akun TikTok @Jonalyn Gumba dan akun X @KashmirDigital1. Semua akun tersebut menyebarkan video serupa dengan klaim letusan vulkanik mengerikan Gunung Anak Krakatau di Indonesia.
Lantas, benarkah video tersebut merupakan rekaman semburan lava dari letusan dahsyat Gunung Anak Krakatau di Indonesia?

Penelusuran Fakta
Untuk membuktikan kebenaran klaim, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) dengan menggunakan mesin pencarian Google. Hasilnya, tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan bahwa video tersebut adalah rekaman erupsi Gunung Anak Krakatau di Indonesia.
Melansir laman Badan Geologi, Gunung Anak Krakatau memang mengalami erupsi pada September 2026 dan catatan aktivitas erupsi Anak Krakatau terpantau melalui pos pengamatan serta kamera CCTV yang ditempatkan untuk mengamati aktivitas gunung tersebut.
Satu episode erupsi menerus terjadi sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB telah berakhir 6 September 2026 pukul 00.04 WIB, setelah berlangsung selama 25 jam. Sejak berakhirnya erupsi menerus hingga tanggal 10 September 2026 pukul 06.00 WIB, telah terjadi 13 kali erupsi Strombolian.
Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh hingga 10 September 2026, maka tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap pada Level III (Siaga).
Tirto kemudian mengamati video erupsi gunung yang menyemburkan lahar yang diunggah dan menemukan kejanggalan visual yang terlihat jelas. Semburan lava terlihat sangat simetris dan seragam, sementara asap serta aliran lava tampak kurang natural. Selain itu, gunung terlihat berada sangat dekat dengan rumah, jalan, kendaraan, dan tiang listrik.
Tata letak ini tidak sesuai dengan karakter Anak Krakatau yang merupakan gunung api di sebuah pulau di Selat Sunda, sehingga keberadaan permukiman dan infrastruktur yang tampak tepat di kaki gunung menjadi indikasi kuat bahwa video tersebut bukan rekaman asli Anak Krakatau.
Untuk memastikan keaslian video dalam unggahan tersebut, Tirto menggunakan layanan Hive Moderation, guna menganalisis gambar tersebut. Hasilnya menunjukkan, video tersebut memiliki probabilitas sebesar 99,8 persen sebagai hasil manipulasi AI.
Dalam laman Laporan Khusus Konfirmasi Video Hoaks Gunung Anak Krakatau 5 Juli 2026, Badan Geologi memperlihatkan letak Gunung Anak Krakatau berada di antara perairan, sedangkan dalam video yang beredar, gunung terlihat berada sangat dekat dengan kawasan permukiman, dengan rumah, kendaraan, jalan, dan tiang listrik berada di bagian depan gunung.
Sementara itu, Anak Krakatau merupakan gunung api yang berada di sebuah pulau di perairan Selat Sunda, sehingga tidak terdapat kawasan permukiman dengan jaringan jalan, dan tiang listrik seperti yang tampak dalam video tersebut.
NASA juga menjelaskan bahwa Anak Krakatau merupakan gunung api muda yang muncul dari perairan Selat Sunda, dengan kawah yang berada di bagian pulau, dan dikelilingi oleh aliran lava serta garis pantai.
Dengan demikian, perbedaan tata letak paling mencolok adalah posisi Anak Krakatau yang merupakan pulau vulkanik di tengah perairan, sedangkan video memperlihatkan gunung yang seolah-olah berada di belakang permukiman daratan dengan infrastruktur perkotaan di kaki gunung.
Penelitian mengenai morfologi Anak Krakatau juga menunjukkan bahwa tubuh gunung tersebut merupakan kompleks vulkanik yang terbentuk di atas kaldera Krakatau dan mengalami perubahan bentuk akibat aktivitas erupsi serta aliran lava.
Sebaliknya, pada video yang diperiksa, bentuk gunung terlihat seperti kerucut yang berdiri di belakang permukiman, sementara elemen geografis berupa laut dan pulau vulkanik tidak terlihat sebagaimana karakter lokasi Anak Krakatau.
Badan Geologi juga pernah mengeluarkan laporan khusus mengenai video palsu yang mengatasnamakan erupsi Anak Krakatau dan mengingatkan masyarakat agar tidak mempercayai maupun menyebarkan video yang belum terverifikasi.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pemeriksaan fakta, klaim bahwa video yang diunggah pada media sosial, dan viral tersebut adalah rekaman asli erupsi Gunung Anak Krakatau di Indonesia, bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).
Video tersebut merupakan konten yang dibuat menggunakan AI dan kemudian disebarkan seolah-olah sebagai dokumentasi bencana. Dalam beberapa cuplikan yang diunggah, juga ditemukan ketidaksesuaian tata letak Anak Gunung Krakatau dengan kondisi sebenarnya di Selat Sunda.
Gunung Anak Krakatau memang mengalami erupsi pada September 2026, tetapi video yang beredar bukan bukti visual autentik dari peristiwa tersebut.
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Editor: Tim Riset Tirto
Masuk tirto.id


































