Menuju konten utama

Hitung-hitungan Ekonomi Ojol & UMKM saat Erupsi Anak Krakatau

Guncang sektor ojol dan UMKM, pengamat desak pemerintah keluarkan insentif khusus dan jaminan kesehatan gratis di tengah bencana debu Krakatau.

Hitung-hitungan Ekonomi Ojol & UMKM saat Erupsi Anak Krakatau
Sambil menunggu pesanan melalui aplikasi digital, supir ojek online istirahat di lapak penjual burung di pinggir jalan Kemang Timur, Jakarta (19/12). tirto.id/Hafitz Maulana
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kebijakan pendidikan jarak jauh (PJJ) dan work from home (WFH) yang diberlakukan menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau memicu guncangan ekonomi para pekerja rentan di wilayah Jabodetabek sejak Senin (7/9/2026).

Sektor transportasi online (ojol) kini harus menghadapi kemerosotan pendapatan akibat anjloknya orderan penumpang dari kalangan pelajar dan pekerja kantor. Kondisi serupa juga menjalar pada para pelaku UMKM di sekitar area sekolah dan lingkungan kerja yang kehilangan basis konsumen utamanya.

Di tengah ketidakpastian sirkulasi uang di lapangan, pergeseran pola konsumsi digital ke arah transaksi online kini memicu fenomena risk shifting, di mana pemulihan ekonomi UMKM dan pemenuhan kebutuhan logistik masyarakat terpaksa dibayar mahal oleh meningkatnya risiko kesehatan para kurir ojol yang bertaruh hidup di luar rumah.

Kemerosotan Pendapatan Sektor Penumpang dan Desakan Perlindungan Sosial

Ketua Umum Asosiasi Pengemudi Ojol Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Indonesia, Raden Igun Wicaksono, mengatakan ojol mengalami penurunan orderan selama adanya kebijakan PJJ bagi pelajar dan WFH bagi pekerja di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

"Mereka ini [pengguna jasa] yang biasa memesan order ojek online untuk layanan penumpang itu menurun," kata Raden saat dihubungi Selasa (8/9/2026).

Raden membenarkan ada kenaikan permintaan jasa terhadap pemesanan makanan dan pengiriman barang melalui aplikasi. Namun, situasi ini tidak lantas menguntungkan pengemudi ojol.

Permintaan jasa turut berimbas pada kondisi kesehatan pengemudi ojol. Dampak tidak langsung dari erupsi Gunung Anak Krakatau bagi para pengemudi ojol adalah gangguan pernafasan.

Para pengemudi, kata Raden, tak punya pilihan selain keluar rumah untuk mencari orderan. Raden menyebut, para pengemudi ojol berharap pemerintah dapat memberikan bantuan berupa dukungan kesehatan di samping pembagian masker.

"Pemerintah agar menyediakan layanan-layanan kesehatan gratis akibat dampak erupsi gunung Anak Krakatau pada pekerja rentan ispa dan rentan kesehatan lainnya khususnya pengemudi ojek online," ujar Raden.

Pakar dan pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansah, mengatakan pada kondisi force majeure akibat erupsi Gunung Anak Krakatau ini, pemerintah harus mengeluarkan kebijakan berupa perlindungan sosial termasuk insentif bagi para ojol yang harus tetap diam di rumah. Sementara, kata Trubus, jaminan kesehatan harus diberikan kepada para ojol yang harus tetap keluar rumah untuk bekerja.

"Pemerintah memang perlu memberikan jaminan misalnya dia ditanggung kesehatannya misalnya kalau dia sakit ya dia mau periksa gratis misalnya," kata Trubus saat dihubungi, Selasa.

Lebih lanjut, Trubus mengatakan, bagi para pelaku UMKM yang harus tetap menjalankan usahanya dapat diberikan bantuan berupa intensif atau pembebasan pajak. Selain itu, kata Trubus, pemerintah juga dapat membantu UMKM dalam proses penyaluran dan subsidi bahan baku serta permodalan.

Ironi Fenomena Risk Shifting dan Desakan Insentif Khusus Aplikator

ilustrasi kurir makanan

ilustrasi kurir makanan. FOTO/iStockphoto

Pengamat Kesehatan Masyarakat, Iqbal Mochtar, mengatakan masyarakat yang bekerja di luar rumah lebih berisiko terkena dampak erupsi berupa abu vulkanik. Pasalnya, Iqbal menjelaskan, abu vulkanik bukan debu biasa karena mengandung zat yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga pernapasan serta memperberat kondisi orang yang telah menderita penyakit sebelumnya.

Dia mengatakan, kondisi saat ini membuat pesanan online semakin tinggi lantaran banyaknya orang yang tinggal di rumah. Kondisi ini juga mempengaruhi pergerakan ojol pengantar makanan dan barang yang meningkat. Katanya, hal ini menunjukkan fenomena risk shifthing atau risiko yang beralih.

"Jadi mungkin orang yang berada dalam rumah itu risikonya menjadi berkurang tetapi yang di luar rumah termasuk para ojol itu risikonya itu meningkat sekali," kata Iqbal saat dihubungi, Selasa.

Oleh karena itu, Iqbal menyebut tak ada pilihan selain melindungi diri dari paparan abu vulkanik dengan menggunakan masker standar medis seperti N95 atau KN95, menutupi seluruh badan, dan menggunakan goggle atau pelindung mata.

Meski begitu, Iqbal mengatakan, pemerintah dapat mempertimbangkan pemberian intensif bagi pekerja berisiko termasuk ojol di tengah erupsi Gunung Anak Krakatau ini. Dia juga menyarankan agar pihak aplikator terus memberikan peringatan dini kepada para pengemudinya agar terus berhati-hati saat bekerja saat adanya paparan abu vulkanik.

"Kemudian yang kedua dalam situasi seperti ini perlu dipertimbangkan ada insentif khusus ya insentif khusus bagi orang yang bekerja di dalam kondisi yang berisiko. Mungkin semacam penambahan fee atau apalah tapi perlu ada perbedaan antara bekerja pada kondisi normal dan pada keadaan tidak normal ya. Kemudian yang ketiga saya kira itu perlu aplikasinya itu dilengkapi dengan fitur-fitur yang memberikan peringatan dini," tutur Iqbal.

Rasionalitas Kalkulatif Konsumen dan Ujian Daya Saing UMKM

ilustrasi kurir makanan

ilustrasi kurir makanan. FOTO/iStockphoto

Trubus dari Trisakti mengatakan ajakan atau imbauan memesan makanan online kepada para UMKM di samping memberikan perlindungan kepada para pengemudi ojol dapat menjadi hal yang baik. Katanya, pelayanan kesehatan dan pemberian keamanan di tengah force majeure atau kondisi darurat merupakan tanggung jawab negara sebagaimana dalam amanat UUD 1945.

"Gitu tanggung jawab negara karena Undang-Undang 1945 begitu kan bahwa negara itu melindungi segenap bangsa Indonesia," kata Trubus.

Sementara itu, Bagong Suyanto selaku Ahli Sosiologi Ekonomi, Kemiskinan, dan Sosiologi Anak Universitas Airlangga menyebut bencana harus dilihat dari siapa yang paling dirugikan. Katanya, ojol dan UMKM memiliki dampak yang berbeda atas erupsi ini. Dia menyebut, UMKM terutama di bidang makanan seharusnya tidak terlalu terdampak karena masih dapat melakukan penjualan secara online.

"Ojol paling terdampak ketika mobilitas sosial warga dibatasi atau dikurangi. Sedangkan UMKM tidak terlalu terpengaruh karena mereka masih membuka usahanya secara online. UMKM yang menjual makanan, misalnya justru biasanya permintaan online meningkat," kata Bagong saat dihubungi, Selasa.

Dia menjelaskan sikap konsumen cenderung rasional kalkulatif atau tidak banyak berkaitan dengan sikap empati terhadap usaha masyarakat kecil. Katanya, masyarakat cenderung mencari komoditi yang murah dan sesuai dengan uang yang dikeluarkan. Oleh karena itu, Bagong mengatakan, di tengah ketidakpastian ini UMKM mau tidak mau harus berkontestasi dan bersaing agar tetap bertahan.

"Sikap konsumen cenderung rasional kalkulatif. Jadi tidak banyak berkaitan dengan sikap empatif terhadap usaha masyarakat kecil. Mereka biasanya mencari komoditi yang murah dan sesuai dengan uang yang dikeluarkan. Memang ada sebagian masyarakat yang empatif dan membeli sesuatu karena belas kasihan. Tetapi konsumen seperti ini tidak banyak. UMKM mau tidak mau harus berkontestasi dan bersaing agar dapat survive," tutup Bagong.

Baca juga artikel terkait ERUPSI ANAK KRAKATAU atau tulisan lainnya dari Auliya Umayna Andani

tirto.id - News Plus
Reporter: Auliya Umayna Andani
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Siti Fatimah