Menuju konten utama

Perang AS-Iran Beralih ke Perairan dan Dampaknya bagi Lingkungan

Perairan sekitar Teluk Persia dikhawatirkan tercemar minyak seiring dengan aktivitas perang AS-Iran yang beralih ke Selat Hormuz. Kapal tanker diserang.

Perang AS-Iran Beralih ke Perairan dan Dampaknya bagi Lingkungan
selat hormuz. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Medan pertempuran dalam perang Amerika Serikat (AS)-Iran dalam beberapa bulan terakhir telah beralih ke perairan Selat Hormuz. Kedua negara itu saling menyerang dan menenggelamkan kapal di sana. Seiring hal itu terjadi, ekosistem Hormuz mulai terancam.

Sejak Iran dan AS mencapai kesepakatan gencatan senjata yang rapuh pada 8 April lalu, titik fokus pertempuran telah beralih dari daratan Iran ke perairan Selat Hormuz. Kedua negara terus bersitegang atas bagaimana kendali atas selat tersebut akan diotorisasi.

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) berkali-kali dilaporkan menyerang kapal-kapal yang melakukan pelayaran di Hormuz. Banyak darinya merupakan kapal tanker komersial bermuatan komoditas energi.

Di sisi lain, militer AS juga turut menargetkan kapal-kapal tanker milik Iran. Misalnya seperti pada Selasa (8/9/2026) lalu, Washington menyerang lima kapal tanker pembawa minyak milik Teheran.

Seiring pertempuran macam itu berlangsung, kini dampak peperangan tak hanya dirasakan manusia, tetapi juga lingkungan di sekitaran Hormuz. Ekosistem perairan Hormuz kini terancam rusak akibatnya.

Dampak Perang AS-Iran di Perairan terhadap Lingkungan

Menukil Al Jazeera, jalannya peperangan antara AS dan Israel terhadap Iran pada tahun ini telah meningkatkan risiko kerusakan lingkungan yang berpotensi meluas di Teluk Persia. Hal ini disebut terjadi karena serangan yang dilakukan kedua negara turut menargetkan kapal tanker pembawa minyak.

Selat Hormuz, yang terletak di antara pantai Oman dan Iran, merupakan jalur sempit yang penting bagi distribusi energi global. Jalur ini telah digunakan untuk mendistribusikan seperlima pasokan energi dunia.

Badan Informasi Energi AS (EIA) menyebut jalur tersebut dimanfaatkan untuk mendistribusikan sekitar 20 hingga 21 juta barel minyak bumi per hari sebelum peperangan terjadi. Dengan adanya peperangan dan penargetan kapal tanker pembawa minyak di Hormuz, minyak-minyak itu berpotensi bocor ke laut.

Lalu lintas kapal di Selat Hormuz sendiri telah secara signifikan berkurang sejak pecahnya perang pada Februari lalu. Namun, hal ini tidak berarti bahwa kapal-kapal tanker pembawa minyak sepenuhnya berhenti beroperasi.

Berdasarkan data MarineTraffic pada Senin (7/9), terdapat 42 kapal tanker sedang antre untuk melintasi Selat Hormuz. Dari total 42 kapal tanker yang antre di sekitaran Selat Hormuz itu, 18 di antaranya merupakan pembawa minyak.

Tak jelas berapa jumlah muatan minyak yang dibawa oleh kapal-kapal tersebut. Namun, total muatan minyak yang bisa dibawa kapal-kapal tersebut diperkirakan mencapai 1,76 juta meter kubik.

Minyak dengan skala yang besar itu kini berpotensi tumpah ke laut lepas dan mencemarinya.

Tumpahnya minyak ke lautan merupakan salah satu bencana yang dapat mematikan bagi ekosistem di dalamnya. Minyak yang tumpah dapat meracuni kehidupan laut, mencemari air, dan menutupi terumbu karang dan hutan bakau.

Para pakar menjelaskan, minyak bumi yang tumpah ke laut lepas merupakan polusi yang berbahaya karena dapat secara langsung memengaruhi kehidupan ikan, karang, plankton, dan organisme laut lain. Keberlangsungan ekosistem juga terancam karena minyak turut berdampak pada larva ikan yang rentan.

Di tengah risiko itu, tumpahan minyak di tengah Perang AS-Iran dilaporkan telah terjadi beberapa kali. Seperti pada Juni lalu, polutan minyak bumi mencemari perairan Oman.

Insiden tumpahnya minyak di perairan Oman pada Juni lalu itu disinyalir berasal dari kandasnya kapal Caroline Bezengi. Kapal tanker ini dilaporkan mengalami ledakan misterius pada 8 Juni dan mengakibatkan minyak yang dibawa bocor ke laut lepas.

Caroline Bezengi kandas di sekitar perairan Yaman. Namun, pada Agustus lalu, tumpahan minyak dilaporkan telah mencemari sekitar 12 kilometer garis pantai Oman. Otoritas setempat juga telah memperingatkan berpotensi dampak pada 40 kilometer garis pantai dekat Ras Madraka dan Pulau Masirah.

Dalam insiden yang lain, Al Jazeera melaporkan tumpahan minyak juga diduga telah terjadi di dekat Pulau Qeshm dan Sirri di Iran pada 10 Agustus. Walaupun belum ada konfirmasi independen terkait hal ini, para ahli menduga tumpahan minyak berasal dari kapal Minoan Pioneer yang dihantam proyektil tak dikenal di lepas pantai Oman pada 3 Agustus lalu.

Dengan peperangan yang tak kunjung usai, bayang-bayang dampak ekologi akibat perang di Teluk Persia yang pernah terjadi di masa lalu kembali mengemuka.

Bayang-bayang tersebut laksana dampak lingkungan yang ditinggalkan invasi Irak ke Kuwait pada 1990. Konflik berakhir dengan mundurnya pasukan Irak pada Februari 1991. Kendati demikian, dampak ekologis dirasakan selama berdekade-dekade setelahnya.

Hal itu terjadi ketika pasukan Irak membakar sumur minyak Kuwait sebagai aksi putus asa saat dipukul mundur AS. Kebakaran ini berlangsung selama berbulan-bulan dan melepaskan jutaan galon minyak ke pantai utara Teluk Persia.

Akibat hal itu, lebih dari 770 kilometer garis pantai dari Kuwait bagian selatan hingga Pulau Abu Ali di Arab Saudi terendam minyak dan ter. Sedimen garis pantai juga hancur, bersama spesies laut dan ekosistemnya.

Selama berdekade-dekade setelahnya, polusi mengontaminasi ekosistem dan dampaknya masih dapat ditengarai sampai sekarang. Meskipun alam berusaha memulihkan diri, namun residu minyak mentah dalam jumlah yang besar disebut masih terperangkap dalam perairan tersebut.

Kini, hanya dalam kurun waktu 35 tahun setelah insiden kebocoran minyak di Kuwait, potensi bencana serupa telah meningkat di Selat Hormuz. Seperti yang terjadi di masa lalu, risiko itu juga datang dari peperangan yang tak kunjung berhenti.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar