tirto.id - Korea Selatan (Korsel) dilaporkan tengah mempersiapkan langkah untuk menerjunkan unit militer mereka ke Selat Hormuz. Pemerintah telah menyangkal, meski tak membantah kesiapan mereka ikut serta dalam “kebebasan navigasi” di selat tersebut.
Seturut Japan Times, laporan bahwa Korsel tengah bersiap untuk menerjunkan unit militer ke Hormuz semula dirilis sejumlah outlet berita lokal, termasuk JTBC dan MBC, pada Kamis (3/9/2026). Laporan itu menyebut Pemerintah Korsel kini tengah meminta izin parlemen untuk melakukannya sebelum akhir tahun.
Laporan itu menjelaskan, sejumlah opsi yang diusulkan Pemerintah Korsel termasuk pengerahan pesawat patroli maritim, kapal pendukung logistik, serta unit pembersihan ranjau. Hal ini disebut dilakukan sebagai bagian dari kontribusi potensial dengan negara sekutu, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Inggris.
Menukil A News, hal serupa juga diungkap seorang pejabat Kementerian Pertahanan Nasional Korsel. Kepada SBS, pejabat itu menyebut bahwa mereka sedang melakukan “persiapan konkret” untuk “mengirim pasukan angkatan laut ke Selat Hormuz”.
Persiapan ini juga dikaitkan dengan peristiwa sebelumnya, ketika Presiden AS Donald Trump mengkritik Seoul karena menolak berpartisipasi dalam perang melawan Iran. Kritik itu memicu pengurangan jumlah latihan militer antara AS-Korsel.
Imbas peristiwa itu, Korsel menyatakan kesiapan mereka untuk mengerahkan pasukan ke Hormuz. Namun, kala itu Korsel menyebut hanya bersedia melakukannya setelah Perang AS-Iran berakhir.
Akan tetapi, belakangan muncul kabar bahwa Pemerintah Korsel dalam proses persiapan untuk melakukannya sebelum akhir tahun ini. Seorang pejabat militer Korsel juga mengatakan, persiapan ini telah sampai pada diskusi terkait izin penggunaan pangkalan dengan negara lain.
Pada Jumat (4/9), Istana Kepresidenan Korsel membantah laporan tersebut. Dalam keterangannya, seorang pejabat kepresidenan Korsel menyebut laporan tersebut “tidak benar”.
Meski begitu, ia tidak membantah bahwa pemerintahan Lee Jae Myung kini tengah mengkaji sejumlah opsi untuk berkontribusi dalam apa yang disebut sebagai “kebebasan navigasi di Selat Hormuz”. Opsi militer termasuk salah satu aspek yang dikaji, namun tak mencakup semuanya.
Keputusan Mengirim Pasukan Masih dalam Peninjauan
Dalam keterangan resminya pada Jumat, Kantor Kepresidenan Korsel menyebut hingga kini proses peninjauan opsi untuk berkontribusi dalam konflik di Selat Hormuz masih berlangsung. Opsi apa yang dipilih Korsel disebut belum diputuskan hingga kini.
Seturut Yonhap, seorang pejabat kantor kepresidenan menjelaskan bahwa Pemerintah Korea akan memilih opsi yang dipastikan tidak mengganggu kesiapsiagaan pertahanan dalam negeri mereka. Oleh karenanya, opsi apa yang dipilih belum diputuskan.
“Untuk memberikan kontribusi nyata ke Selat Hormuz, hal ini pertama-tama harus dipertimbangkan berdasarkan kesiapan kami di semenanjung Korea, serta sesuai dengan prosedur hukum di sini,” kata pejabat tersebut.
Pejabat tersebut juga menjelaskan bahwa kontribusi militer, termasuk sebagai opsi yang tengah dijajaki, tak selalu berarti unit tempur. Menurutnya, opsi tersebut bisa saja berupa pengerahan pasukan non-tempur dan pasukan pengawasan.
“Ketika Anda mendengar tentang pengerahan pasukan, Anda cenderung mengaitkannya dengan pertempuran, tetapi itu tidak harus selalu demikian,” katanya.
Publik Korsel sendiri dilaporkan telah menunjukkan sentimen negatif terhadap Perang Iran-AS yang berlangsung sejak 28 Februari lalu. Pada bulan Maret lalu, jajak pendapat Gallup Korea menunjukkan 55 persen publik Korsel menentang pengiriman kapal perang mereka ke Selat Hormuz. Hanya 30 persen yang setuju opsi tersebut.
Keterlibatan negara-negara lain dalam perang juga telah diminta Donald Trump setelah ia menyatakan perang melawan Iran. Berulang kali ia mengkritik sekutunya, termasuk NATO dan yang terbaru Korea Selatan, karena keengganan berkontribusi terhadap perang tersebut.
NATO bahkan sempat diterpa isu perpecahan akibat hal ini, sebelum akhirnya negara-negara NATO bersepakat terlibat dalam upaya militer pasca-perang. Hal ini termasuk pada upaya penyapuan ranjau laut di Selat Hormuz setelah perang usai.
Israel sejauh ini menjadi satu-satunya sekutu AS yang ikut serta secara langsung dalam pertempuran melawan Iran. Sementara mayoritas sekutu AS yang lain menyerukan de-eskalasi dan mendorong upaya diplomasi.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































