Menuju konten utama

Trump Ingin Ubah Nama Selat Hormuz Jadi Selat Trump

Trump menyatakan keinginannya untuk mengubah nama Selat Hormuz menjadi Selat Trump. Hal ini ia lakukan di tengah eskalasi konflik dengan Iran.

Trump Ingin Ubah Nama Selat Hormuz Jadi Selat Trump
Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato kepada bangsa dari East Room Gedung Putih di Washington, DC, pada 16 Juli 2026. (Foto oleh SAUL LOEB / POOL / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat pernyataan kontroversial dengan mengusulkan perubahan nama Selat Hormuz menjadi “Trump Strait” atau Selat Trump. Pernyataan Trump ini dibuat di tengah eskalasi dengan Iran yang kembali memanas.

Usulan pergantian nama Selat Hormuz tersebut disampaikan Trump melalui unggahan di akun Truth Social pada Rabu, 2 September 2026. Trump mempertanyakan apakah nama Selat Hormuz perlu diganti setelah ia mengklaim jalur tersebut berada di bawah kendali AS.

“Sekarang setelah berada di bawah kendali AS, haruskah kita mengganti nama Selat Hormuz menjadi SELAT TRUMP??? Seperti Amerika sendiri, selat ini akan menjadi "lebih panas" dari sebelumnya! Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini,” tulis Trump.

Tak lama setelah pernyataan Trump, Gedung Putih turut mengunggah peta kawasan Teluk yang menandai Selat Hormuz dengan nama “Selat Trump”.

“Kedengarannya bagus,” tulis Gedung Putih di akun X @WhiteHouse.

Sehari setelah mengusulkan perubahan nama Selat Hormuz menjadi Selat Trump, Trump kembali membuat pernyataan mengenai perubahan nama geografis melalui Truth Social. Kali ini ia mengklaim bahwa Apple Maps telah mengumumkan perubahan nama Danau Ontario menjadi “Danau Amerika”.

“Apple Maps baru saja mengumumkan bahwa mereka telah mengubah nama Danau Ontario menjadi Danau Amerika, jadi sekarang perubahan nama yang sangat penting antara Google Maps dan Apple Maps telah selesai, disahkan, dan mengikat. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!” tulisnya.

Dalam kasus Danau Ontario, perubahan nama yang diklaim Trump juga bersinggungan dengan hubungan AS-Kanada karena danau tersebut berada di perbatasan kedua negara. Pergantian nama ini tentu punya arti tersendiri mengingat AS dan Kanada sedang terlibat dalam perang dagang.

AS-Iran Kembali Terlibat Aksi Saling Serang

Serangan AS dilaporkan kembali dilancarkan terhadap Iran pada Rabu, 2 September 2026. Sebuah pesta pernikahan di Kuhestak, wilayah Sirik, turut terkena dampak. Pemerintah Iran menyatakan sedikitnya lima orang tewas, termasuk seorang anak.

Menurut pihak Iran, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismaeil Baghaei,korban di pesta pernikahan tersebut merupakan bagian dari warga sipil yang terdampak serangkaian serangan AS di sejumlah wilayah Iran. Baghaei menyebut serangan itu sebagai tindakan yang brutal.

Selain di Kuhestak, ledakan juga dilaporkan terjadi di beberapa wilayah pesisir Iran, termasuk Konarak, Bandar Abbas, Jask, Asaluyeh, Ahvaz, dan Pulau Qeshm. Gubernur Sirik, Reza Shahdiyan, mengatakan 63 orang terluka akibat serangan di wilayahnya.

Dari jumlah tersebut, sekitar 50 orang disebut merupakan perempuan dan anak-anak. Palang Merah Iran kemudian merilis rekaman yang memperlihatkan sebuah bangunan rusak dengan puing-puing berserakan. Sejumlah anak juga dilaporkan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit setelah terdampak serangan.

Serangan tersebut terjadi setelah militer AS mengumumkan gelombang serangan baru terhadap Iran. Washington menyatakan serangan itu merupakan respons terhadap tindakan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), terutama serangan terhadap kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz.

AS mengatakan sasaran serangannya adalah fasilitas yang dianggap berkaitan dengan kepentingan militer Iran, seperti sistem pertahanan udara, radar, fasilitas dan aset maritim, kemampuan untuk memasang ranjau, serta fasilitas komunikasi.

Sebagai balasan, IRGC mengklaim melancarkan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah fasilitas serta pangkalan AS di negara-negara sekitar Iran, termasuk Yordania, Bahrain, Kuwait, dan Irak.

Uni Emirat Arab mengecam serangkaian serangan rudal dan drone Iran terhadap Kerajaan Bahrain, Negara Kuwait, Kerajaan Hashemite Yordania, dan Wilayah Kurdistan Irak.

Kementerian Luar Negeri (MoFA) UEA menegaskan bahwa serangan-serangan bermusuhan ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara-negara bersaudara dan ancaman terhadap keamanan dan stabilitas kawasan.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra