Menuju konten utama

Potret Pilu Siswa SD di NTT: Belajar di Kelas Reyot Tanpa WC

Beralaskan pasir pantai dan berdinding bambu bolong, anak-anak di Pulau Pangabatang NTT merawat mimpi di sekolah tanpa WC dan listrik.

Potret Pilu Siswa SD di NTT: Belajar di Kelas Reyot Tanpa WC
Tampak depan bangunan sekolah dasar MIS Muhammadiyah Parumaan Kelas Jauh Pangabatang di Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka. tirto.id/Mario Sina.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Belajar di ruang kelas yang layak dengan fasilitas belajar yang memadai masih menjadi harapan panjang yang entah kapan bisa terealisasi bagi siswa MIS Muhammadiyah Parumaan Kelas Jauh Pangabatang di Pulau Pangabatang, Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setiap hari, para siswa harus menelan kenyataan pahit demi mengecap bangku pendidikan.

Dinding sekolah masih menggunakan pelupuh bambu yang tampak bolong termakan usia. Atapnya hanya seng tanpa plafon dan tak ada jendela. Bangunan berukuran 4x5 meter ini pun masih berlantaikan pasir pantai.

Di sekolah ini juga tak tersedia fasilitas belajar semisal Smart Digital TV. Hanya tampak sebuah papan tulis putih yang dipasang pada dinding kayu dan bambu. Namun di sampingnya, tersemat pigura foto Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka.

Sementara meja dan kursi kayu yang digunakan siswa kusam dan penuh coretan. Kondisi memprihatinkan terlihat saat kontributor Tirto menyambangi sekolah ini pada Senin (21/9/2026) sore.

Keterbatasan di sekolah ini sampai membuat sejumlah kelas harus berbagi ruangan. Sekat dibuat secara sederhana, demi ruang yang dapat dipergunakan oleh dua kelas. Meski demikian, keterbatasan fasilitas tidak menghilangkan semangat siswa untuk belajar.

Guru sekaligus Kepala Sekolah MIS Muhammadiyah Parumaan Kelas Jauh Pangabatang, Nurmawati Anwar, mengatakan sekolah tersebut melayani siswa kelas I hingga kelas VI dengan jumlah keseluruhan 33 siswa.

"[Jumlah siswa] 33 orang," kata Nurmawati.

Rinciannya, kelas I dan kelas II masing-masing delapan siswa. Sementara di kelas III sebanyak tiga siswa, kelas IV ada lima siswa, kelas V ada lima siswa, dan kelas VI diisi dua siswa.

Untuk mendampingi para siswa, terdapat lima guru dan tenaga kependidikan yang bertugas.

"Kalau khusus untuk di Pangabatang ada lima," ujarnya.

Nurmawati kemudian mengungkap cerita di balik bangunan sekolah. Rupanya, keberadaan MIS Muhammadiyah Parumaan Kelas Jauh Pangabatang merupakan bagian dari sekolah induk yang berada di Parumaan.

Bangunan sekolah pun sebagian merupakan bantuan dari komunitas Kelola Buku Kita dari Bandung yang dibangun sekitar 2017 dan diresmikan pada 2019.

Bantuan tersebut berupa bangunan permanen dengan dua ruang kelas. Namun karena kebutuhan ruang belajar, ruangan yang tersedia harus dimanfaatkan secara maksimal.

"Satu ruang disekat jadi dua," kata Nurmawati.

Kelas V dan kelas VI menggunakan salah satu ruang dengan pengaturan waktu belajar. Sementara ruang lainnya digunakan oleh kelas III dan kelas IV.

Ada pula satu ruangan yang sengaja tidak diberi sekat karena sewaktu-waktu digunakan untuk pertemuan bersama orang tua siswa.

"Kalau ada pertemuan orang tua, kita tidak sekat," jelasnya.

Tak Ada WC, Ruang Guru, dan Perpustakaan

MIS Muhammadiyah Parumaan Kelas Jauh Pangabatang

Tampak depan ruang kelas sekolah dasar di Pulau Pangabatang, Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka. tirto.id/Mario Sina.

Keterbatasan sekolah bukan hanya soal ruang kelas. Sekolah kelas jauh tersebut juga tidak memiliki ruang khusus untuk guru maupun kepala sekolah. "Ruang guru dan ruang kepala sekolah tidak ada," ungkap Nurmawati.

Untuk perpustakaan, fasilitas tersebut hanya tersedia di sekolah induk di Parumaan. Sementara di kelas jauh ini, tidak ada.

Berdasar pantauan kontributor Tirto, keadaan sekolah tidak menyurutkan antusiasme para siswa untuk mengikuti pembelajaran. Para guru juga terus mendampingi mereka walaupun dengan fasilitas yang minim.

Selain kondisi bangunan, sekolah ini juga belum terjangkau jaringan listrik PLN atau pun listrik dari PLTS seperti rumah-rumah warga di Pulau Pangabatang. Keterbatasan daya ini membuat perangkat elektronik seperti laptop jarang sekali digunakan di sekolah.

Nurmawati mengungkap, untuk mengisi daya powerbank atau perangkat tertentu, ia bersama warga lain harus membayar sekitar Rp1.000 sekali pengisian di rumah PTLS yang lokasinya berada di belakang sekolah. Dia turut membeberkan, kondisi tanpa listrik PLN juga dialami sebagian rumah warga di Pulau Pangabatang.

Gaji Guru Honor Rp300 Ribu Sebulan

MIS Muhammadiyah Parumaan Kelas Jauh Pangabatang

Anak-anak kelas 1 belajar di ruang kelas reyot berlantai pasir dan berdinding pelupu di MIS Muhammadiyah Parumaan Kelas Jauh Pangabatang di Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka. tirto.id/Mario Sina.

Terkait dengan pendapatan atau gaji yang diterima sebagai guru, Nurmawati menyampaikan bahwa ia hanya mendapatkan gaji sebagai tenaga honor Rp300 ribu per bulan.

Dia mengaku tidak mendapatkan tambahan pendapatan lainnya, misalnya insentif guru honor dari Pemkab Sikka. “Gaji kami Rp300 ribu, tidak ada tambahan penghasilan lain,” ungkap Guru Nurnawati.

Dalam kesempatan yang sama, kontributor Tirto turut mewawancarai warga Pulau Pangabatang sekaligus Ketua RT 14, Hamid. Dia mengatakan, sebelum ada MIS Muhammadiyah Parumaan Kelas Jauh Pangabatang, anak-anak di Pulau Pangabatang mesti menyeberangi laut menggunakan perahu untuk bisa bersekolah di SDN Pangabatang di Pulau Dambila.

“Sejak ada sekolah kelas jauh di Pulau Pangabatang, anak-anak kemudian bisa bersekolah di sini walaupun dengan fasilitas belajar yang belum layak,” ungkapnya.

Selaku orang tua, pihaknya mengharapkan adanya perhatian dari Pemkab Sikka untuk sekolah MIS Muhammadiyah Parumaan Kelas Jauh Pangabatang. Dia meminta agar anak-anak di Pulau Pangabatang bisa belajar di ruang kelas dan fasilitas belajar yang layak.

Baca juga artikel terkait SEKOLAH RUSAK atau tulisan lainnya dari Mario Wihelmus PS

tirto.id - News Plus
Kontributor: Mario Wihelmus PS
Penulis: Mario Wihelmus PS
Editor: Siti Fatimah