tirto.id - Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah hingga hari keenam pascabencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan total korban jiwa kini mencapai 75 orang dan jumlah pengungsi mendekati angka 100 ribu jiwa.
"Di mana kemarin kami memberitakan 71 jiwa. Hari ini bertambah empat jiwa dengan rincian di Kabupaten Sikka bertambah dua, Kabupaten Manggarai bertambah satu, Nagekeo bertambah satu," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers, Kamis (20/8/2026).
Selain korban meninggal, BNPB mencatat 907 orang mengalami luka-luka. Tingginya frekuensi gempa susulan juga memicu lonjakan jumlah pengungsi yang signifikan.
"Saat ini, kami mencatat ada 92.735 jiwa, yang semula ada 59.647 jiwa," ujar Berton.
Peningkatan pengungsi terbesar terjadi di Kabupaten Nagekeo sebanyak 21.883 jiwa, disusul Kabupaten Manggarai 9.649 jiwa, dan Kabupaten Manggarai Barat 1.556 jiwa.
502 Sekolah Rusak Berat akibat Gempa NTT
Sektor pendidikan turut terdampak parah. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, melaporkan 502 sekolah mengalami kerusakan berat di tujuh kabupaten.
"Di sektor pendidikan, gempa bumi berdampak terhadap 1.378 satuan pendidikan. Dengan 502 sekolah di antaranya dilaporkan rusak berat di 7 kabupaten yang meliputi 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan," ungkap Atip.
Akibat kerusakan tersebut, sebanyak 923 sekolah terpaksa diliburkan. Sementara itu, 171 sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh, 35 sekolah menggunakan tenda darurat, dan hanya 30 sekolah yang masih melangsungkan pembelajaran tatap muka.
Kemendikdasmen saat ini tengah mendistribusikan 100 tenda ruang kelas untuk memfasilitasi sekolah yang rusak berat secara bertahap. Atip menegaskan bahwa langkah ini diambil demi keselamatan warga sekolah.
"Pelaksanaan pembelajaran mengikuti kebijakan dari Gubernur NTT untuk melaksanakan pembelajaran dari rumah dan di tempat pengungsian agar menghindari bangunan yang berpotensi roboh dan melukai karena gempa susulan yang masih terus berlangsung," pungkas Atip.

Percepat Bangun Kembali Jalan Rusak Terdampak Gempa NTT
Upaya pemulihan juga dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Bina Marga dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Nusa Tenggara Timur (NTT). Kementerian PU terus mempercepat penanganan darurat terhadap infrastruktur jalan nasional yang terdampak gempa bumi.
Kepala Seksi Preservasi BPJN NTT, Rofinus Ngilo, mengatakan sejak gempa terjadi, pihaknya terus melakukan penanganan sementara, terutama pembersihan material longsoran dan kerusakan pada sejumlah titik di sepanjang jalur lintas Flores.
"Sejak kejadian gempa bumi tanggal 15 Agustus 2026 sampai dengan saat ini, kami terus melakukan penanganan sementara dan pembersihan jalan nasional jalur lintas Flores agar tetap fungsional," kata Rofinus di Kupang, Kamis (20/8/2026) dilansir dari Antara.
Menurut dia, koordinasi dengan berbagai pihak terkait juga terus dilakukan untuk mengantisipasi dampak gempa susulan yang masih terjadi hingga saat ini.
"Untuk mengantisipasi adanya titik-titik baru kerusakan akibat gempa susulan, kami tetap menyiapkan peralatan dan personel untuk standby pada titik-titik longsor maupun lokasi yang dianggap rawan," ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi di lapangan masih dinamis karena gempa susulan masih sering terjadi. Hal tersebut menyebabkan potensi munculnya kerusakan baru pada badan jalan maupun infrastruktur pendukung lainnya tetap ada.
Terkait jembatan yang terdampak gempa pada ruas jalan nasional, hingga saat ini masih dilakukan pemeriksaan oleh tim satuan tugas Kementerian PU yang sedang bertugas di wilayah terdampak.
"Pemeriksaan terhadap jembatan yang terdampak masih dilakukan oleh tim Satgas Kementerian PU. Ini untuk memastikan kondisi dan menentukan langkah penanganan yang diperlukan," katanya.
Sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan kondisi darurat pada jembatan yang terdampak, BPJN NTT juga memperoleh dukungan persediaan rangka jembatan Bailey dari sejumlah balai jalan di wilayah lain.
Rangka jembatan Bailey tersebut saat ini dalam proses mobilisasi menuju NTT dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Sulawesi Selatan, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Jawa Timur-Bali, serta Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Nusa Tenggara Barat.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id

































