tirto.id - Presiden Prabowo Subianto menyatakan tidak boleh lagi ada anak yang bertaruh nyawa ke sekolah dengan menyeberang jembatan. Ia menjanjikan pembangunan di desa agar transportasi bisa lebih lancar
Hal itu ia sampaikan saat berpidato dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD dalam rangka HUT ke-81 RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026).
Prabowo melaporkan sejumlah capaian infrastruktur. Tahun ini telah diselesaikan 2.500 jembatan desa yang dibangun TNI dan sekitar 800 jembatan yang dibangun Polri.
Targetnya, 5.000 jembatan desa akan rampung sebelum akhir tahun.
“Tidak boleh lagi ada anak-anak kita yang harus bertaruh nyawa menyeberang sungai untuk ke sekolah karena tidak ada jembatan. Juga ibu-ibu dan petani kita tidak boleh berjam-jam menuju pasar mereka,” tegasnya.
"Berangkat sekolah berjalan berjam-jam, berangkat basah, di kelas basah, pulang basah, tidak boleh terjadi lagi," kata Prabowo.
Ia juga berharap seluruh pejabat pemerintah daerah mengecek desa yang membutuhkan jembatan. Apabila tidak diatasi, lanjut Prabowo, pemerintah pusat akan turun tangan.
"Kita tidak akan biarkan rakyat kita terlantar," ujarnya.
Di bidang air bersih, dalam delapan bulan pertama 2026, TNI telah membangun 3.000 titik air desa.
“Banyak rakyat kita yang tidak punya akses bahkan untuk satu jerigen air bersih untuk minum, untuk mandi, untuk wudhu. Belum lagi air untuk ternak dan tanaman mereka,” pungkas Prabowo.
Koperasi Jadi Solusi Ekonomi Rakyat Desa
Dalam pidato kenegaraannya, Prabowo juga mengungkapkan bahwa koperasi merupakan solusi dari konteks ekonomi Indonesia, sesuatu yang tengah digarap pemerintahannya.
Dirinya juga turut menyatakan supaya koperasi ini beroperasi dengan baik, perlu diorganisir dan dibantu supaya penyalurannya baik tanpa halangan mobilisasi.
“Kekuatan ekonomi Indonesia berada di desa. Pada petani kita, nelayan kita, pedagang kita, perajin, perempuan kepala keluarga, dan anak muda kita yang membangun usaha di kampung-kampung halaman,” ujar Prabowo.
Ia mengingatkan pengalaman krisis moneter 1998, ketika bank-bank besar dan perusahaan raksasa bertumbangan, namun ekonomi desa justru tetap kokoh karena ekonomi rakyat.
“Yang menyelamatkan kita justru adalah UMKM dan ekonomi rakyat,” ujarnya.
Hingga hari ini, sudah 10.000 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih beroperasi. Dari jumlah itu, 3.300 koperasi telah beroperasi secara optimal, sementara sisanya masih dalam masa penyesuaian.
“Operasional optimal artinya semua sarana sudah ada dan sudah berjalan. Stok sudah bisa dimonitor oleh sistem digital terpusat. Koperasi sudah bisa menjadi off taker. Koperasi jadi pembeli hasil pertanian dan perikanan setempat,” jelasnya.
Prabowo menyoroti sebuah capaian yang menurutnya bernilai sejarah, yakni koperasi yang sudah memiliki armada angkutnya sendiri, sehingga tidak lagi bergantung pada pihak ketiga.
“Ini saya kira pertama kali dalam sejarah di Indonesia, bahwa koperasi diorganisir, dibantu, dan dilengkapi dengan angkutannya sendiri,” ujarnya.
Dengan adanya angkutan tersebut, persoalan lama yang selama ini merugikan petani seperti hasil panen rusak karena tidak ada yang bisa mengambilnya, diharapkan dapat teratasi.
“Koperasi adalah alat agar petani tidak berjalan sendiri, nelayan juga tidak berusaha sendiri, dan desa memiliki daya tawar dan daya tarik ekonomi,” tegasnya.
Target pemerintah, 30.000 koperasi beroperasi secara optimal sebelum akhir 2026. “Kita cantumkan target kita tinggi,” kata Prabowo.
Penulis: Khizbulloh Huda
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id
































