Menuju konten utama

Rupiah dan IHSG Dibuka Melemah Hari Ini 24 September 2026

Rupiah melemah ke Rp17.864 per dolar AS dan IHSG turun 0,16 persen ke 6.364,98 pada pembukaan perdagangan Kamis, 24 September 2026.

Rupiah dan IHSG Dibuka Melemah Hari Ini 24 September 2026
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Senin (13/7/2026). Nilai tukar rupiah berada di level Rp18.109 per dolar AS pada perdagangan Senin (13/7) sore, rupiah melemah 44 poin atau 0,24 persen dibandingkan dari penutupan sebelumnya di level Rp 18.065 per dolar AS imbas ketegangan geopolitik AS-Iran yang meningkat di Timur Tengah. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (24/9/2026) menjadi Rp17.864 per dolar AS. Senada dengan rupiah, IHSG juga dibuka di zona merah.

Rupiah turun 46 poin atau 0,26 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.818 per dolar AS.

Analis Doo Financial Lukman Leong, dilansir Antara, Kamis(24/9/2026), menilai pelemahan rupiah salah satunya dipengaruhi oleh kembali melonjaknya harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak terjadi setelah Iran meragukan adanya kemajuan dalam perundingan perdamaian dengan Amerika Serikat.

Menurut Lukman, ketidakpastian tersebut mendorong harga minyak kembali naik dan turut memberikan tekanan terhadap mata uang rupiah.

Kenaikan harga minyak terlihat pada perdagangan komoditas energi dunia. Mengutip Xinhua, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik 1,64 dolar AS atau 1,81 persen dan ditutup pada level 92,16 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sedangkan minyak mentah Brent untuk pengiriman November naik lebih tinggi, yakni 3,83 dolar AS atau 3,86 persen, sehingga ditutup pada level 103,08 dolar AS per barel di bursa London ICE Futures.

Selain kenaikan harga minyak, rupiah juga tertekan oleh penguatan dolar AS. Penguatan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi pasar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

“70 persen kenaikan 25 bps (basis points) di bulan Oktober dan lebih dari 50 persen kenaikan lagi di Desember,” ujar Lukman.

Kenaikan suku bunga AS dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar karena dapat membuat aset-aset dalam dolar AS menjadi lebih menarik bagi investor. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap dolar AS dan pada saat yang sama memberikan tekanan terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Setelah Ditutup Menguat, IHSG Dibuka Melemah Pagi Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pembukaan perdagangan Kamis (24/9/2026), bergerak melemah. IHSG turun 9,93 poin atau 0,16 persen ke posisi 6.364,98.

Pelemahan juga terjadi pada kelompok 45 saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45. Indeks tersebut turun 2,55 poin atau 0,40 persen menjadi 630,63.

Pergerakan IHSG pada pembukaan perdagangan tersebut terjadi sehari setelah indeks ditutup menguat cukup signifikan. Pada perdagangan Rabu, IHSG ditutup naik 97,87 poin atau 1,56 persen ke posisi 6.374,91. Sedangkan indeks LQ45 menguat 7,57 poin atau 1,21 persen menjadi 633,18.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M Nafan Aji Gusta mengatakan penguatan IHSG pada perdagangan Rabu terutama didorong oleh hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen.

Keputusan tersebut dinilai memberikan kepastian bagi pelaku pasar mengenai arah kebijakan moneter domestik, terutama ketika rupiah sedang mendapat tekanan dan imbal hasil atau yield obligasi global mengalami kenaikan.

"Setelah keputusan BI diumumkan, saham-saham perbankan besar langsung merespons positif sehingga menjadi salah satu katalis utama penguatan IHSG," ujar Nafan dikutip Antara, Rabu(23/9/2026).

Selain sektor perbankan, sentimen positif dari bursa global dan penguatan kembali atau rebound saham-saham berbasis komoditas turut mendorong minat investor terhadap aset berisiko atau risk appetite.

Penguatan IHSG terutama juga ditopang sektor keuangan, barang baku, energi, dan konsumer siklikal. Bahkan sebelum keputusan BI diumumkan, sektor barang baku telah menjadi salah satu penggerak penguatan, saham-saham komoditas juga mencatat kenaikan cukup signifikan.

Pasar saham disebut masih akan dipengaruhi sejumlah faktor eksternal seperti perubahan yield US Treasury, arah kebijakan suku bunga The Fed, fluktuasi nilai tukar rupiah, harga minyak dunia, serta arus masuk dan keluar dana asing.

"Karena itu, untuk sisa bulan ini IHSG berpotensi bergerak dalam pola volatile sideways dengan kecenderungan rebound, selama tekanan jual asing tidak kembali meningkat secara signifikan dan level support teknikal mampu dipertahankan," ujar Nafan.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra