Menuju konten utama

Rupiah Menguat ke Rp17.857 per Dolar AS, IHSG Naik 0,33 Persen

Rupiah menguat ke Rp17.857 per dolar AS dan IHSG naik 0,33 persen pada pembukaan Rabu (23/9), di tengah perhatian pasar pada kebijakan The Fed.

Rupiah Menguat ke Rp17.857 per Dolar AS, IHSG Naik 0,33 Persen
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Senin (13/7/2026). Nilai tukar rupiah berada di level Rp18.109 per dolar AS pada perdagangan Senin (13/7) sore, rupiah melemah 44 poin atau 0,24 persen dibandingkan dari penutupan sebelumnya di level Rp 18.065 per dolar AS imbas ketegangan geopolitik AS-Iran yang meningkat di Timur Tengah. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pada pembukaan perdagangan Rabu (23/9/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan ke level Rp17.857 per dolar AS.

Posisi rupiah pagi ini naik 27 poin atau 0,15 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.884 per dolar AS, melemah 37 poin atau 0,21 persen.

Penguatan rupiah pada awal perdagangan tersebut terjadi di tengah perhatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, menilai pelemahan rupiah pada perdagangan sebelumnya dipengaruhi oleh antisipasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed.

“Para pelaku pasar saat ini mengantisipasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed dan telah memperhitungkan kemungkinan besar akan adanya kenaikan lagi pada bulan Oktober,” ucapnya dilansir Antara, Selasa(22/9/2026).

Ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS yang lebih ketat berpotensi memberikan dukungan terhadap dolar AS. Ketika suku bunga AS diperkirakan tetap tinggi atau kembali naik, aset-aset berdenominasi dolar dapat menjadi lebih menarik bagi investor sehingga permintaan terhadap dolar berpotensi meningkat.

Kondisi tersebut pada gilirannya dapat memberikan tekanan terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah. Prospek suku bunga AS juga berkaitan dengan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury, yang tetap berada pada level tinggi ketika pasar memperkirakan kebijakan moneter The Fed masih ketat.

Selain mencermati kebijakan suku bunga, pelaku pasar juga menunggu sejumlah indikator ekonomi AS yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian negara tersebut.

Data yang menjadi perhatian antara lain Purchasing Managers' Index (PMI) awal S&P Global serta Survei Sentimen Konsumen University of Michigan (UoM) untuk September.

“Pasar juga akan memantau serangkaian pernyataan dari para pejabat The Fed untuk mendapatkan petunjuk terkini mengenai arah kebijakan di masa mendatang,” tambah Ibrahim.

IHSG Dibuka Menguat ke Level 6.297,95

Pada pembukaan perdagangan Rabu (23/9/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat 20,91 poin atau 0,33 persen ke level 6.297,95. Penguatan juga terjadi pada kelompok saham unggulan yang tercermin dalam Indeks LQ45, yang naik 1,56 poin atau 0,25 persen menjadi 627,17.

Pada perdagangan Selasa (22/9), IHSG ditutup melemah 107,69 poin atau 1,69 persen ke level 6.277,04, LQ45 juga turun 8,68 poin atau 1,37 persen menjadi 625,61.

Penurunan tersebut antara lain dikaitkan dengan potensi rebalancing aliran modal asing di kawasan Asia Tenggara setelah FTSE menaikkan status Vietnam dari frontier market menjadi emerging market.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan bahwa perubahan klasifikasi tersebut berpotensi menarik aliran dana investor asing ke pasar saham Vietnam, sehingga dapat memicu penyesuaian atau pengalihan sebagian portofolio investasi di ASEAN.

"Peningkatan status Vietnam ke dalam FTSE emerging market, secara langsung memicu potensi penataan ulang (rebalancing) aliran modal asing di Asia Tenggara," terangnya.

Pergerakan bursa Asia turut dipengaruhi perkembangan harga minyak mentah dan situasi geopolitik di Timur Tengah. Penurunan harga minyak menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan investor karena harga energi yang lebih rendah dapat membantu meredakan tekanan inflasi.

Selain itu, meningkatnya aktivitas pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia serta adanya perkembangan diplomatik untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah turut menjadi perhatian pasar.

Kondisi tersebut memberikan harapan bahwa pasokan energi dari kawasan tersebut dapat tetap berjalan sehingga risiko gangguan terhadap pasar energi global dapat berkurang.

"Tentunya ini sebuah harapan kemajuan diplomatik untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah," ujar Nico.

Pelaku pasar juga mencermati agenda Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dijadwalkan menyampaikan pidato di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Kemungkinan pertemuan Trump dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela agenda tersebut juga menjadi perhatian karena perkembangan hubungan kedua negara dapat memengaruhi sentimen geopolitik dan pasar energi global.

Investor masih melihat perkembangan tersebut sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi persepsi terhadap risiko di pasar keuangan.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra