tirto.id - Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,0 persen dalam rapat FOMC September 2026. Langkah ini diambil karena inflasi AS masih tinggi, meski pertumbuhan ekonominya tetap solid.
Kenaikan suku bunga ini berdampak pada likuiditas dan minat investor terhadap aset berisiko seperti kripto. Kebijakan moneter yang ketat mempertinggi biaya pendanaan, sementara ekspektasi kebijakan yang lebih longgar biasanya mendorong minat investasi.
Selain keputusan suku bunga, pasar mencermati proyeksi median federal funds rate akhir 2026 sebesar 4,1 persen dan inflasi PCE di level 3,7 persen. Karena kenaikan 25 basis poin ini sudah diantisipasi, perhatian investor kini tertuju pada arah kebijakan The Fed selanjutnya.
Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, menuturkan perkembangan kebijakan moneter dapat memengaruhi sentimen pasar karena pelaku pasar tidak hanya mencermati keputusan suku bunga saat ini, tetapi juga arah kebijakan berikutnya.
"Hasil FOMC September menunjukkan bahwa perkembangan inflasi masih menjadi salah satu pertimbangan penting dalam arah kebijakan moneter The Fed. Bagi pasar kripto, keputusan suku bunga dan ekspektasi terhadap kebijakan berikutnya dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen serta volatilitas pasar," ujar Ryan.
Meski ada pengetatan moneter, harga kripto utama justru menguat pada Jumat (18/9/2026) pagi. Bitcoin naik 0,42 persen dalam 24 jam terakhir ke posisi 76.698 dolar AS per koin. Pada periode yang sama, Ethereum juga menguat 1,24 persen menjadi 2.456 dolar AS.
Pergerakan ini menunjukkan pasar merespons beragam faktor makroekonomi, mulai dari angka inflasi, kondisi likuiditas, hingga komunikasi publik The Fed.
"Pergerakan harga aset kripto tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor. Karena itu, memahami perkembangan ekonomi makro dan potensi volatilitas menjadi bagian penting dalam aktivitas perdagangan aset digital," kata Ryan.
Dinamika fluktuasi harga ini membuat instrumen turunan seperti perdagangan futures tetap menjadi opsi bagi pelaku pasar untuk mengambil posisi Long atau Short. Namun, penggunaan leverage pada perdagangan berjangka memiliki risiko kerugian yang sebanding dengan potensi keuntungannya.
"Setiap produk memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda. Bagi pengguna yang mempertimbangkan perdagangan Futures, penting untuk memahami mekanisme Long dan Short, penggunaan leverage, serta risiko yang menyertainya," ucapnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id







































