tirto.id - Gelombang panas El Nino yang tengah melanda sejak pertengahan tahun 2026 ini disebut berisiko berdampak pada 450.000 kematian di seluruh dunia. Proyeksi tersebut dilaporkan dalam sebuah penelitian yang dirilis universitas di Amerika Serikat (AS) belakangan ini.
Seturut Al Jazeera, Climate Impact Lab Universitas Chicago merilis proyeksi dampak El Nino tersebut pada Rabu (23/9/2026). Studi dari laboratorium ini mengungkapkan, proyeksi angka kematian terkait suhu panas El Nino tahun ini di dunia dapat mencapai 450.000 jiwa.
Para peneliti laboratorium itu memperkirakan El Nino tahun ini berpotensi membuat suhu daratan meningkat sekitar 1,2 derajat celsius. Kenaikan suhu ini akan disertai dengan peningkatan jumlah hari sangat panas mencapai 44 persen lebih sering daripada rerata tahunan.
Penelitian itu turut menampilkan daftar negara dengan potensi dampak terparah berdasarkan proyeksi angka korban jiwa terkait El Nino tahun ini. Indonesia masuk di peringkat kedua sedunia dengan proyeksi angka kematian mencapai 31.400 jiwa. Proyeksi itu di atas Sudan di peringkat ketiga dengan 17.600 jiwa dan hanya setingkat di bawah Nigeria dengan 66.800 jiwa.
Negara-negara berkembang mendominasi daftar tersebut. Sejumlah negara macam Filipina, Vietnam, Thailand, Kamboja hingga India termasuk dalam daftar negara dengan proyeksi angka kematian terkait El Nino cukup tinggi.
Sementara itu, berdasarkan letak geografisnya, kawasan Sahel di Afrika diperkirakan jadi kawasan dengan potensi dampak terparah. Sahel merupakan kawasan zona transisi Gurun Sahara yang mencakup sejumlah negara, termasuk Senegal, Mauritania, Mali, Burkina Faso, Nigeria, Sudan hingga Eritrea.
Michael Greenstone, salah satu peneliti yang turut serta dalam penelitian, menyebut temuan pihaknya menunjukkan besarnya ancaman dampak El Nino dipengaruhi oleh iklim masing-masing wilayah. Ancaman menjadi besar pada wilayah-wilayah yang dikenal dengan iklim panas.
“Jika Anda sudah berada di tempat yang panas, beberapa derajat tambahan akan membuatnya jauh lebih berbahaya,” kata Greenstone.
Situasi Ekonomi Negera Mempengaruhi Dampak
Potensi dampak juga dipengaruhi oleh situasi ekonomi suatu negara. Makin lemah kondisi ekonomi negara tersebut, dampak yang mungkin ditimbulkan El Nino juga meningkat.
Pada negara dengan tingkat ekonomi yang relatif lebih lemah, akses mitigasi lebih terbatas. Hal ini, kata Greenstone, berbeda dari negara lebih kaya, mereka cenderung memiliki akses yang lebih baik ke pendingin udara, pasokan air yang stabil, dan layanan kesehatan.
Greenstone memperingatkan bahwa dampak yang ditimbulkan oleh El Nino berpotensi berlangsung lebih lama daripada fenomena alam itu sendiri. Dengan kata lain, dampak turunan akibat El Nino mungkin masih dapat dirasakan kendati kondisi cuaca dan iklim telah kembali normal.
Pada awal September lalu, badan cuaca PBB melaporkan tingkat kemungkinan El Nino berlanjut hingga Februari 2027 mencapai 100 persen. Sementara itu, sejumlah ilmuwan, termasuk Greenstone, memperingatkan bahaya turunan yang ditimbulkan El Nino berpotensi berlanjut hingga pertengahan 2027.
Abhiyant Tiwari, ahli bidang iklim dari NRDC India, menyebut peringatan para ilmuwan iniseharusnya dapat mendorong tindakan pencegahan. Dalam keterangannya untuk AP, ia menyebut sektor pendanaan dan pelaksanaan mitigasi dampak El Nino masih jadi titik lemah di banyak negara.
“Ukuran sebenarnya dari kesiapan kita bukanlah berapa banyak peringatan panas yang kita keluarkan, tetapi seberapa efektif kita melindungi orang dan mengurangi kematian yang dapat dicegah,” katanya.
Sementara itu, El Nino tahun ini menurut para ilmuwan menjadi salah satu yang paling kuat yang pernah ada. Para peneliti menduga , tahun ini, fenomena tahunan Bumi tersebut turut menguat karena krisis iklim.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































