tirto.id - Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini sedang mengalami kondisi darurat akibat krisis tenaga medis di tingkat daerah. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, ketimpangan jumlah dokter masih menjadi kendala utama penguatan fasilitas kesehatan, terutama di wilayah Indonesia Timur dan wilayah yang jauh dari ibu kota provinsi.
Prabowo memaparkan, sebagian besar Puskesmas di Indonesia dilaporkan belum memiliki 13 jenis tenaga kesehatan secara lengkap. Kondisi tersebut tecermin dari tingginya angka kekurangan tenaga medis di berbagai wilayah.
Ia menyebut bahwa 434 kabupaten/kota dicatat masih kekurangan 94.781 dokter umum, sementara 505 kabupaten/kota membutuhkan tambahan 127.568 dokter gigi.
Tak hanya itu, krisis dokter spesialis juga membayangi 461 kabupaten/kota yang masih membutuhkan hingga 55.712 tenaga dokter spesialis untuk mengoptimalkan pelayanan bagi masyarakat.
"Untuk memperkuat pelayanan kesehatan kita, kita harus menghadapi dan menyelesaikan masalah kekurangan dokter umum dan dokter spesialis kita," ujar Prabowo dalam Pidato Kenegaraan di Sidang Tahunan MPR, Jumat (14/8/2026).
Langkah Konkret: Buka Prodi Spesialis di 11 Provinsi
Sebagai solusi nyata atas persoalan krisis tersebut, Presiden Prabowo membeberkan bahwa pemerintah dalam 21 bulan terakhir telah bergerak cepat membuka sembilan fakultas kedokteran baru. Selain itu, pemerintah juga mendirikan 130 program studi spesialis dan subspesialis baru di tanah air.
Gebrakan ini difokuskan untuk meratakan sebaran tenaga medis terampil agar tidak hanya menumpuk di kota-kota besar saja.
“Kita menghendaki program studi spesialis untuk pertama kali di 11 provinsi untuk mengejar kebutuhan dokter umum, dokter gigi, dan dokter spesialis kita,” tuturnya.
Tak hanya itu, Prabowo terus memprioritaskan penguatan sektor kesehatan sebagai fondasi utama pencegahan penyakit sebelum warga jatuh sakit berat.
Dalam pidatonya Prabowo mengatakan pentingnya komitmen negara dalam menjaga kesehatan rakyat, salah satunya melalui perluasan cakupan program pemeriksaan kesehatan gratis serta percepatan pemenuhan tenaga medis di seluruh pelosok negeri.
Jangkau 108 Juta Warga Lewat Cek Kesehatan Gratis
Sejak pertama kali diluncurkan pada Februari 2025, program cek kesehatan gratis tercatat telah menjangkau lebih dari 108 juta warga. Layanan pemeriksaan pencegahan ini kini sudah dapat diakses di 10.286 Puskesmas yang tersebar di 38 provinsi.
Ia menyampaikan bahwa antusiasme masyarakat cukup tinggi, dengan capaian 70,3 juta peserta pada tahun 2025 dan terus bertambah hingga pertengahan tahun 2026. Meski demikian, pemerintah mengakui masih ada tantangan berupa kekhawatiran sebagian masyarakat untuk melakukan pemeriksaan awal.
"Negara harus menjaga kesehatan rakyat sebelum mereka sakit berat," ujar ucapnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id































