Menuju konten utama

Menkes Ungkap Pemicu Lambatnya Produksi Dokter Spesialis di RI

Melambatnya produksi dokter spesialis di Indonesia disebabkan oleh sistem pendidikan yang unik dibandingkan negara lain.

Menkes Ungkap Pemicu Lambatnya Produksi Dokter Spesialis di RI
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (tengah) didampingi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Abdullah Azwar Anas (kiri) dan Wakil Menteri Hukum dan HAM Edward Omar Sharif Hiariej (kanan) menyampaikan tanggapan pemerintah terhadap pandangan mini fraksi atas Rancangan Undang-Undang (RUU) Kesehatan di kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (19/6/23). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, mengatakan lambatnya produksi dokter spesialis di Indonesia disebabkan oleh sistem pendidikan yang unik dibandingkan negara lain. Pasalnya, di Indonesia pendidikan spesialis justru menjadi pendidikan akademik, bukan profesi.

“Jadi, kekurangan dokter spesialis itu banyak sekali dan kita harus ngisi, sekarang bagaimana cara kita mengisinya, sesudah kita amati, salah satu masalah kenapa pengisiannya lambat adalah karena memang metode menciptakan dokter spesialis ini kita unik sendiri,” kata Budi, saat rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (29/4/2025).

Dia mencontohkan Inggris yang penduduknya lebih sedikit dari Indonesia tetapi mampu mencetak sekitar 6.000 dokter spesialis per tahun. Sementara itu, negara ini hanya mampu menghasilkan sekitar 2.700 dokter spesialis setiap tahunnya.

Fenomena ini menurut Budi terjadi juga karena karena sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia membuat calon dokter spesialis harus berhenti bekerja, membayar uang pangkal hingga ratusan juta rupiah, dan dilarang mencari penghasilan selama masa pendidikan. Terlebih, saat lulus tetap harus melamar kembali.

“Nah, konsep ini di Indonesia unik, satu-satunya di dunia. Kalau di dunia lain, dia menjadi spesialis dia mencari RS yang bisa keahlian spesialis yang dia inginkan, dan bekerja di sana, dapat gaji, setelah lulus dia bekerja sebagau spesialis. Jadi, konsep ini yang bikin berbeda,” terang Budi.

Oleh karena itu, Budi mengatakan bahwa pemerintah sedang dalam proses menyiapkan sistem baru dalam pendidikan spesialis. kata dia, jalur lama yang sudah ada tidak serta-merta dihapus.

“Memang karena Indonesia dulu sudah ada, yang berbeda sendiri. Nah, itu keputusan kita waktu itu ini tidak ditutup. Biarkan ini jalan, tetapi yang standar dunia ini juga ingin kita jalankan. Ini yang memang mash dalam proses. Dengan ada cara yang baru ini, yang lama, kan, jadi merasa bagaimana, ada dua jalan yang berbeda,” tutup Budi.

Baca juga artikel terkait KRISIS DOKTER SPESIALIS atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama